Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 26.1 ° C

Indonesia-Inggris Lakukan Riset Bersama Senilai Rp 250 Miliar

Dhita Seftiawan
MENTERI Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menjelaskan rencana pembentukan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi pada acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, di Hotel Semesta Heritage, Semarang, Sabtu, 18 Maret 2017. LLPT akan menjadi lembaga yang mengatur PTS dan PTN.*
MENTERI Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menjelaskan rencana pembentukan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi pada acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, di Hotel Semesta Heritage, Semarang, Sabtu, 18 Maret 2017. LLPT akan menjadi lembaga yang mengatur PTS dan PTN.*
JAKARTA, (PR).- Indonesia-Inggris menjalin kerja sama penelitian senilai 14,5 juta poundsterling atau sekitar Rp 250 miliar. Dana tersebut untuk membiayai sepuluh penelitian yang melibatkan dosen dari perguruan tinggi negeri nasional dan kampus terkemuka di dunia seperti Oxford University. Penelitian bersama ini di antaranya pada bidang kesehatan, energi baru dan terbarukan, dan teknologi informasi.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menuturkan, penelitian kolaboratif tersebut memiliki relevansi tinggi dengan pembangunan sosial ekonomi Indonesia. Menurut dia, kampus nasional yang turut terlibat di antaranya Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan Institut Pertanian Bogor. Dana mengucur melalui Newton UK-Indonesia Science & Technology Fund.

“Penelitian harus menghasilkan inovasi yang diperlukan Indonesia. Para peneliti dan inovator, merupakan aktor kunci dalam menggali potensi kekayaan negara yang kita miliki. Hasil penelitian tidak dapat dikategorikan sebagai inovasi sampai mereka berguna bagi masyarakat,” kata Nasir, di Kantor Kemenritekdikti, Jakarta, Jumat 7 April 2017.

Ia mengatakan, pemerintah membutuhkan banyak bantuan dari pihak luar untuk meningkatkan kualitas penelitian dan kemampuan peneliti bertaraf internasional. Selain dengan Inggris, kerja sama lain yang sudah terjalin di antaranya dengan Singapura, Australia, dan Amerika Serikat “Untuk mencapai hal tersebut, kolaborasi internasional seperti dengan Inggris ini sangat dibutuhkan sehingga kita tidak perlu memulai dari nol. Secara bersama-sama dapat berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik untuk memajukan masyarakat global,” ujarnya.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste Moazzam Malik mengatakan, Inggris akan menjadi mitra yang sangat baik bagi Indonesia. Kerja sama tersebut akan mendatangkan keuntungan bagi pendidikan tinggi kedua negara. Menurut dia, Inggris terus memprioritaskan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. “Karena kami menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi akan memberikan solusi untuk tantangan global saat ini,” ucapnya.

Ia mengatakan, penelitian yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang teruji dan menjadi investasi berharga untuk masa depan negara. British Council dan pemerintah Indonesia juga akan melakukan finalisasi kerja sama beasiswa doktoral. Program ini merupakan program beasiswa pertama yang didanai bersama oleh pemerintah Indonesia dan Inggris Raya. “Kerja sama ini hingga lima tahun ke depan,” kata Moazzam.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati menambahkan, pemerintah Indonesia sangat terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama internasional. Menurut dia, khusus kerja sama 10 penelitian tersebut, peneliti dari Indonesia akan mendapat bantuan dana senial 20.000 poundsterling sedangkan peneliti dari Inggris sebesar 10.000 poundsterling per proyek penelitian. “Betapa pentingnya penelitian bagi kepentingan masyarakat dan dengan kerja sama riset dan inovasi internasional ini akan memperoleh hasil yang lebih baik,” ujar Dimyati.

Ia menjelaskan, Inggris-Indonesia tengah mendiskusikan kemungkinan kerja sama di bidang hydro-meteorological hazard pada daerah perkotaan. Kantor Meteorologi Inggris Met Office dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pembicaraan awal untuk penelitian bersama mengenai layanan cuaca dan iklim tersebut.***
Bagikan: