Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

Politisi dan Artis Pelaku Bebal Bahasa

Eriyanti Nurmala Dewi
‎PESERTA seminar nasional "Meningkatkan Kompetensi Guru yang Mandiri dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN", Senin (21/12/2015), Hotel Grand Pasundan, Jalan BKR, Bandun‎g merupakan guru-guru yang tergabung dalam Asosiasi Guru Pendidikan Bahasa Indonesia dan para calon guru.*
‎PESERTA seminar nasional "Meningkatkan Kompetensi Guru yang Mandiri dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN", Senin (21/12/2015), Hotel Grand Pasundan, Jalan BKR, Bandun‎g merupakan guru-guru yang tergabung dalam Asosiasi Guru Pendidikan Bahasa Indonesia dan para calon guru.*
BANDUNG, (PRLM).- Politisi dan artis paling sering menjadi pelaku bebal bahasa. Celakanya, perilaku bebal dalam berbahasa ini disebarluaskan secara satu arah oleh media massa sehingga terbentuklah kebenaran umum yang bahkan menjadi hiperrealitas.

Pakar Bahasa Wahyu Wibowo menyampaikan itu pada seminar nasional ‎"Meningkatkan Kompetensi Guru yang Mandiri dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN", Senin (21/12/2015), Hotel Grand Pasundan, Jalan BKR, Bandung.

‎Dalam seminar yang diikuti anggota Asosiasi Guru Pengajar Bahasa Indonesia ini, wahyu mendedahkan, perilaku bebal bahasa mengemuka pada sidang Mahkamah KehormatanDewan (MKD), di mana wakil ketua DPR. Mengomentari bahwa pakar bahasa yang dihadirkan dalam persidangan itu tidak memiliki kredibilitas kecuali bila menghadirkan J.S. Badudu. Padahal nama yanng disebutkan itu sudah wafat. Selain itu sang wakil ketau DPR itu pun menyatakan pakar bahasa yang dihadirkan tidak dapat disebut pakar karena ilmunya sosiolonguistik.

Pe‎rilaku ini, kata Wahyu, notabene menjadi bukti nyata bahwa politisi menjadi pelaku bebal bahasa. Perilaku yang sama dilakukan oleh artis memopulerkan kata-kata seperti "kudeta hati". Padahal kata "kudeta" sesuai konteks politik bermakna perebutan kekuasaan dengan berdarah-darah sedangkan kata "hati" sesuai dengan konteks psikologi bermakna sifat batin manusia. Kedua kata itu berbeda konteks tetapi digabung sehingga tidak bermakna apa-apa. "Celakanga, kebanyakan kita malah kegirangan mendengar artis bebal berkata-kata seperti itu di TV," ujar Wahyu.

‎Menurutnya, dalam bahasa Indonesia dikenal tata permainan Bahasa Indonesia resmi tulis, tata permainan bahasa Indonesia resmi lisan, tata permainan bahasa Indonesia untuk sekadar di pasar, dst. Hakikatnya, mencerminkan adanya aturan-aturan tersendiri yang terkonteks dengan suatau nilai kehidupan. "Tidak dengan begitu saja menggabungkan dua kata dengan konteks yang berbeda seperti itu. Kalau itu terus dilakukan, beban namanya," demikian Wahyu.

Ihwal kesiapan guru bahasa Indonesia menghadapi MEA, Wahyu mengatakan, guru harus bersikap kritis terhadap paradigma linguistik struktural. Apalagi dengan kemunculan perlabagi bentuk wacana, guru harus memfokuskan pada hakikat penggunaan bahasa dalam kehidupan. Bahwa berbahasa dalam kehidupan harus berpijak pada semangat emansipatoris dan etis.

Tentang MEA yang notabene menjadi ajang konspirasi negara-negara kapitalis terhadap negara berkembangan, Wahyu menggarisbawahi, bahwa hakikay MEA adalah upaya para pemimpin nehata ASEAN untuk membentuk pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara. Hal ini sangat dipahami akan terjadi perembesan kebudayaan asing ke Indonesia baik melalui bacaan maupun tontonan yang secara ideologi kebangsaan akan memengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Disarankan, kata dia, guru bahasa Indonesia harus lebih mengajarkan cara berbahasa kepada siswa. Daripada "sekadar" membuat siswa menjadi seorang "linguist" yang hanya hafal teori-teori linguistik struktural. "Dengan menanamian‎ bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar hanya melalui paradigma linguistik struktural, justru menurut saya akan mencerabutkan siswa dari kehidupan keindonesiaa," tegasnya.

Sementara disampaikan Bunyamin Maftuh, Direktur Karier dan Kompetensi SDM Kemendikbud, guru berperan penting dalam perubahan pendidikan. Perubahan pendidikan bergantung pada perilaku dan pemikiran guru. Namun perubahan akan terjadi jika guru berkemauan keras dan menyiapkan dirinya untuk berubah. (Eriyanti Nurmala Dewi/A-147)***
Bagikan: