Pikiran Rakyat
USD Jual 14.670,00 Beli 14.370,00 | Umumnya cerah, 27.7 ° C

Bukan Perkara Siapa Menang, Tapi Siapa Lebih Peduli Negeri

Pikiran Pembaca Pikiran Rakyat
null
null

KLAIM  kemenangan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menjadi bahan pembicaraan media hingga saat ini. Pasalnya, pemaparan angka yang dijadikan landasan keunggulannya tidak sama dengan hasil yang dikeluarkan lembaga resmi, Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jika melihat hasil hitung resmi KPU, dengan perolehan suara masuk sebanyak 86,44%, calon presiden nomor urut 01 unggul dengan 55,96%. Sedangkan penantangnya, calon presiden nomor urut 02 mendapatkan hasil lebih rendah, dengan angka 44,04% per hari ini, Jumat, 17 Mei 2019.

Perbedaan angka lembaga resmi jelas lebih diperhitungkan, dibandingkan hasil hitung tim kemenangan sendiri. Perlu diperhatikan, masyarakat melihat dan tentu dibuat bingung dengan hasil tersebut. Masyarakat pun dapat terpecah dengan hal ini, terutama pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Masih segar ingatan kita tentang HS, yang mengancam akan penggal kepala Jokowi, dalam sebuah video viral di media sosial. Sampai seperti itu, ia mengungkapkan kekesalannya terhadap rival calon pemimpinnya. Kejadian ini bukan peristiwa yang sepele, melainkan butuh refleksi. Siapa yang bertanggung jawab atas hal seperti ini?

Jujur, saya pribadi tidak suka dengan banyaknya pemberitaan politik, yang masih membahas ‘siapa yang menang’ atau ‘siapa jadi Presiden’. Menurut saya, masih banyak isu-isu penting yang perlu dibahas, dibandingkan kabar siapa yang berhak duduk di tahta tertinggi Istana Negara. Karena kita sudah melewatinya 17 April 2019 lalu. Isu-isu di bidang pendidikan, lingkungan, HAM, dan pro kontra lainnya lebih baik dijadikan senjata ‘siapa yang lebih peduli’ saat ini.

Isu lebih penting 

Pendidikan wajib belajar 12 tahun misalnya, yang masih menjadi konteks wacana lima tahunan. Belum lama ini juga muncul saran menghapuskan ujian nasional, digantikan dengan penelusuran minat bakat yang dilontarkan Sandiaga Uno, calon wakil presiden nomor urut 02 yang sempat menjadi bahan perbincangan. Namun, sudah tidak ada perkembangan lagi, mungkin akan dikembangkan kalau sudah jadi Presiden. Kasus lainnya yang sempat menghawatirkan adalah kasus perundungan anak sekolah. Tidak ada aksi nyata, selain memenjarakan dan menyalahkan anak-anak.

Permasalahan lingkungan juga menjadi salah satu peristiwa memprihatinkan saat ini. Viral beberapa saat lalu air kali Sunter berubah jadi biru. Ini bukan gejala alam, melainkan ulah manusia yang menjadi sejarah kelam. Dilansir dari Kompas, Petugas Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air Jakarta Timur, Mahfud, mengatakan jika kejadian tersebut sudah berlangsung dari tahun 2014. Diduga terdapat industri yang memang sengaja membuang limbah biru berbau tiner cat itu ke kali. Namun tidak ada kejelasan hingga saat ini, siapa yang perusahaan pembuang kotoran itu. Belum selesai masalah limbah plastik di Sungai Citarum, muncul lagi ulah pengusaha limbah yang membuat hajatnya ini ke tempat makhluk lain berkembang biak.

Hak asasi manusia juga jadi pro kontra yang ramai dalam Pilpres tahun ini. Kedua pasangan calon memiliki track record tersendiri, dalam menyelesaikan masalah yang jarang mendapatkan hasil temu ini. Janji penyelesaian kasus peninggalan Orde Baru, atau skandal penyiraman air keras Novel Baswedan, yang tidak pernah menemukan titik terang.

Sepertinya, kasus dan peristiwa-peristiwa tersebut dan banyak juga kasus lainnya lebih perlu pengawasan, dari kedua calon presiden untuk Indonesia yang lebih baik lagi. Bayangkan saja, ketika dua pemimpin tersebut saling memberikan sumbangsih bagi bangsa ini. Pasti banyak masalah dapat terselesaikan, dibandingkan ribut memperebutkan siapa yang seharusnya memenangkan Pilpres 2019 ini.

Komunikator politik

Joko Widodo dan Prabowo Subianto merupakan komunikator politik, sekaligus opinion leader bagi masyarakat Indonesia. Untuk menyampaikan pesan politisnya mereka tidak perlu membangun opini di masyarakat dengan susah payah, sulit memang kalau diilihat beberapa tahun ke belakang. Menurut Susanto dalam Jurnal Dinamika Komunikasi Politik dalam Pemilihan Umum, “keberhasilan membuat opini publik adalah kunci dari terbentuknya khalayak dalam komunikasi politik, mengingat pendapat umum sangat sensitif terhadap masalah yang menyangkut kepentingan dan dirasakan oleh masyarakat luas”. West dan Turner dalam Pengantar Teori Komunikasi juga menjelaskan jika masyarakat menentukan tindakan karena dipengaruhi oleh aspek yang menarik perhatian, dalam konteks ini dapat diartikan dikontrol oleh seorang komunikator politik. Rasanya, kedua calon presiden saat ini masih perlu memperhatikan pengaruhnya untuk masyarakat.

Sebagai seorang komunikator politik, juga opinion leader yang baik, sebaiknya masing-masing calon presiden dapat mengalah. Maksudnya bukan mengalah untuk menjadi Presiden, tetapi mengalah untuk mengerjakan isu-isu penting demi bangsa ini. Melaksanakan apa yang sudah dijanjikan selama kampanye beberapa bulan ke belakang. Mendengarkan masyarakat untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Memberikan tindakan dan pengaruh dalam konteks-konteks yang mendesak saat ini. Bukan hanya memperkuat basis daerah kemenangan atau saling klaim kemenengan. Bukan juga saling lontar ide, tapi tidak dikerjakan. Mending balik lagi saja jadi gubernur atau ketua dewan pembina partai kalau begitu.

Lebih baik lagi, jika kedua pemimpin bekerja sama membangun Indonesia lebih baik lagi. Bekerja sama dalam konteks bertukar pikiran, ide, dan gagasan. Jika sudah kalah, terima dengan lapang dada. Koreksi pemerintahan yang berjalan, dan bantu mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bersama.

Kiranya ini juga dapat menjadi refleksi kita bersama. Berusaha untuk jadi masyarakat yang bijaksana dalam mendengarkan pemimpinnya. Ketika pemimpin sudah melakukan hal yang terbaik untuk masyarakat, hendaknya kita puji dan kritisi secara bijak. Bukan hanya komentar dan memberikan hate speech yang akhirnya berujung bui. Menjadi masyarakat yang cerdas literasi. Jadi, ketika ada disinformasi kita bisa pandai klarifikasi. Jangan juga jadi masyarakat pasif, ketika penguasa melakukan korupsi secara aktif. Lawan sesuai dengan porsi profesi Anda. Semuanya akan berjalan dengan baik jika pemimpin dan masyarakat saling bekerja sama.***

Andryvho Fau

Mahasiswa Peminatan Jurnalistik

Prodi Ilmu Komunikasi FPIPS

Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan: