Pikiran Rakyat
USD Jual 14.538,00 Beli 14.440,00 | Cerah berawan, 24.4 ° C

Ikuti Jejak Sir William Henry Perkin, 5 Ilmuwan Ini Raih Medali Perkin

BERKAT penemuan mauveine (ungu muda), pewarna sintetis oleh Sir William Henry Perkin, pemberian Medali Perkin dijadikan ajang penghargaan tertinggi di dunia Industri Kimia Amerika Serikat. Penghargaan ini pun telah menjadi acara tahunan yang diselenggarakan oleh Society Chemical Industri (SCI).

Melansir halaman SCI, awal dianugerahkannya medali ini dalam rangka memperingati 50 tahunnya penemuan warna mauveine oleh salah satu anggota SCI, Sir William Henry Perkin. Sejak 1960, SCI telah memberikan penghormatan kepada beberapa ilmuwan inspiratif dan cemerlang mulai dari Edward Acheson penemu grafit  dan carborundum, hingga Carl Djerrasi penemu pil kontrasepsi yang telah berkontribusi terhadap perkembangan sains sampai hari ini. Lalu, selain mereka, siapa saja ilmuwan lain peraih medali perkin?

1. Bruce D. Roth (2013)—Obat atorvastatin (obat penurun kolesterol)



Bruce D. Roth mengawali karir akademiknya pada tahun 1972 di Philadelphia, sebagai mahasiswa kimia di St. Joseph College. Kemudian ia lulus pada tahun 1981 dan melanjutkan pendidikan doktoralnya ke Iowa State University, serta melanjutkan post-doktoral (selama setahun) di University of Rochester. Ia bergabung dengan perusahaan farmasi Parke-Davis milik Warner-Lambert. Saat itu, ia menempati posisi ahli obat kimia.

Kemudian ia mendapat kepercayaan untuk menjadi Senior Scientist pada tahun 1984 dan mengambil alih beberapa kepemimpinan selamat satu setengah dekade.

Sebelum penggabungan Warner-Lambert dan Pfizer, pada tahun 2002 Roth diangkat sebagai Wakil Presiden Kimia. Di tahun 2007, ia bergabung dengan Genentech di San Fransisco, California, sebagai Senior Direktur Penemu Bahan Kimia

Sebenarnya, penemuannya yang terkenal, yakni atorvastatin disintesiskannya pada tahun 1985. Baru pada tahun 2003-2006, penemuannya itu mendapat banyak penghargaan bergengsi, diantaranya: American Chemical Socitey (ACS) sebagai penemuan kreatif; Esselen Award sebagai pelayanan publik; Distinguished Alumni Award dari Iowa State University; serta Pengharagaan Presetasi Penelitian dan Pengembangan Pfizer Global.  ACS menjuluki ilmuwan ini sebagai ‘Pahlawan Kimia’ (Hero of Chemistry).

2. John C. Warner (2014)—Green chemistry



Green Chemistry (kimia hijau) merupakan bidang kimia yang bergerak khusus desain produk dan proses untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia berbahaya. John C. Warner mengambil konsentrasi green chemistry saat menjalankan program Ph. D di University of Massachusetts, Boston. Ia  bersama Paul Anastas menulis buku seminal yang berjudul “ Chemistry: Theory and Practice”

Pada akhir 1980-an, ia mengembangkan teknologi Non-Covalent Derivatization (NCD), yakni metode sintesis untuk mencipatakan bahan baru dengan langkah, pemurnian, dan limbah yang sedikit. Saat ini, teknologi NCD diaplikasikan di beberapa industri, termasuk farmasi, kosmetik, konstruksi, dan elektronik.

Bersama dengan Jim Babcock, mereka mendirikan Warner Babcok Instutute, di bidang green chemistry, menciptakan model baru untuk perusahaan riset. Tujuan mereka adala menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk menciptakan teknologi komersial yang memiliki kinerja, biaya, dan ramah lingkungan yang superior.

Sebagai pendidik di bidang kimia, Warner telah berkontribusi luar biasa dalam bidang penelitian yang meneliti topik-topik desain berkelanjutan. Pada tahun 2004, ia mendapat  Penghargaan Presiden Amerika Serikat untuk keunggulan dalam Ilmu Pengetahuan Matematika dan Teknologi.  Bersama istrinya, Dr. Amy Cannon, Warner menjalankan organisasi non-profit, Beyond Benign, penyedia rencana pembelajaran yang berbasis green chemistry.  Di tahun 2005, ia kembali meraih penghargaan dari Council of Scientific Society.

3. Chynthia A. Maryanoff (2015)— Material kimia organik



Berkat keahliannya di bidang kimia organik, dan dengan menggunakan pendekatan green chemistry, Maryanoff telah ikut andil dalam pengembangan 1000 obat untuk pengobatan antispikotik dan antiepilepsi, serta analgesik dengan penghantar transdermal, surfaktan paru, penyakit kardiovaskular, fungsi endoktrin dan agen antiviral. Beberapa obat yang terkenal, diantaranya: Topamax (obat anti-epilepsi); Ultram ( analgesik atipikal atau tramadol untuk mengurangi rasa sakit); dan Cypher ( stent untuk jantung).

Setelah meraih  Ph.D dari Princeton, ia bergabung dengan perusahaan Johnson &Johnson. Kemudian, di tahun 2013 ia berhenti dan melanjutkan karir ilmiahnya di Barurch.S Blumberg Institute sebagai seorang profesor. Beberapa penghargaan yang pernah diraih diantaranya Disitinguished Alumni dari Drexel Unversity; Medali Garvin-Olin ACS; Penghargaan ACS Earle B. Barnes untuk Kepemimpinan dan Riset Bidang Kimia; American Woman In Science; dan Bingham Award.

4. Peter Trefonas (2016)—Litografi



Peter Trefonas meraih gelar Ph.D dari University of Wiscounsin Madison pada tahun 1985. Kontribusi terbesarnya yakni di bidang bahan elektronik, khususnya litografi kimia, seperti perangkat fotoresis, pelapis optik anti-reflective, underlayer, dan produk lainnya yang ramah lingkungan. Bahan-bahan ini memiliki dampak komersial yang tinggi dan turut serta memfasilitasi kemajuan era informasi.

Tahun 2014, Ia mendapat penghargaan Heroes of Chemistry dari ACS dan SPIE Wilson Award. Saat ini ia terus membangun karirnya di bidang elektronik melalu perusahaan Shipley, Rohm and Haas, serta Dow. Selain itu, ia juga pencipta beberapa games komputer.

5. Ann E. Webber (2017)—Penemuan obat kimia



Penelitian Webber berfokus pada desain dan sintesis ligan untuk protein G, saluran ion, dan enzim. Ia telah mengembangkan lebih dari 40 bahan kimia untuk pengobatan, termasuk Januvia (sitagliptin) untuk pengobatan diabetes tipe 2 (T2DM); Janumert, kombinasi dosis sitagliptin dan metformin; dan Marizev untuk pengobatan seminggu sekali T2DM.

Lebih dari 80 tulisannya sendiri maupun bersama rekannya telah dipublikasi. Ia berhasil meraih beberapa penghargaan diantaranya Robert M. Scarborough Award; Heroes of Chemistry Award (ACS); Discoverer;s Award (PhRMA); STEM dari Liberty Science Center Woman; Gift of Mentoring Award dari Metro Women Chemist Committee, dan Hall of Fame Chemical Drugs. Dia berhasil meraih gelar  Ph.D dari Harvard University, mengambil konsentrasi kimia organik sintetis di laboratorium Profesir David A. Evans.(Mery Nur Andini)***

Bagikan: