Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Menakar Kesetiaan Pancasila di Kalangan Milenial

Pikiran Pembaca Pikiran Rakyat
null
null

DALAM setiap awal perkuliahan tentang Pancasila, saya memulai dengan reflectip thinking, Mengapa harus Pancasila sebagai dasar negara ?    Pertanyaan ini menggiring mahasiswa untuk berfikir secara mendalam sehingga mereka meyakini mengapa harus Pancasila sebagai Dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini karena Pancasila seolah tak terjangkau melambung dalam sebuah angan. 

Beragam jawaban yang dilontarkan mahasiswa dimulai dari kebimbangan mereka atas pertanyaan tersebut jika dihadapkan pada realita,  tidak sedikit diantara mereka yang menyatakan bahawa seharusnya agamalah yang menjadi landasar kehidupan berbangsa dan bernegara, karena agama berisifat final dan jaminannya surga neraka. Namun diantara mereka juga menyadari bahwa jika atas dasar agama, agama mana yang mau dijadikan landasan , meskipun tidak ada agama yang mengajarkan keburukan, mengingat masyarakat Indonesia meyakini agama dan keperpecayaan yang tidak seragam. Disamping itu keberagaman masyarakat Indonesia, menuntut ada satu dasar sebagi visi besar untuk melangkah bersama. Perdebatan Pancasila sebagai dasar negara sudah selesai dan tidak harus diperdebatkan lagi. 

Pancasila dan anak milenial

Sebuah dasar negara haruslah dapat diimplementasikan bukan hanya sebatas  doktrin dan utopia, melain juga ada komitmen yang harus dibangun, karena itu penting mengenalkan kembali Pancasila pada generasi milineal sekarang ini. Karena dalam  era digital  beragam berita yang membangun pengetahuan Pancasila  dapat dikonsumsi oleh generasi milineal, pengetahuan itu dapat membentuk sikap dan tingkah laku apa yang akan mereka jalani. 

Generasi milineal dengan era diskrupsi berada dalam dua sisi, sisi pertama bisa jadi tetap menjadikan Pancasila di alam sana sebagai sebuah cita-cita dan dijauhkan dari realita (sebatas tahu), tetapi bisa jadi mereka benar-benar paham terhadap konsumsi berita yang mereka terima melalui gawainya, karena itu maintenance  pengetahuan mereka perlu terus diasah sebagai proses sosialisasi dan pewarisan nilai-nilai sehingga tidak menjauhkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, melainkan untuk terus beribadah sesuai ajaran agamanya dan tidak dicampur adukan dengan agama lain atas dasar toleransi; Menjalankan Kemanusiaan yang adil beradab, dengan memperlakukan dirinya sebagai manusia, makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna, menghargai nilai-nilai kemanusiaan, bertindak sebagi manusia, implementasinya antara lain tidak memakai bahasa “binatang” dalam bertutur kata, tidak menyakiti diri dan sesama baik sebagai citizen maupun netizen.

Membangun kesadaran besama sebagai warga masyarakat dengan meningkatkan kepedulian mereka, sikap Kepo yang dimiiki diarahkan menjadi rasa Empati bukan untuk jadi bahan hoax atau bullying. Kebiasaan menghargai pendapat orang dapat dimulai bagaimana menjadi anggota grup yang baik di media sosial, memberi komentar konstruktif dan tidak mendominasi atau ujungnya leave grup karena merasa tidak sepaham. Selajutnya media sosial diarahkan menjadi wahana silaturahim  untuk menumbuhkan simpati, peduli sesama sehihgga tumbuh keadilan sosial yang dimulai dari keadilan terhadap kelompok, dan tidak menjadikan kelompoknya ekslusif dan hanya kompak didunia maya tanpa aksi nyata.  

Mengajari anak milenial tentang Pancasila dekatkan dengan gawai mereka, pengetahuan yang mereka dapatkan dibuktikan dengan aksinya misalnya bagaimana implementasi nilai peduli sosial dengan membangun sociopreneurship.  Jiwa Sosial dan Jiwa Wirausaha menjadi dua kutub tarik menarik yang dapat kita wariskan pada mereka menjadi sebuah pribadi yang mandiri dan unggul, karena dengan kemampuan multi tasking  sangat mungkin mereka menjadi Implementator Pancasila  asalkan orang dewasa tetap mengarahkan dan menjadi contoh teladan. 

Menakar kesetiaan anak milenial terhadap Pancasila mulailah dengan mendekatkan mereka dengan aksi nyata melalui gawainya. Sejuta  Follower dengan sejuta satu aksi nyata.  

Selamat memaknai Pancasila dalam ruang nyata. ***

Elly Malihah

Dosen Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan: