Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 30 ° C

Dukungan Pemerintah Minim, Target 14.000 Doktor Sulit Tercapai

Dhita Seftiawan
SUASANA sidang promosi doktor atas nama Heny Hendrayati di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jumat 18 Agustus 2017.*
SUASANA sidang promosi doktor atas nama Heny Hendrayati di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jumat 18 Agustus 2017.*

JAKARTA, (PR).- Target mencetak 14.000 dosen bergelar doktor atau lulus S-3 hingga 2019 sulit tercapai. Pasalnya, pada tahun depan, kebijakan belanja anggaran dari pemerintah lebih difokuskan kepada pembangunan infrastruktur untuk menggenjot perekonomian nasional. Selain itu, kesiapan dari para dosen bergelar S-2 untuk melanjutkan pendidikan pun masih minim.

Senior Expert Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi John Pariwono menuturkan, sebaran dosen tetap bergelar S-2 pada perguruan tinggi di Indonesia mencapai 155.519 orang. Dosen sarjana sebanyak 37.047 orang dan yang bergelar doktor hanya 31.554 dosen. Menurut dia, total dosen di Indonesia sekitar 250.000 orang.

Menurut dia, formasi tersebut tak akan berubah signifikan hingga dua tahun ke depan jika Kemenristekdikti dan kementerian terkait lainnya seperti Kementerian Keuangan tak mencari sumber dana di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika hal tersebut terjadi, kualitas perguruan tinggi Indonesia akan terus tertinggal dari negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura. 

“Kalau hanya mengandalkan dana pemerintah, target 14.000 doktor pasti gagal. Perlu menjalin banyak kerja sama dengan luar negeri, pihak swasta dan kampus luar negri yang siap membantu pendanaan atau skema beasiswa doktoral,” ucap John dalam diskusi Doctoral Program Information Day, Jakarta, Sabtu, 9 September 2017.

John menuturkan, jenjang pendidikan para dosen berperan strategis dalam peningkatan kualitas perguruan tinggi. Semakin banyak doktor, jumlah penelitian berstandar internasional dari Indonesia juga akan meningkat. Pada sektor ekonomi, penelitian dari para akademisi juga seharusnya memberi kontribusi. “Tapi di Indonesia, antara hasil penelitian dan kebutuhan industri belum in line,” katanya.

1.000 calon doktor asal Indonesia



Dalam diskusi tersebut, Monash University menjadi salah satu perguruan tinggi luar negeri yang menyatakan siap membantu Kemenristekdikti. Senior Pro Vice Chancellor Monash University Zlatko Skrbis mengklaim, saat ini tak kurang dari 1.000 calon doktor asal Indonesia yang sedang menyusun disertasi di berbagai jurusan di Monash University. Menurut dia, program doktoral di kampus yang berbasis di Melbourne Australia itu bisa ditempuh dalam kurun 4 tahun.

“Tahun ini kami masih membuka beasiswa program doktoral untuk mahasiswa Indonesia. Ada 300 mahasiswa yang sudah mengajukan proposal, dan sedang kami seleksi. Jenjang doktoral yang kami tawarkan sangat sesuai untuk meningkatkan kecakapan serta pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan penelitian bereputasi internasional,” kata Zlatko.

Menurut dia, jurusan yang siap menampung calon doktor asal Indonesia tersebar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Hukum, Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Teknologi dan Informatika dan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. “Selama belajar dan menyusun disertasi, mahasiswa kami juga didukung fasilitas yang memadai. Terutama standar teknologi penelitian, prospek pengembangan riset dan publikasi ilmiah internasional,” ujarnya.***

Bagikan: