Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Umumnya berawan, 27.7 ° C

Mahasiswa Harus Mau Pelajari Big Data

Dhita Seftiawan

JAKARTA, (PR).- Kurikulum pendidikan tinggi harus mulai mendorong mahasiswa untuk mempelajari "big data analytics". Pasalnya, di tengah pesatnya kemajuan teknologi, mahasiswa dituntut memiliki kreativitas (soft skill) dan akrab dengan perangkat digital. Dengan mempelajari dan memahami fungsi big data, lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi individu yang unggul dan relevan dengan dunia usaha dan industri.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, dunia usaha dan industri masa depan akan sangat mengandalkan kecanggihan teknologi, analisa data besar dan inovasi. Menurut dia, selain mempelajari big data, mahasiswa juga harus semakin terlatih berpikir kritis. Termasuk punya jiwa usaha dan mahir mengolah data dari berbagai sumber tepercaya.

“Perguruan tingi Indonesia harus mengadaptasi tren pengembangan kurikulum seperti critical thinking abilities, big data analytics, digital distruption and digital media, innovation, creativity and entrepeneurship, artifical intellegence and machine learning, yang berfokus pada industri secara umum, serta pengembangan e-commerce dan fintech,” kata Nasir di Jakarta, Sabtu, 4 Agustus 2018.

Ia mengatakan, kurikulum yang relevan menjadi salah satu fondasi untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang maju. Dengan status sebagai negara berpenduduk ke-4 terbanyak di dunia, SDM Indonesia jangan sampai terus tertinggal dari negara maju. 

"Kecakapan soft skill seperti kerja sama, komunikasi, etika dalam bekerja, penampilan, empati, dan kecerdasan emosional itu penting untuk kesuksesan karir atau bisnis dibandingkan hasil akademik. Pembangunan sumber daya manusia memang masih menjadi tantangan bagi pemerintah,” ujarnya.

Nasir menegaskan, program studi ekonomi dan bisnis mempunyai peran penting untuk menyiapkan dan menguatkan kompetensi lulusan untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Program studi tersebut harus menjadi yang terdepan dalam menerapkan kurikulum yang sesuai dengan era revolusi industri 4.0. “Kita tidak bisa menyiapkan lulusan dengan sistem atau metode lama,” ucapnya.

Jika terbiasa dengan big data, maka mahasiswa dan dosen akan terdorong untuk mempelajari literasi baru seperti literasi teknologi dan literasi manusia. Kendati akan ada kendala yang dihadapi nantinya, Nasir meyakinkan bahwa literasi baru ini akan membuat seseorang kompetitif di era ekonomi baru yang berbasis teknologi.

“Industri sebenarnya banyak membutuhkan tenaga kerja. Namun skill yang mereka butuhkan tidak sesuai dengan yang selama ini diberikan oleh sistem pendidikan tinggi kita. Maka kita lakukan pembenahan kurikulum pembelajaran baik untuk akademik maupun politeknik,” ujar Nasir.

Relevansi Riset



Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na'im menambahkan, pengembangan iptek tidak akan optimal tanpa keterlibatan masyarakat. Terutama dari kalangan sivitas akademika perguruan tinggi. Menurut dia, hilirisasi hasil riset, inovasi dan iptek belum terserap maksimal oleh dunia usaha dan industri. 

Pasalnya, hasil riset kerap tak relevan dengan kebutuhan pengusaha. “Proses komersialisasi sebuah inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi produk yang bermutu bukan hal mudah. Diperlukan berbagai kebijakan dan program serta dukungan publik guna mencapai hal tersebut,” kata Ainun.

Ia menyebutkan, Kemenristekdikti sudah mengeluarkan berbagai regulasi dan mengimplementasikan program penguatan sumber daya manusia. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong badan penelitian dan pengembangan (Balitbang) dan para peneliti untuk meningkatkan output kinerjanya. “Di antaranya regulasi Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) Perpres Nomor 38/2017, Permenristekdikti Nomor 20/2017 dan seterusnya,” ucapnya.***

Bagikan: