Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 22 ° C

Ilmuwan Muslim Harus Aktif Membangun Sains

Universitas Islam Negeri Bandung terus memperbaiki kurikulum. Pada akhirnya, pendidikan yang diterima mahasiswa mencapai derajat yang religius. Sementara itu, sains yang mereka pelajari menguatkan apa yang dikhotbahkan agama.*
Universitas Islam Negeri Bandung terus memperbaiki kurikulum. Pada akhirnya, pendidikan yang diterima mahasiswa mencapai derajat yang religius. Sementara itu, sains yang mereka pelajari menguatkan apa yang dikhotbahkan agama.*

HAL yang paling mengejutkan dari sains masa kini adalah munculnya kembali pertanyaan tentang Tuhan dalam orbit penelitian empiris alam semesta. Fisikawan Paul Davies berkata bahwa sains masa kini telah mencapai suatu derajat di mana masalah religius dapat ditangkap secara formal dan serius. Sains dengan demikian bisa menguatkan apa yang dikhutbahkan agama. Argumen di ataslah yang memotivasi IAIN (Institut Agama Islama Negeri) berubah menjadi universitas. Janjinya, supaya para ilmuwan muslim Indonesia dapat berperan aktif dalam membangun sains yang terus berdialog dengan agama. 

Secara ringkas, kiprah keilmuan IAIN/UIN SGD Bandung dapat dibagi ke dalam tiga periode.  Periode pertama (1968-1988) adalah periode fikih. Periode ini berlangsung kira-kira 20 tahun, yakni saat itu kurikulum IAIN SGD Bandung didominasi oleh pembelajaran fikih. Periode kedua (1988-2003) adalah periode pemikiran, berjalan kira-kira 15 tahun, saat mata kuliah yang berkarakter filsafat mendominasi, seperti ilmu kalam, filsafat ilmu, dan filsafat pendidikan Islam. Periode ketiga (2003-sekarang) adalah periode universitas, yakni ketika sains kealaman, sosial dan teknik mulai mendominasi. Periode ini telah berjalan kira-kira 15 tahun. Hingga kini UIN SGD Bandung telah memiliki 3 fakultas yang karakternya ilmiah plus keteknikan, sains dan teknologi, psikologi, dan ilmu sosial dan politik. 

Perkembangan terakhir ini tidaklah mudah, terutama karena harus mengintegrasikan dua bidang keilmuan yang saat ini dianggap saling bertolak belakang, yakni ilmu agama dan ilmu umum.  Konsekuensinya, jika tidak dihaga, ilmu agama akan semakin tertinggal dan mungkin saja sepi peminat, sementara sains dan keteknikan akan berkembang tetapi tidak bisa melampaui apa yang dikembangkan perguruan tinggi umum. Tulisan ini bermaksud mendiskusikan jawaban terhadap persoalan di atas. 

Sejak berubah menjadi universitas (2005), UIN SGD Bandung telah merancang sebuah paradigma keilmuan, yakni ”Wahyu Memandu Ilmu” (WMI) dengan simbolnya roda. Simbol ini menarik untuk dicermati, karena roda dan bagian-bagiannya adalah penggerak kehidupan. Simbol ini seperti hendak menunjukkan spirit pergerakan ke depan yang berkelanjutan.

Pada simbol roda itu ada as yang menjadi pusat, yakni aqidah tauhidullah. Lalu ada pelek yang terhubung dengan as melalui jeruji, as ini melambangkan cabang ilmu yang berkembang sesuai dengan zamannya. Bagian terluar dari roda adalah ban yang melambangkan tampilan luar, ini merupakan simbol amal saleh, penyalur energi, dan pembangun hidup yang lebih baik (Konsorsium Bidang Ilmu, 2008). 

Berpusat pada akidah



Maka keilmuan Wahyu Memandu Ilmu mengandung spirit berpusat pada akidah tauhidullah, dalam menghasilkan teori yang objektif, yang dibingkai dengan amal shaleh. Jadi semua ilmu, termasuk sains dan keteknikan yang dikembangkan UIN SGD Bandung tidak boleh keluar dari akidah, episteme yang dibangun tidak hanya merujuk pada temuan ilmuwan masa kini tapi juga ilmuwan Muslim terdahulu, dan sains dan teknologi yang dihasilkan harus bermanfaat bagi umat. 

Ini berarti, Fakultas dan prodi keagamaan Islam harus menjadi pemandu yang baik bagi fakultas dan prodi sains dan keteknikan. Fakultas dan prodi keagamaan Islam tidak boleh lelah menemani, memberi informasi dan penjelasan kepada fakultas dan prodi sains dan keteknikan tentang tujuan manusia mempelajari ilmu agar selamat di dunia dan akhirat. Jika ada fakultas dan prodi sains dan keteknikan yang abai dengan akidah, warisan ilmuwan muslim sebelumnya dan persoalan kehidupan umat Islam, maka fakultas dan prodi keagamaan wajib mengingatkan dan menegurnya. 

Konsekuensinya, agar ilmu-ilmu keagamaan Islam tidak punah, maka mata kuliah keagamaan yang merupakan mata kuliah wajib universitas (bahasa Arab, ulumul Qur’an, ulumul hadits, ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu akhlak, dan sejarah peradaban Islam) benar-benar dijadikan sebagai fondasi akademik. Ketertinggalan ilmu-ilmu keagamaan Islam pada aspek metodologis harus segera diatasi, dosen mata kuliah keagamaan Islam mulai berani mengadopsi metode penelitian sains dan keteknikan yang lebih terukur dan presisi; atau berkolaborasi dengan mereka dalam melakukan penelitian lapangan (interdisipliner). 

Sebaliknya, fakultas dan prodi sains dan keteknikan hendaknya menerima kenyataan bahwa Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) mewajibkan setiap universitas membangun visi, misi, dan nilai ilmiahnya tersendiri. UIN Bandung memiliki nilai ”Wahyu Memandu Ilmu”, maka itulah yang dijadikan pedoman pengembangan keilmuannya. Atas dasar itu, akan bermunculan dosen dan mahasiswa sains dan keteknikan yang ”dipaksa” mempelajari tradisi ilmiah umat Islam masa klasik.

Sains bukan musuh Islam, sebagaimana juga kemajuan seperti demokrasi tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam. Itulah yang ingin dan akan terus dikembangkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung di masa depan. Spirit para ulama yang terus mendorong Islam compatible di setiap zaman menjadi dasar pengembangan Universitas Islam yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum.

Sains bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung seperti tongkat bagi Nabi Musa. ”…Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (QS 20:18). Sebagai alat, sains teknologi memiliki fungsi terbatas yang tetap bermanfaat dan harus dimanfaatkan. Namun, selalu ada fungsi lain dari sains itu yang akan semakin tak terduga manfaatnya saat berada dalam bimbingan wahyu. Kita tahu, tongkat Nabi Musa itu dapat berubah menjadi ular yang memakan ular-ular sihir, menjadi pembelah laut untuk menyelamatkan umat dari kepunahan. Kita juga berharap, sains yang dipandu wahyu, dapat menjadi tongkat Musa yang dipandu wahyu ilahiah. (Irawan)***

Bagikan: