Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Kemenristekdikti Cabut 20 Regulasi demi Hadapi Disrupsi Teknologi

Dhita Seftiawan

JAKARTA, (PR).- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengungkapkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia harus adaptif dan fleksibel agar relevan dengan tantangan Revolusi Industri 4.0.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Kemenristekdikti melakukan penyederhanaan regulasi dengan mencabut kebijakan yang dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman.

"Kami sudah mencabut lebih dari 20 Permen (Peraturan Menteri) yang sudah tidak relevan. Kurikulum kita harus ada penyesuian menghadapi revolusi industri 4.0 dan ‘distruptive innovation’. Para dosen dan pimpinan harus tahu tentang perubahan perubahan ini, saya harus sampaikan kebijakan Kemenristekdikti,” katanya.

“Ada yang  sudah tahu, ada yang belum, oleh karena itu harus ada penyeragaman informasi tentang perubahan perubahan tersebut," ujar Mohamad Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Selasa 5 Juni 2018.

Ia menuturkan, selain penyederhanaan regulasi, penyesuaian sistem pembelajaran berbasis teknologi juga harus mulai dibangun secara masif. Menurut dia, Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan online learning merupakan program yang strategis dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan  meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Indonesia yang saat ini masih di angka 31,5%.

"Perkuliahan yang selama ini face to face di kelas, jumlah mahasiswa yang diajar hanya sedikit, tapi dengan digitalisasi, bisa lebih luas. Rakyat dari pelosok negeri seperti di luar Jawa dan Indonesia Timur juga ingin mendapatkan pembelajaran yang baik. Dengan digitalisasi, ini sangat mungkin," ujarnya.

Sebelumnya, Kemenristekdikti mendorong 90 perguruan tinggi negeri untuk mulai menyiapkan sistem PJJ. Dari jumlah tersebut, baru 51 PTN yang sudah dan siap menggelar model perkuliahan berbasis daring di antaranya Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Terbuka.

Mohamad Nasir menegaskan, pendidikan tinggi di Indonesia harus melakukan perubahan yang bertujuan mengantisipasi perkembangan ekonomi dunia yang begitu cepat.

Disrupsi teknologi



Menurut dia, datangnya disrupsi teknologi hanya bisa dihadapi dengan melakukan perubahan sistem pendidikan yang sesuai zaman.

”Tampaknya kita tidak bisa menunggu lagi, kita harus melakukan perubahan. Perubahan itu harus kita lakukan pada ‘disruptive technology era’, dan kita bisa memanfaatkan peluang yang baik. Negara lain sudah menggembangkan ekonomi kelas dunia, di sinilah peran pendidikan tinggi di Indonesia agar dapat mengisi pembangunan yang ada di negeri ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, pembelajaran jarak jauh harus tetap memperhatikan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Kemenristekdikti mengawasi dengan ketat penyelenggaraan pendidikan jarak jauh mulai dari pengelolaan sistem, digelarnya sistem pendidikan tersebut, sistem pemberian tugas, serta sistem penjaminan mutu yang merupakan bentuk dari ‘cyber university’.

"Saya memberikan mandat kepada UT untuk memberi masukan dan mendukung seluruh perguruan tinggi negwri dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh tersebut, sesuai dengan kapasitas dan fasilitas yang dimiliki UT," kata Nasir.

Menurut dia, PJJ akan sangat mengandalkan pemanfaatan teknologi dan dukungan infrastruktur jaringan internet yang baik. Mohamad Nasir telah meminta dukungan dari PT. Telkom untuk meningkatkan jaringan internet di semua wilayah, terutama untuk perguruan tinggi wilayah Papua, dan Papua Barat agar tidak tertinggal dari perguruan tinggi di pulau Jawa.

Ia mengatakan, semua perguruan tinggi terus didorong untuk merintis model kuliah nontatap muka. Pasalnya, hal tersebut menjadi satu dari beberapa konsep pengembangan cyber university yang dipersiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Ia menuturkan, pendidikan jarak jauh akan diperkuat dengan payung hukum.

Pemerintah juga akan membentuk lembaga penjaminan mutu khusus untuk memastikan model pendidikan jarak jauh tetap berkualitas. Ia berharap, pendidikan jarak jauh dapat berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu perguruan tinggi dalam menghadapi persaingan secara global.***

Bagikan: