Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22.6 ° C

Puncak Peringatan Harteknas 2018: SDM Jadi Kunci Keberhasilan Transformasi Teknologi

Catur Ratna Wulandari
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir pada puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-23 yang berlangsung di Komplek Gubernuran Provinsi Riau, Pekanbaru, Jumat, 10 Agustus 2018. Hadir sebagai tamu kehormatan Presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie yang juga dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia.*
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir pada puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-23 yang berlangsung di Komplek Gubernuran Provinsi Riau, Pekanbaru, Jumat, 10 Agustus 2018. Hadir sebagai tamu kehormatan Presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie yang juga dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia.*

PEKANBARU, (PR).- Keberhasilan transformasi struktur ekonomi Indonesia yang berpola agraris menuju berteknologi tinggi bergantung pada kemampuan sumber daya manusia menguasai teknologi. Peneliti dan perekayasa perlu memfokuskan upayanya menunjang transformasi ini.

Hal itu disampaikan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir pada puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-23 yang berlangsung di Komplek Gubernuran Provinsi Riau, Pekanbaru, Jumat, 10 Agustus 2018. Hadir sebagai tamu kehormatan Presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie yang juga dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia. 

Untuk kali pertama uncak peringatan Harteknas digelar di Sumatera dengan tema Inovasi Sektor Pangan dan Energi di Era Revolusi Industri 4.0. Pemilihan Riau sebagai tuan rumah sesuai dengan predikat Riau sebagai salah satu lumbung energi nasional dan penyangga utama kebutuhan pangan di Pulau Sumatera. 

"Untuk menata proses transformasi struktur ekonomi kita ke arah industri berteknologi tinggi hingga mencapai creative innovation maka kunci utamanya adalah berinovasi," Nasir melalui siaran persnya.

Nasir menambahkan, sebagaimana negara-negara maju di dunia yang menata ekosistem inovasinya melalui visi perencanaan yang futuristik, strategi perekeyasaan, serta riset dan pengembangan yang terfokus. "Oleh karena itu keberadaan Perpres Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) menjadi sangat strategis karena RIRN dirancang secara holistik, lintas institusi, lintas ranah dan berdasarkan fokus riset," tuturnya.

RIRN merupakan pedoman dan peta jalan riset dan pengembangan iptek dan inovasi jangka menengah dan panjang yang mengintegrasikan program riset setiap kementerian dan lembaga, pemerintah daerah dan masyarakat atau komunitas peneliti. 

Menurut Nasir, pemanfaatan Iptek dan inovasi bagi masyarakat, khususnya pelaku ekonomi dan industri, masih belum optimal. Untuk itu, pemerintah terus mendorong sinergi antar institusi iptek dan pelaku industri, sehingga iptek dan inovasi memberikan kontribusi maksimal. 

"Juga harus dibenahi adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sebagai faktor kunci keberhasilan pendidikan, penelitian dan pengembangan iptek dan inovasi," ucapnya.

Nasir menyebut, anggaran riset belum berdampak besar untuk kemajuan bangsa. Sebab dari anggaran Rp 24,9 triliun ternyata hanya Rp 10,9 triliun yang menghasilkan riset dan pengembangan.

"Lebih dari setengahnya yakni Rp14 triliun belum menghasilkan output riset yang maksimal. Itulah sebabnya Bapak Presiden menekankan bahwa anggaran risetnya tidak boleh lagi diecer," katanya. 

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman sebagai tuan rumah dalam sambutannya menyampaikan penerapan inovasi di Provinsi Riau telah memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Riau. Hal ini dapat dilihat pada angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang telah mengalami peningkatan pada tahun 2017 dan menempati posisi ke-6 di Indonesia. Selain itu angka penduduk miskin di Provinsi Riau pun menurun dari 8,82% di tahun 2016 menjadi 7,41% di tahun 2017.

Gubernur berharap melalui peringatan Hakteknas kali ini menjadi momentum bangkitnya iptek dan penguasaa teknologi sebagai pilar pembangunan bangsa sehingga Indonesia bisa berdaya saing global. 

Sementara itu, sehari sebelumnya BJ Habibie bebicara di Kegiatan Ilmiah Nasional dan Internasional yang juga diselenggarakan di Pekanbaru. Ia mengatakan, mengatakan riset dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dan lembaga litbang harus sesuai dengan kebutuhan industri. 

Menurut Habibie, kemampuan anak bangsa dalam penguasaan teknologi sebenarnya telah dibuktikan dengan keberhasilan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkaca produksi di IPTN Bandung pada tanggal 10 Agustus 1995.

"N-250 adalah hadiah saya untuk ulang tahun Indonesia yang ke-50 waktu itu. Anak muda Indonesia sekarang harus lebih hebat dari Habibie, karena segala fasilitas untuk berinovasi saat ini sangat lengkap," tuturnya. 

Habibie menaruh harapannya pada pemuda Indonesia untuk bersama-sama membangun Indonesia. "Kita konsolidasi, lebih kerja sama, bekerja sebagai satu tim, dari Sabang sampai Merauke. Kita arahkan kepada kebutuhan rakyat. Itu akan berkembang jikalau kita mengembangkan dasar-dasar pemikiran dari ekonomi pasar Pancasila," katanya.

Penghargaan



Pada Harteknas 2018 ini, Menristekdikti memberi penghargaan kepada pemenang Anugerah Iptek dan Inovasi 2018 untuk 8 kategori. Para penerima penghargaan itu:

1. Anugerah Budhipura, untuk mengapresiasi prestasi Pemerintah Daerah Provinsi atas penguatan Sistem Inovasi Daerah, diberikan kepada: Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 

2.Anugerah Budhipraja, untuk mengapresiasi prestasi Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota dalam penguatan Sistem Inovasi Daerah, dengan penerima: Pemerintah Kota Magelang 

3.Anugerah Widyapadhi, untuk mengapresiasi prestasi Perguruan Tinggi dalam membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: Institut Pertanian Bogor (IPB) 

4.Anugerah Prayoga Sala, untuk mengapresiasi prestasi Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Pusat Unggulan Iptek dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan dalam membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: Pusat Sains Teknologi Atmosfer, LAPAN 

5.Anugerah Abyudaya, untuk mengapresiasi prestasi industri dalam pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dan membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: PT. Industri Kereta Api (PT.INKA) 

6.Anugerah Adibrata, untuk mengapresiasi prestasi masyarakat ilmiah dalam menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: Prof. Dr. Ir. Subagjo (ITB) 

7.Anugerah Labdha Kretya, untuk mengapresiasi prestasi masyarakat umum dalam menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: D. Rubiyanto Hadi Pramono 

8.Anugerah Widya Kridha, untuk mengapresiasi prestasi lembaga non-pemerintah dan kelompok masyarakat atas dukungannya dalam mendorong penguatan sistem inovasi, dengan penerima: Cikarang Techno Park. ***

Bagikan: