Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Turunkan Emisi Gas Buang, Mobil Listrik Ditargetkan Tembus 20 Persen

Satrio Widianto
Mobil Listrik.*/SATRIO WIDIANTO/PR
Mobil Listrik.*/SATRIO WIDIANTO/PR

JAKARTA, (PR).- Pemerintah berkomitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (CO2) 29 persen di tahun 2030 sekaligus menjaga ketahanan energi, khususnya di sektor transportasi darat. Langkah strategis yang dilakukan adalah meningkatkan produksi mobil listrik dan tembus 20 persen dari total produksi mobil nasional pada 2025 atau sebesar 400.000 unit.

"Langkah strategis sudah dipersiapkan secara bertahap,  sehingga kita bisa menuju produksi mobil atau sepeda motor listrik yang berdaya saing di pasar domestik maupun ekspor," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto dalam ketetangan di Jakarta, Rabu 20 Februari 2019.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, pengembangan kendaraan listrik sebagai  komitmen pemerintah dalam upaya menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sekaligus menjaga ketahanan energi, khususnya di sektor transportasi darat. "Jadi, tren global untuk kendaraan masa depan adalah yang hemat energi dan ramah lingkungan," tuturnya.

Dikatakan, selain  dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil, kendaraan bermotor listrik juga dapat mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM) serta mengurangi ketergantungan kita pada impor BBM, yang berpotensi menghemat devisa kurang lebih Rp798 triliun.

Airlangga menegaskan, pihaknya juga terus mendorong agar manufaktur-manufaktur otomotif di dalam negeri dapat merealisasikan pengembangan kendaraan rendah emisi atau low carbon emission vehicle (LCEV) yang terprogram dalam roadmap industri kendaraan otomotif. Dalam peta jalan tersebut, terdapat tahapan dan target dalam upaya pengembangan kendaraan berbasis energi listrik di Indonesia.  

Lebih feasible

Pengamat ekonomi makro dari Universitas Indonesia, Faisal Basri  menyatakan, sejalan dengan arah menuju "green economy" maka perlu mengurangi dampak lebih besar dari perubahan iklim dan pengurangan emisi gas buang, saat ini salah satu penyumbang gas buang terbesar adalah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil.

“Ketika ditanya siapa yang mengkonsumsi bahan bakar fosil paling besar adalah sepeda motor. Oleh karena itu kalau ingin mengembangkan kendaraan listrik, lebih feasible jika mengembangkan sepeda motor. Selain teknologinya lebih sederhana, infrastruktur pendukungnya juga lebih mudah dibangun," ujarnya.
 
"Jadi tidak harus menggunakan tenaga listrik tegangan tinggi seperti pada mobil listrik. Kendaraan lainnya bisa juga yang bentuknya berupa transportasi publik seperti bus, mengingat sekarang jumlah kendaraan bus sudah semakin banyak di Indonesia," ujar Faisal.

Terkait dengan optimalisasi daya listrik untuk  kendaraan listrik, di mana kebutuhan listrik di tahun 2020 diperkirakan mencapai 279 MW dan tahun 2023 mencapai 2.279 MW, maka tanpa perlu menambah investasi, pasokan listrik PLN ini sudah cukup memadai.

Data yang diperoleh dari riset PLN, BUMN ini siap mendukung penggunaan mobil listrik dengan menyiapkan pasokan listrik dan infrastruktur pengisian baterei (Electric Vehicle Charger Station – EVCS) baik di rumah, stasiun pengisian, maupun mendorong agar pengisian SPLU ditempatkan di lokasi strategis seperti mal, perkantoran, sampai di pusat bisnis.

“Jika menggunakan mobil listrik, dengan kapasitas listrik yang ada, PLN tidak perlu menambah pembangkit, karena proses charging  mobil listrik dapat dilakukan di rumah, di saat beban rendah, antara pukul 22.00 sampai 04.00,” kata Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero) I Made Suprateka.***

Bagikan: