Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 24.9 ° C

Banyak Sekolah Rusak Akibat Gempa Lombok, Pembelajaran Dilangsungkan di Tenda Darurat

Dhita Seftiawan
WARGA berada di rumahnya yang rubuh akibat gempa di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Selong, Lombok Timur, NTB, Minggu 29 Juli 2018. Gempa bumi 6,4 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA. Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, gempa mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, 12 warga luka-luka, puluhan rumah dan bangunan lainnya rusak.*
WARGA berada di rumahnya yang rubuh akibat gempa di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Selong, Lombok Timur, NTB, Minggu 29 Juli 2018. Gempa bumi 6,4 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA. Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, gempa mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, 12 warga luka-luka, puluhan rumah dan bangunan lainnya rusak.*

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menurunkan tim untuk memeriksa kondisi satuan pendidikan terdampak gempa 6,4 skala richter di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD dan Dikmas), tim akan mendata dan memastikan pembelajaran dapat berlangsung baik meskipun menggunakan fasilitas tenda darurat. 



Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, pemetaan sangat penting karena berkaitan dengan rencana pemberian bantuan. Menurut dia, kerusakan infrastruktur bangunan sekolah jangan sampai terlalu mengganggu kegiatan belajar mengajar. "Kami menyiapkan tenda untuk menjadi ruang kelas dan perlengkapan sekolah agar pembelajaran dapat berjalan. Dan untuk sekolah yang rusak akan segera dilakukan rehabilitasi atau revitalisasi dengan membangun gedung sekolah baru. Intinya jangan sampai kerusakan mengganggu proses pembelajaran siswa," ucap Muhadjir melalui siaran pers di Jakarta, Senin 30 Juli 2018.



Muhadjir memantau langsung kondisi pascagempa di Sumbawa Besar. Ia mengatakan, satuan pendidikan diimbau untuk menggalan bantuan melalui gerakan solidaritas agar meringankan beban para korban. Dari laporan tim LPMP, sekolah terdampak gempa per 30 Juli 2018 terdapat di desa Belanting dan desa Obel-obel, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Atap SDN 1 Obel-obel rusak parah. Sementara sebagian besar ruangan kelas SDN 3 Obel-obel runtuh. 





SDN 5 Blantingbaetelah mengalami kerusakan berupa atap dan tembok yang roboh. SMPN 2 Sambelia, mengalami kerusakan berupa runtuhnya atap kelas, kemudian sebagian pagar dan tembok roboh. Bangunan PAUD Giat Dusun Medas, Baitussahid, Al Islah desa Obel-obel mengalami rusak sedang dengan kondisi tembok retak dan atap runtuh. 



Sampai saat ini belum dilaporkan adanya korban jiwa atau luka dari pelaku pendidikan di kawasan terdampak gempa. "Info sementara kami dapatkan dari LPMP dan BP PAUD Dikmas provinsi NTB. Nanti akan kami sampaikan perkembangan penanganan. Saat ini tim Kemendikbud, dari LPMP dan BP PAUD DIkmas, dan Direktorat PKLK (Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus) sedang bekerja bersama dinas pendidikan setempat untuk memastikan penanganan pascagempa dapat berjalan baik," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad.

Gempa susulan



Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 124 kali gempa susulan hingga pukul 14.00 WIB Minggu 29 Juli 2018  "Gempanya dengan kekuatan yang lebih kecil dan tidak berpotensi tsunami," kata Kepala Pusat data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.



Data sementara berdasarkan laporan BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat, tercatat 14 orang meninggal dunia.  Sebanyak 162 jiwa luka-luka dan ribuan unit rumah rusak. Dampak terparah dari gempa terdapat di Kabupaten Lombok Timur. Di Kabupaten Lombok Timur terdapat 10 orang meninggal dunia.  Sebanyak 67 orang luka berat, dan ratusan jiwa luka sedang dan luka ringan. Kerusakan rumah mencapai lebih dari 1.000 unit rumah baik rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan. "Pendataan masih dilakukan," ujar Sutopo.



Menurut dia, kebutugan mendesak saat ini adalah tenaga medis, tandu, peralatan kesehatan, kids ware dan makanan siap saji. BPBD dan beberapa instansi lain telah menyalurkan bantuan permakanan, air mineral, tenda pengungsi, makanan lauk pauk, makanan tambahan gizi dan lainnya. Mobilisasi peralatan dan logistik terus dilakukan. BNPB terus mendampingi BPBD dan mengirimkan bantuan yang diperlukan. Logistik dan peralatan yang ada di gudang BPBD disalurkan untuk membantu korban.***

Bagikan: