Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Menyeruput Kopi Preanger di Moskow, Rusia

Pikiran Pembaca Pikiran Rakyat
null
null

AWAL musim panas mulai menghangatkan kota Moskow. Sore itu banyak warga Moskow yang bersantai di taman Gorky Park. Sekalipun sudah memasuki musim panas, hujan terkadang masih mengguyur dan suhu udara bisa turun hingga 15°C. Seperti cuaca musim panas, demikian juga dengan relasi antara Indonesia-Rusia yang naik-turun sejak tahun 1950. Tetapi tampaknya hubungan kedua negara semakin hangat dan erat.

Belum lama ini, tepatnya pada 2-4 Agustus lalu, Kementrian Pariwisata  bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rusia menggelar Festival Wonderful Indonesia di Moskow. Festival yang digagas oleh Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia, Mohammad Wahid Supriyadi ini adalah penyelenggaraan festival yang ke-4 secara berturut-turut sejak tahun 2016. Mengusung tema “Visit Wonderful Indonesia: Enjoy Your Tropical Paradise”, festival ini berhasil menyedot 117.669 pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan. Meski tidak mencapai target 140 ribu pengunjung, dikarenakan faktor cuaca,yaitu hujan deras dan suhu dingin yang mengguyur kota Moskow, festival terbilang sukses. Museum Rekor Indoneia (MURI) pun memberikan penghargaan atas kesuksesan penyelenggaraan Festival Indonesia di Moskow tersebut.

Selain merupakan perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, festival itu juga menyambut peringatan 70 tahun relasi diplomatik antara Indonesia dengan Rusia pada 3 Februari 2020 mendatang. Hubungan diplomatik Indonesia-Rusia dimulai sejak 1950. Pada 1965 terjadi pasang surut relasi terkait dengan politik dan ideologi. Citra Rusia sebagai negara komunis masih melekat di benak sejumlah warga Indonesia. Festival Indonesia bertujuan untuk mengikis citra negatif sekaligus meningkatkan relasi yang semakin erat antar kedua negara.

Festival diadakan di Taman Krasnaya Presnya, taman indah seluas 16,5 hektar di pusat kota Moskow. Pemerintah Kota Moskow menyediakan secara gratis area taman untuk festival. Pemerintah Kota Moskow juga mempromosikan Festival Indonesia gratis, di stasiun kereta, bus-bus dan stasiun Metro yang dilalui jutaan orang setiap harinya.

Hubungan bilateral Indonesia-Rusia di bidang perdagangan mengalami kemajuan pesat. Pada tahun 2019, total nilai perdagangan kedua negara ditargetkan naik menjadi US$ 5 miliar atau sekitar Rp 6,4 triliun. Sebelumnya, pada November 2018, Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-33 ASEAN di Singapura. Presiden Joko Widodo mengungkapan keinginannya untuk semakin meningkatkan kerjasama saling menguntungkan dengan Rusia.

Rusia identik dengan vodka, minuman berkadar alkohol tinggi yang banyak dikonsumsi warganya. Jika ada minuman lain yang bisa bersaing popularitas dengan vodka di Rusia, itu adalah teh. Ya, ternyata orang Rusia juga gemar minum teh dengan rata-rata konsumsi 1,3 kilogram teh per tahun per kapita. Bandingkan dengan orang Indonesia yang hanya mengkonsumsi sekitar 0,4 kg teh per tahun per kapita.

Perkembangan teh di Rusia dimulai pada abad ke-17 ketika penguasa Mongolia menghadiahkan teh kepada Tsar Michael I. Semenjak itu mulailah berkembang konsumsi teh di Rusia dan memulai perdagangan teh menggunakan karavan-karavan melalui jalur sutra dengan China. Jenis teh yang disukai warga Rusia adalah teh hitam. Dalam sehari, warga Rusia rata-rata meminum dua cangkir teh.

Dari luas areal perkebunan teh nasional Indonesia, 77,64%-nya atau seluas 92.816 hektar kebun teh berada di Propinsi Jawa Barat. Indonesia sendiri berada di urutan nomor tujuh sebagai negara penghasil teh terbesar dunia dengan produksi mencapai 139.362 ton teh pada tahun 2017. Sementara itu, volume ekspor teh Indonesia ke Rusia sebanyak 11.445 ton senilai US$ 22 juta, dibawah China, India, Kenya Sri Lanka, Turki dan Vietnam. Impor teh Rusia sendiri mencapai 173 ribu ton di tahun 2015, hampir 9% impor dunia. Dari data tersebut, terlihat masih sangat besar potensi Indonesia, terutama Jawa Barat untuk meningkatkan produksi dan kualitas teh-nya sekaligus meningkatkan ekspor teh ke Rusia.

Sesudah teh dan vodka bagaimana dengan kopi? Konsumsi kopi warga Rusia mencapai 1,7 kg per kapita yang setara dengan konsumsi 120 cangkir kopi per orang per tahun.  Menurut data International Coffee Organization (ICO), tercatat konsumsi kopi Rusia periode 2016/2017 mencapai lebih dari 275 ribu ton dan berada di urutan ke-5 dunia, sedikit di atas konsumsi kopi orang Indonesia yang berada di urutan ke-6 dunia.

Perkembangan ekspor kopi Indonesia ke Rusia cukup menggembirakan, utamanya kopi dalam kemasan. Tahun 2018 lalu, PT. Mayora berhasil mengirimkan kopi cappuccino kemasan sebanyak 1.000 kontainer ke Rusia. Tahun 2019 ini ditargetkan dua kali lipat, yaitu mencapai 2.000 kontainer. Sangat menarik mengetahui bahwa warga Rusia menyukai kopi instan dalam kemasan dari Indonesia. Belakangan, pasar untuk biji kopi dan kopi bubuk juga semakin lebar.  Adapun produksi kopi Indonesia pada 2017 mencapai 655 ribu ton. Sementara produsen kopi terbesar dunia adalah Brasil dengan produksi 3,1 juta ton.

Selain masalah bisnis dan pariwisata, festival ini menjadi satu bentuk diplomasi budaya untuk mempromosikan dan mempererat hubungan Indonesia-Rusia. Selama tiga hari berturut-turut, berbagai kesenian dan tarian tradisional Indonesia ditampilkan di panggung utama. Kesenian tradisional dari daerah Jawa Barat yang ditampilkan adalah Bajidor Kahot, tarian dari tanah Karawang yang mengombinasikan tari ketuk tilu dan jaipongan sebagai dasar gerak. Selama pertunjukkan, bangku penonton penuh terisi. Mereka yang tidak kebagian bangku memilih berdiri dekat panggung agar bisa menyaksikan dengan jelas pertunjukan seni Indonesia. Anjungan Jawa Barat di festival ini juga sukses mencuri perhatian warga Moskow dengan berbagai produk kerajinan dan kuliner yang ditawarkan.

Mengacu pada data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan Rusia ke Indonesia tahun 2018 meningkat sebanyak 7% dari tahun 2017. Wisatawan Rusia sebanyak 125.700 orang mengunjungi Indonesia di tahun 2018, meningkat dari 117.500 orang di tahun 2017. Jumlah tersebut masih jauh di bawah Thailand dan Vietnam yang mampu mendatangkan wisatawan Rusia masing-masing sebanyak 1,22 juta dan 556 ribu pengunjung. Data di atas menunjukkan bahwa Indonesia belum menjadi destinasi utama masyarakat Rusia untuk berlibur. Sementara pantai-pantai di Negeri Gajah Putih mampu menyedot jutaan wisatawan dari Rusia.

Salah satu faktor penting terjadinya peningkatan wisatawan Rusia ke Indonesia adalah dengan dibukanya penerbangan langsung Moskow-Denpasar oleh maskapai penerbangan Rusia, Rossiya Airlines. Dengan penerbangan langsung Moskow ke Denpasar, waktu tempuh menuju Indonesia bisa dipangkas menjadi hanya 12 jam saja. Tidak heran jika kemudian jumlah warga Rusia yang tertarik untuk mengunjungi Indonesia pun meningkat. Penerapan kebijakan bebas visa kunjungan bagi warga Rusia yang ingin ke Indonesia juga semakin mempermudah orang Rusia untuk berwisata ke Indonesia. Selain kemudahan-kemudaha tersebut, yang paling penting sesungguhnya adalah destinasi wisata yang ditawarkan.

Kondisi geografis Rusia yang beriklim subtropis dengan 4 musim, mendorong sebagian warganya untuk melancong ke negara tropis, terutama pada saat musim dingin. Durasi musim di dingin di Rusia cukup lama dengan suhu udara musim dingin cukup ekstrim, bahkan di beberapa tempat bisa mencapai suhu -50°C. Sehingga tidak mengherankan jika Bali dipilih sebagai tujuan utama wisatawan Rusia karena Bali memiliki pantai-pantai yang tidak kalah indah dari pantai-pantai di Thailand.

Jawa Barat sejatinya juga mempunyai obyek wisata pantai yang menarik dan layak untuk dipromosikan. Sebut saja Pantai Pangandaran, Ujung Genteng, hingga Geopark Ciletuh di pesisir Selatan Jawa Barat yang tidak kalah mempesona. Pantai Ujung Genteng memiliki pasir putih, sedangkan Geopark Ciletuh sudah diresmikan menjadi bagian dari jaringan Taman Bumi Dunia atau UNESCO Global Geopark (UGG) sejak 2018 silam. Artinya, obyek wisata di Jawa Barat sudah mendunia, tinggal bagaimana kita menata dan mengembangkannya sehingga menjadi menarik dan nyaman untuk dikunjungi wisatawan utamanya wisatawan mancanegara.

Bandung Raya, meskipun tidak ada wisata pantai, tetap mempunyai obyek wisata yang menarik bagi wisatawan Rusia. Mengingat warga Rusia yang gemar minum teh, maka wisata kebun teh bisa menjadi atraksi wisata yang sangat menarik. Proses pengolahan teh mulai dari pemetikan daun sampai dengan tahapan-tahapan pengolahannya di pabrik hingga menjadi produk teh siap seduh sangat mungkin untuk disukai wisatawan. Jika dikolaborasikan dengan kegiatan budaya, seperti misalnya ‘upacara adat’ minum teh masyarakat Garut, yaitu ‘Nyaneut’ diikuti dengan kegiatan kesenian lainnya, tentunya bisa semakin menarik.

Penataan dan pengembangan destinasi wisata termasuk di antaranya adalah akses menuju obyek wisata dan akomodasi yang memadai sangatlah penting. Tidak hanya infrastruktur, penting juga disertai dengan pengembangan wisata budaya dan kuliner menjadi suatu kegiatan wisata yang komplet.

Sembari duduk santai di suatu café di taman ikonik Gorky Park, Moskow, penulis membayangkan: wisatawan Rusia sedang menikmati matahari terbenam di Teluk Ciletuh dari Puncak Darma sembari mengudap ubi Cilembu dan menyeruput kopi Preanger. Sedapnya…***

Desy Oktaviani, S.E.,M.T.A

[email protected]

Dosen Fakultas Bisnis dan Manajemen

Universitas Widyatama

 

Bagikan: