Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22.8 ° C

7.300 Jurnal Ditarget Masuk Publikasi Internasional

Dhita Seftiawan

Jakarta, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menargetkan minimal 7.300 jurnal masuk dalam publikasi internasional bereputasi. Jumlah tersebut sekitar 15% dari total 51.000 jurnal yang sudah terdaftar di dalam Science and Technology Index (Sinta). Sinta merupakan pengindeks jurnal yang dihasilkan para peneliti Indonesia dan dikelola Kemenristekdikti.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati menuturkan, terget tersebut untuk menyambut revolusi industri 4.0. Ia menegaskan, para ilmuwan Indonesia harus meningkatkan kuantitas dan kualitas riset. Hasil riset harus dipublikasikan atau dikomunikasikan melalui jurnal bereputasi.

Dimyati menjelaskan, Sinta memiliki 6 grade akreditasi jurnal, mulai dari Sinta 1 sampai dengan Sinta 6. “Sinta 1 itu merupakan jurnal yang terindeks scopus, sedangkan Sinta 2 dan seterusnya berupaya untuk meningkatkan perbaikan kualitasnya. Tahun 2019 kami menargetkan ada 7.300 yang terakreditasi bisa meningkat lebih baik lagi,” ujar Dimyati di Jakarta, Rabu 18 Juli 2018.

Ia mengatakan, untuk mencapat target tersebut, Kemenristekdikti membangun kerja sama dengan para peneliti dari sejumlah negara maju. Hal tersebut dilakukan agar para profesor kelas dunia bisa melakukan riset bersama dengan para peneliti lokal. Dimyati berharap Sinta dapat menjadi rujukan para peneliti dan dosen di seluruh dunia.

“Pemerintah sekarang sudah lebih serius dalam mendukung pengelolaan jurnal yang lebih professional, salah satu penandanya dengan dikeluarkannya Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018 yang pada intinya menyatukan pengakreditasi jurnal yang tadinya dua pintu menjadi satu pintu,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pemerintah akan memberikan insentif kepada pengelola jurnal untuk meningkatkan kualitas jurnalnya menjadi lebih baik. Kemenristekdikti juga selalu menginformasikan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk memperhatikan kesejahteraan pengelola jurnal dan juga sarana dan prasarana pendukungnya.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria mengatakan, IPB memiliki komitmen tinggi untuk mendukung spirit tersebut. “Insya Allah IPB commited terus mendorong kualitas jurnal dan juga memperhatikan para pengelola jurnal,” katanya.

Inovasi teknologi



Menristekdikti Mohamad Nasir dalan beberapa kesempatan menegaskan, dalam menghadapi revolusi industri 4.0, selaih kuantitas riset, ilmuwan juga harus menciptakan inovasi teknologi yang relevan dengan dunia usaha dan industri. Dengan demikian, inovasi riset tersebut dapat dihilirisasi dan dikomersialisasi sehingga memiliki nilai tambah.

Nasir mengatakan, hanya riset berbasis output yang dapat memberikan solusi atas permasalahan bangsa saat ini dan masa mendatang.

“Maka secara praktis harus terus kami dorong. Para peneliti dan akademisi harus menghasilkan jurnal ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Tapi jangan cepat puas dengan publikasi, inovasi harus didorong menjadi output,” kata Nasir.

Ia menuturkan, dari segi penelitian, Indonesia sudah mampu bersaing dengan Singapura dan Malaysia. Bahkan, sudah mengunguli Thailand. Menurut dia, per Juli 2018, jumlah riset ilmiah Indonesia mencapai 5.400 publikasi internasional. “Saya optimistis pada akhir tahun jumlah publikasi internasional kita akan melampaui Singapura dan Malaysia. Kita akan jadi negara paling unggul (dalam jumlah riset) di ASEAN,” ucapnya.***

Bagikan: