Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Indonesia Kekurangan Doktor

Dhita Seftiawan
SUASANA sidang promosi doktor atas nama Heny Hendrayati di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jumat 18 Agustus 2017.*
SUASANA sidang promosi doktor atas nama Heny Hendrayati di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jumat 18 Agustus 2017.*

JAKARTA, (PR).- Perguruan tinggi nasional masih kekurangan jumlah dosen bergelar doktor. Dari total sekitar 165.000 dosen yang tersebar di 4.500 kampus negeri dan swasta, jumlah doktor yang ada saat ini baru sekitar 16.000 orang. Sementara itu, jumlah doktor yang diperlukan minimal sebanyak 30.000 orang.

Direktur Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti, mengatakan, pemerintah menjalin banyak kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan jumlah doktor. Kemenristekdikti menyediakan tak kurang dari 1.500 doktor melalui beragam skema beasiswa pada tahun ini.

“Dari 1.500 itu, sebagian besar mahasiswa memilih ke kampus-kampus di Inggris dan Australia. Inggris memang yang paling favorit. Yang menarik dari kampus-kampus di Inggris ini adalah proses belajarnya hanya setahun. Sedangkan di negara lain masih minimal 1,5 tahun bahkan 2 tahun,” ucap Ghufron di Kantor Kemenristekdikti Senayan, Jakarta, Sabtu, 26 Agustus 2017. 

Skema kerja sama beasiswa tersebut pun beragam. Ada yang dibiayai penuh oleh pemerintah, ada juga yang setengah biayanya ditanggung negara tujuan. Ghufron menyatakan, kecakapan bahasa Inggris menjadi persyaratan utama untuk memeroleh beasiswa tersebut. “Kebutuhan jumlah doktor seharusnya minimal 20 persen dari total dosen yang ada. Selain meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan, jumlah doktor juga untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi nasional di kancah global,” ujarnya.

Jalin kerjasama



Salah satu kerja sama terbaru yang digagas Ditjen SDID ialah dengan kampus asal Inggris, Conventry University. Ghufron menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Executive Director Centre of Trust Peace and Social Relations Conventry University Mike Hardy. Melalui kerja sama ini, kedua belah pihak sepakat mendukung peningkatan kapasitas dan kompetensi dosen, termasuk memikirkan strategi internasionalisasi perguruan tinggi Indonesia. 

Ghufron menyatakan, kolaborasi tersebut penting untuk memberikan pengalaman pendidikan berkualitas tinggi kepada dosen dan ilmuwan agar mampu melakukan penelitian yang baik. Bentuk kerja sama tersebut antara lain program beasiswa PhD, pertukaran dosen, riset bersama, dan pembuatan jurnal internasional. “Beasiswa PhD ini ditanggung oleh kedua belah pihak. Tiga tahun pertama akan ditanggung oleh Kemristekdikti. Kemudian satu tahun berikutnya oleh Conventry University,” katanya. 

Ia berharap, kerja sama tersebut mampu menambah jumlah doktor unggulan pada bidang teknik dan kesehatan. "Terutama untuk keperawatan. Karena di Indonesia ini perawat banyak, tetapi di tingkat internasional belum dapat mengisi tenaga kerja. Nah harapan berikutnya adalah peningkatan kapasitas dan mobilisasi dosen, baik melalui kolaborasi riset, pertukaran, program Non-Degree, dan lain sebagainya," ucapnya. 

Mike mengatakan, Conventry University tidak membatasi jumlah mahasiswa Indonesia yang akan menempuh studi di sana. "Mungkin melalui kesepakatan ini per tahun dapat memberangkatkan 20 sampai 30 dosen. Persyaratannya tidak sulit, mereka perlu mendapat izin dan rekomendasi kemudian mendaftar untuk memperoleh letter of acceptance," ujarnya.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, menambahkan, Indonesia dan Inggris telah bekerja sama begitu lama. Menurut dia, Indonesia butuh sumber daya manusia yang unggul untuk dapat bersaing dengan negara-negara lain. "Dengan potensi yang ada, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi yang besar di dunia. Oleh karena itu, peningkatan sumber daya manusia penting sebagai investasi jangka panjang. Kami Pemerintah Inggris selalu memberikan dukungan, terutama dalam pendidikan," kata Moazzam.*** 

Bagikan: