Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 20.6 ° C

Program Studi di Perguruan Tinggi Harus Dibenahi

Siska Nirmala Puspitasari
JAKARTA,(PR).- Perguruan Tinggi di Indonesia perlu melakukan pembenahan sistemik untuk program studi yang ditawarkan kepada masyarakat. Pembenahan perlu dilakukan agar perguruan tinggi melalui lulusan yang dihasilkannya benar-benar dapat menjadi kekuatan transformasi pembangunan.

Kepala Subdirektorat Pendidikan Tinggi, Kementrian PPN/Bappenas Amich Alhumami menuturkan kualitas lulusan perguruan tinggi yang terserap di pasar kerja belum memadai. Terdapat 40 persen lulusan perguruan tinggi yang bekerja di bidang kategori semi terampil, dan berketerampilan rendah.

Hal ini menurut dia, salah satunya dikarenakan faktor program studi lulusan yang tidak sesuai bidang pekerjaannya. "Kenyataan ini adalah basis bagi kita untuk upaya merumuskan kembali prodi di perguruan tinggi. Jangan sampai mereka yang lulus dari perguruan tinggi lulus dengan ijazah, namun bidang keahliannya tidak tercermin disana," tuturnya dalam Jurusanku Education Conference di Ruang Graha Utama, Gedung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa, 3 Mei 2016.

Dia menjelaskan saat ini program studi yang dikembangkan di perguruan tinggi sangat bervariasi. Namun variasi program studi tersebut mayoritas tidak terkoneksi atau terjadi diskoneksi antara perguruan tinggi dengan dunia kerja.

Hal ini pula yang menyebabkan lulusan perguruan tinggi menyumbang 10 persen dari total pengangguran yang ada di Indonesia. Ini berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) per tahun 2014.

Selain itu berdasarkan survei yang dilakukan bank dunia (World Bank), sejak tahun 2012 permintaan pemilik perusahaan terhadap tenaga kerja yang terampil semakin tinggi dan meningkat. Hal ini juga tidak terlepas akan dorongan standar kualitas yang lebih tinggi. Permintaan industri tersebut, juga diakibatkan lingkungan usaha yang lebih kompetitif, dan kegiatan industri yang lebih berorientasi ekspor.

"Prodi yang dikembangkan kedepan harus melihat perkembangan pembangunan. bukan hanya dengan personal interest. Karena sangat penting untuk melihat isu soal prodi atau bidang keilmuan dalam konteks pembangunan pendidikan secara keseluruhan," tuturnya.

Saat ini secara nasional, mayoritas program studi yang ada perguruan tinggi adalah Ilmu-ilmu sosial dan humaniora (57 persen). Sementara program studi sains dan keteknikan 43 persen.

Begitupun dengan jumlah mahasiswa berdasarkan kelompok bidang ilmunya. Sebanyak 67,25 persen adalah mahasiswa prodi sosial-humaniora. Sementara sains teknik sebanyak 32,75 persen.

Hal ini juga sekaligus menggambarkan bahwa generasi muda Indonesia lebih banyak memilih kuliah dan menekuni bidang soft science seperti ilmu sosial dan humaniora dibandingkan hard science yakni sains keteknikan.

Sementara menurut Amich, bidang sains keteknikan adalah peta baru yang dibangkan pada sektor industri dan pengembangan ekonomi saat ini. "Memang pilihan prodi adalah minat anak. Namun dalam konteks pembangunan ekonomi, artinya ada sektor yang kelebihan pasokan dan ada yang kekurangan. komposisi ini yang harus dirancang ulang," tuturnya.

Sementara itu CEO Jurusanku Ina Liem menambahkan saat ini memang terjadi kesenjangan minat generasi muda, dengan kebutuhan ahli di bidang strategis. Kesenjangan ini, menurut dia tidak hanya terjadi karena mahasiswa yang memilih program studi yang tidak sesuai, atau 'salah jurusan'.

Justru menurut dia, cukup banyak calon mahasiswa yang ternyata sebenarnya tidak mengetahui informasi mengenai prioritas program studi dan masa depan lulusan prodi tersebut di dunia kerja.

Ina mencontohkan, dari survey yang dilakukan Jurusanku terhadap 11.750 siswa, peminat di bidang pertanian, perikanan, dan energi terbarukan sangat rendah. Hanya terdapat 23 siswa yang berminat ke pertanian, 12 siswa ke perikanan, dan 22 siswa ke energi terbarukan. Mayoritas sebanyak 1.222 anak tertarik ke bidang kedokteran.

"Padahal ketiga bidang tersebut adalah bidang yang saat ini kritis di Indonesia. Mereka sebenarnya bukan tidak tertarik, tapi tidak tahu. Inilah yang perlu dilakukan perguruan tinggi, untuk lebih banyak mensosialisasikan terkait program-program studi yang seharusnya didorong untuk mendukung pembangunan ekonomi Indonesia," ucapnya.***
Bagikan: