Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Umumnya cerah, 27.3 ° C

Jokowi: Indonesia Bisa Bangun Mobil Listrik Murah dan Kompetitif

Muhammad Ashari
MOBIL listrik Tesla X.*/STEPHEN LAM/REUTERS
MOBIL listrik Tesla X.*/STEPHEN LAM/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Presiden Joko Widodo (JokoSementara bahan untuk membuat baterai ada di negara kita. Dengan demikian, strategi bisnis negara ini bisa kita rancang untuk membangun mobil listrik yang murah dan kompetitif,” katanya.wi) telah meneken Peraturan Presiden terkait mobil listrik, Senin 5 Agustus 2019. Perpres itu menjadi dasar bagi pengembangan industri mobil listrik di Indonesia.

Jokowi menegaskan mengenai ditekennya perpres itu seusai meresmikan Gedung Sekretariat ASEAN, Kamis 8 Agustus 2019. Dalam perpres tersebut, katanya, industri otomotif didorong untuk segera merancang dan membangun industri mobil listrik di Indonesia.

“Kita tahu, sebanyak 60 persen mobil listrik itu kuncinya ada di baterai.

Saat ini, harga jual mobil listrik dikatakannya masih lebih mahal 40 persen dibandingkan mobil berbahan bakar minyak. Dengan tersedianya bahan baku baterai di Indonesia, Jokowi mengatakan, diharapkan bisa berpengaruh kepada harga jual mobil listrik yang bisa ditekan lebih murah.

Ia menambahkan, persoalan mobil listrik bukan hanya mahal atau murahnya harga jual. Akan tetapi, yang terpenting adalah kemampuan konsumen untuk membelinya. “Tidak mungkin bikin (mobil listrik) bisa, tapi yang beli tidak ada. Untuk apa? Atau belinya murah, tapi rusak terus. Untuk apa?” katanya. 

Pasar otomotif

Menurut Jokowi, membangun industri mobil listrik akan memakan waktu yang tidak sedikit. Perencanaannya jangka panjang. Selain itu, perlu juga dilihat peluang di pasar otomotif, utamanya keinginan konsumen untuk membeli mobil listrik. 

“Kalau harganya (mobil listrik) terlalu mahal, siapa yang mau juga? Sehingga kita mendorong, terutama Gubernur DKI Jakarta yang APBD-nya besar bisa memberi insentif. Saya kira bisa dimulai,” katanya. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan turut mendampingi Jokowi saat menjawab pertanyaan wartawan. Saat itu, Anies mengiyakan ucapan Jokowi perihal insentif Pemprov DKI Jakarta bagi mobil listrik. 

Menurut Anies, sistem ganjil-genap bagi mobil yangf saat ini diberlakukan di sejumlah ruas jalan di Jakarta akan dikecualikan bagi mobil listrik. “Sistem ganjil-genap bebas bagi mobil listrik,” katanya.

Jokowi menambahkan, pengecualian sebagaimana yang diucapkan Anies itu bisa menjadi insentif. Namun ada juga bentuk insentif lainnya, seperti biaya parkir yang gratis, subsidi dan mendorong penggunaan transportasi publik yang memakai energi listrik.

“Ada negara-negara yang memberi subsidi sekian dollar untuk beli mobil listrik dan dimulai seperti di Jakarta, seperti melalui bus dan juga mendorong taksi-taksinya (menggunakan listrik),” kata dia.

Menurut Jokowi, membangun sebuah industri mobil listrik tidak mungkin satu atau dua tahun. “Pasti juga akan melihat pasar. Melihat pembeli,” tuturnya. 

Sistem fiskal

Pada kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, isi perpres beberapa di antaranya mengatur tentang tugas dari masing-masing kementerian ditambah dengan fasilitas yang diberikan kepada mobil listrik. Di samping itu, ada fasilitas yang terkait dengan perubahan sistem fiskal perpajakan terkait Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

Ia menambahkan, keseluruhan perkembangan teknologi mobil listrik dan regulasi ini akan diadopsi pada tahun 2021. “Artinya, kita berikan waktu kepada industri selama 2 sampai 3 tahun dalam meakukan investasi. Di dalam perpres juga diatur tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sampai tahun 2023 itu kira-kira 35 persen,” kata dia di Istana Kepresidenan, Rabu (7/8/2019).

Dengan TKDN mencapai 35 persen, ujarnya, diharapkan bisa mendorong ekspor ke Australia. “Karena dalam CEPA Australia dipersyaratkan 40 persen TKDN,” katanya.***

Bagikan: