Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Mahasiswa UI Ciptakan Alat Bantu Baca Penyandang Tunanetra

Bambang Arifianto

DEPOK, (PR).- Tiga mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Indonesia menciptakan alat bantu membaca buku bagi penyandang tunanetra yang diberi nama SMART-BLIND. Alat tersebut bekerja dengan cara mengonversi gambar dari media cetak menjadi teks dan suara. 

Ketiga mahasiswa adalah Maulana Bisyir Azhari, Gibran Muhammad Fajar Wisesa dan Nikolas Jalu Padma Iswara. Mereka membuat SMART-BLIND di bawah bimbingan Dosen Teknik Elektro UI Dr Ir Purnomo Sidi Priambodo, M.Sc. Dengan SMART-BLIND, para penyandang tunanetra dapat langsung memencet tombol dan menggerakkan alat ke atas media cetak yang dikehendaki. Dalam hitungan beberapa menit, alat itu bakal memproses gambar yang berisi tulisan menjadi suara sehingga mudah diterima penyandang tunanetra. Prangkat tersebut memiliki keunggulan efisien, nyaman dan mudah digunakan.

"Ada beberapa hal yang menghambat penyampaian informasi bagi penyandang tunanetra. Salah satunya adalah sulitnya mendapatkan informasi yang cepat dari sumber media cetak, solusi yang ada saat ini hanya hanyalah dengan mengonversi tulisan ke dalam hurup braille," kata Ketua Tim SMART-BLIND Maulana dalam keterangan tertulisnya, Senin 13 Agustus 2018. Atas persoalan tersebut, ketiga mahasiswa itu berinisiatif membantu para penyandang tunanetra. 

Iqbal selaku ketua tim mengatakan, ‎ penggunaan penginderaan jauh sangat efektif karena data dapat diperoleh secara gratis dan pengolahan datanya sangat cepat.  Lebih jauh, penelitian itu diharapkan mampu menjadi jawaban atas permasalahan menurunnya cadangan terbukti migas di Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit penginderaan jauh yaitu Landsat 8 dan Sentinel 2 menunjukan adanya indikasi fenomena rembesan mikrohidrokarbon yang berkolerasi dengan data prospek migas yang dimiliki Pertamina-Talisman Jambi Merang. Sebanyak  64,4% luas wilayah rembesan mikro hidrokarbon hasil pengolahan citra Landsat 8 dan 78,6% luas wilayah rembesan mikro hidrokarbon hasil pengolahan citra Sentinel 2 berkolerasi dengan data migas tersebut.

Berdasarkan proyeksi data Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM), cadangan migas terbukti di Indonesia terus menurun. Hal tersebut menciptakan kondisi kelangkaan energi migas. Disisi lain, metode eksplorasi konvensional yang digunakan pun terbukti mahal dan berisiko. Untuk itu inovasi dalam eksplorasi perlu dilakukan.***

Bagikan: