Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 28.5 ° C

Memprihatinkan, Baru 0,01 Persen Warisan Budaya yang Terdigitalkan

Siska Nirmala Puspitasari
SEJUMLAH pengunjung menikmati beberapa koleksi lukisan karya Affandi di Museum Affandi, Jalan Adisucipto, Yogyakarta beberapa waktu lalu, Museum Affandi menjadi salah sau situs sejrah jejak Persiden RI pertama, Soekarno karena Affandi dikenal dekat dengan Soekarno. Setidaknya ada 37 situs sejarah jejak Soekarno di Yogyakarta.*
SEJUMLAH pengunjung menikmati beberapa koleksi lukisan karya Affandi di Museum Affandi, Jalan Adisucipto, Yogyakarta beberapa waktu lalu, Museum Affandi menjadi salah sau situs sejrah jejak Persiden RI pertama, Soekarno karena Affandi dikenal dekat dengan Soekarno. Setidaknya ada 37 situs sejarah jejak Soekarno di Yogyakarta.*
JAKARTA, (PR).- Masih amat sedikit informasi warisan budaya yang tersimpan dalam format digital. Jumlah yang sudah terdigitalisasi baru mencapai 0,01 persen. Hal ini sangat memprihatinkan, karena digitalisasi informasi warisan budaya sangat penting dilakukan sebagai bagian upaya perlindungan dan juga pelestarian kebudayaan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menuturkan, pihaknya saat ini tengah mengembangkan platform digital untuk pelestarian kebudayaan. "Platform ini sebenarnya sudah ada cukup lama. Namun pengembangan perlu dilakukan dan ternyata butuh waktu yang lebih lama dari yang dibayangkan. Saya harap di semester kedua ini sudah bisa dijalankan," ujarnya di Jakarta, Kamis 14 April 2016.

Media digital mampu memberikan pengaruh bagi masyarakat. Oleh karena itu pemerintah pun kini menyiapkan platform digital dalam pelestarian kebudayaan agar masyarakat terpengaruh secara positif dalam pelestarian warisan budaya.

Konsep platform digital tersebut, nantinya akan menjadi platform bagi masyarakat dalam membangun sistem informasi mengenai kebudayaan. Tidak sekadar berkunjung. "Ada lebih dari 400 museum di Indonesia. Jika platform digital ini berjalan dengan baik, dan bisa menghidupkan titik-titik kebudayaan ini (museum-red) maka informasi kebudayaan akan jauh lebih masif," ucapnya.

Untuk pengembangan platform digital kebudayaan tersebut, Hilmar menjelaskan pihaknya akan melakukan sinkronisasi data pokok kebudayaan dan juga jendela pendidikan dan kebudayaan sebagai pangkalan data. Tidak hanya itu, Kemendikbud juga merintis kerjasama teknis dengan Kementerian Kominfo, Telkom, Europeana, dan Google Cultural Institute, serta jaringan museum dan komunitas budaya.

Digitalisasi informasi kebudayaan tersebut juga tidak terlepas dari penerbitan buku elektronik terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Seperti diketahui sebanyak 300 judul buku kebudayaan digitalisasi oleh Kemendikbud. Buku-buku tersebut nantinya akan menjadi bagian dari buku sekolah elektronik yang dapat dimanfaatkan siswa di masing-masing satuan pendidikan. ***
Bagikan: