Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

Lulusan Perguruan Tinggi Indonesia Baru Capai 30%

Eriyanti Nurmala Dewi
BANDUNG, (PR).- Lulusan perguruan tinggi di Indonesia baru mencapai tiga puluh persen. Jumlah ini masih sangat jauh lebih rendah dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi Korea dan Jepang yang sudah mencapai delapan puluh sampai sembilan puluh persen. Keadaan ini mengakibatkan, daya saing bangsa Indonesia “melorot” saat dihadapkan pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) seperti sekarang.

Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) Kemenristek Dikti, Didin Wahidin menyampaikan hal itu pada Lustrum III Pascasarjana Uninus, Sabtu 30 April 2016, di Grand Pasundan Hotel, Jalan Pelajar Pejuang Bandung.

Menurutnya, rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia masih setingkat pendidikan dasar menengah. Sedangkan negara-negara lain di dunia khususnya di Asean sudah berlatar pendidikan tinggi. Hal ini sangat menyulitkan Indonesia dalam menghadapi persaingan dengan bangsa-bangsa di Asean sekali pun. Bila tidak segera diperbaiki maka ibarat dihadapkan pada perang tanpa disertai senjata. “Ini jarus segera kita perbaiki, latar pendidikan masyarakat harus segera diarahkan pada lulusan perguruan tinggi. Tidak bisa ditunda lagi,” ujarnya.

Langkah yang dapat diambil, kata Didi, antara lain dengan meningkatkan kapasitas daya tampung di setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta sehingga semakin banyak lulusan SMA sederajat yang dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Tentu lanjut Didin, harus diimbangi juga dengan peningkatan kualitas atau mutu dari masing-masing perguruan tinggi yang bersangkutan.

Cara lain adalah dengan mengikutsertakan mahasiswa Indonesia pada berbagai lomba tingkat dunia. Dicontohkannya tentang keikutsertaan mahasiswa Indonesia yang berhasil meraih juara robot di Amerika Serikat dan juara sains di Bulgarian. Namun diakui Didin, jumlah itu hanya segelintir sedangkan yang diperlukan adalah meningkatkan latar pendidikan yang tidak lagi hanya sebatas lulusan pendidikan dasar menengah. “Harus segera perbanyak lulusan perguruan tinggi,” imbuhnya.

Disampaikan Direktur Pascasarjana Uninus H. Ahmad Sanusi, alumni Pascasarjana Uninus berbeda dengan lulusan pascasarjana lainnya. Alumni lebih diarahkan pada lulusan yang berorientasi pada nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut antara lain, nilai teologis, fisiologis, logis, etis, dan teleologis (kegunaan). Diharapkan dengan menjunjung nilai-nilai tersebut, para alumni tidak hanya akan berorientasi pada dunia tetapi pada akhirat dengan cara lebih bertanggungjawabkarena segala kehidupan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

“Jadi tidak asal dongkel, kalau dalam kehidupan berpolitik. Tidak asal untung dalam kehidupan ekonomi, dst tetapi lebih berientasi pada tanggungjawab di hadapan Allah Swt karena Uninus merupakan kampus berbasis Islam,” tuturnya.

Rektor Uninus, Suhendar Yusuf menambahkan, jumlah alumni Pascasajana Uninus sudah mencapai ratusan dan menempati posisi di berbagai bidang strategis. Peran alumni sangat besar dalam menumbuhkembangkan kampus sebagai almamater. Salah satunya adalah dengan rencana Uninus membangun kampus baru dengan desain yang lebih islami.

Menurut rencana, kata Rektor, Uninus akan segera merenovasi kampus secara berkala. Hal ini bukan hanya untuk lebih menambah kenyamanan mahasiswa dalam melaksanakan perkuliahan tetapi juga untuk lebih memperkuat ciri keislaman Uninus sebagai kampus berbasis Islam. Pembangunan akan dilakukan mulai pertengahan tahun ini dan ditargetkan dalam setahun sudah selesai.

Tahap pertama pembangunan akan diarahkan pada perbaikan indentitas kampus dengan rancangan-rancangan yang lebih berorientasi gaya Timur Tengah. Selanjutnya perbaikan beberapa sarana penunjang perkuliahan yang sumber dananya diperoleh dari kampus, yayasan, dan alumni.***
Bagikan: