Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Miliki Ojek Online, Jabar Curi Start Songsong Era Kendaraan Listrik

Ai Rika Rachmawati
null
null

ERA kendaraan listrik akan segera dimulai. Kian menyusutnya cadangan energi fosil dan semakin masifnya pengembangan kendaraan motor listrik membuat moda transportasi tersebut digadang-gadang sebagai masa depan Indonesia.

Curi start, sebelum perkembangan kendaraan listrik semakin masif, Jawa Barat (Jabar) sudah mendahului dengan sudah memiliki ojek online berbasis motor listrik pertama di Indonesia. Uniknya lagi, berbeda dengan penyedia jasa transportasi online lainnya, ojek online motor listrik bernama Nura ini dikembangkan dengan menggandeng masjid.

Bisnis Partner PT Arindo Pratama, Erman Sumirat, mengatakan, dipilihnya masjid sebagai mitra bisnis karena pihaknya ingin membangun ekonomi umat. Dengan demikian, masjid bisa mandiri dan makmur tanpa mengandalkan bantuan umat.

"Nantinya masjid akan dititipkan satu unit motor listrik. Selain untuk ojek online, motor listrik ini juga akan digunakan untuk mengantarkan sembako," ujarnya, di Bandung, Rabu, 6 November 2019.

Pasalnya, menurut dia, selain transportasi online, Nura juga diperkaya dengan fitur sembako online dan PPOB. Untuk sembako online, pihaknya bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog).

"Aplikasinya bernama Waserba Nura. Sementara motor listriknya bernama Nura," kata Erman.

Untuk skema bisnisnya, menurut dia, masjid akan mendapatkan pinjaman unit motor listrik. Masjid juga akan dipasok sembako untuk dipasarkan kepada jamaahnya.

Ia memastikan, masjid tidak dipungut investasi awal. Sementara untuk skema keuntungan akan dilakukan dengan cara bagi hasil, dimana masjid akan mendapatkan keuntungan antara 50%-60%. 

Pada tahap awal, pihaknya menitipkan 15 motor listrik ke sejumlah masjid di Jabar. Beberapa diantaranya adalah di Kota Bandung, Kab. Bandung Barat, Bekasi, Karawang, Sumedang, dan kabupaten/kota di kawasan Pantai Utara (Pantura).

Masjid yang diajak bekerja sama, menurut dia, dipilih sesuai dengan rekomendasi PWNU (Nahdlatul Ulama) Jabar. Adapun kriteria pemilihan masjid adalah kedekatan (pengurus) masjid dengan umat, keaktifan masjid, dan lainnya.

"Pembagian 15 motor listrik ini dilakukan saat peluncuran Nura pada 1 November oleh Gubernur Jabar, Ridwan Kamil," ujarnya.

Ia menargetkan, sampai akhir tahun akan ada 50 motor listrik yang akan disebar ke masjid dan pesantren di Jabar. Menurut Erman, pihaknya terbuka untuk menjalin kerja sama dengan seluruh pesantren dan masjid di Jabar.

"Pendaftaran bisa dilakukan melalui aplikasi Waserba Nura. Nanti masjid yang mendaftar akan kami seleksi melalui rekomendasi PWNU," ujarnya.

Sebagai target awal, menurut dia, ojek motor listrik tersebut diproyeksikan untuk dapat membantu kemandirian 6.000 masjid di Jabar. Jika respon pasar baik, baru pihaknya akan memperluas pasar hingga ke seluruh Indonesia.

Kelebihan motor listrik

Adapun dipilihnya motor listrik sebagai moda transportasi yang digunakan, menurut dia, karena Indonesia akan memasuki era energi baru terbarukan (EBT). Kendaraan listrik, menurut dia, akan menjadi masa depan Indonesia.

"Motor listrik lebih clean dan lebih hemat biaya operasional," ujarnya.

Ia mencontohkan, untuk mengisi daya motor hingga penuh hanya diperlukan biaya sekitar Rp 8.000. Satu kali isi daya baterai diperlukan waktu sekitar 6 jam dan bisa digunakan untuk jarak tempuh 80-100 kilometer (km).

Ia mengakui, harga motor listrik memang lebih mahal dibandingkan dengan motor konvensional. Namun menurut Erman, pemeliharaan dan perawatan motor listrik jauh lebih efisien karena tidak membutukan suku cadang khusus.

"Cara perawatannya sangat mudah, persis seperti merawat telepon seluler," ujarnya.

Ia mengatakan, motor tersebut sudah menggunakan 40% konten lokal. Ke depan seluruh proses produksi akan dipusatkan di Cirebon, dengan kapasitas produksi 500-1.000 unit motor listrik per bulan.***

Bagikan: