Pikiran Rakyat
USD Jual 14.060,00 Beli 14.158,00 | Sebagian cerah, 21.3 ° C

Mau Sampai Kapan Debat Pilpres Kurang Berisi?

Pikiran Pembaca Pikiran Rakyat
Dua Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berjabat tangan seusai Debat Pilpres 2019, 30 Maret 2019 lalu.*/REUTERS
Dua Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berjabat tangan seusai Debat Pilpres 2019, 30 Maret 2019 lalu.*/REUTERS

ALIH-ALIH  debat dan persaingan ide, acara debat Pilpres di tahun 2019 ini lebih seperti acara lomba pidato kampanye. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh masyarakat umum saja. Seringkali para pakar seperti dosen dan para ahli lain dibuat kecewa oleh jawaban para Paslon yang seringkali kurang memuaskan.

Pada debat pertama bulan Januari lalu, Mada Sukmajati, Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada menilai debat tersebut berlangsung datar. "Saya kira harus ada evaluasi untuk bisa membuat debat lebih dinamis di putaran-putaran berikutnya," ujar beliau yang dikutip dari bbc. Komentar-komentar seperti ini masih bermunculan ketika debat kedua dan ketiga berlangsung. Terakhir, pada saat debat ketiga 17 Maret 2019, dikutip dari Republika, Anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah juga ikut menilai bahwa baik Cawapres nomor 1 ataupun 2, sama-sama belum tajam dalam mengeksplorasi visi kebudayaan selama lima tahun ke depan.

Kekecewaan dari masyarakat juga kerap disampaikan. Baik itu terkait sistem debat ataupun jawaban para Paslon yang kurang memuaskan masyarakat. Kurang “panas”, tidak ada titik terang, kurang menyeluruh, banyak permasalahan yang tidak diangkat, dan lain-lain.

Bagaimana bisa memanas? Jika para paslon sendiri masih malu-malu untuk mengkritik program saingan mereka. Ditambah, acara sakral tersebut juga merupakan panggung yang pas untuk berkampanye. Daripada mengambil risiko menjadi pengkritik, lebih baik kesempatan itu digunakan untuk merayu hati masyarakat.

Maka dari itu, gaya komunikasi seperti retorika dan persuasif lebih ditekankan. Berani dikatakan, kata-kata manis dan persuasif tersebut lebih menonjol ketimbang ide-ide segar yang mereka sampaikan di debat Pilpres.Jadi, tidak salah jika nama yang sesuai untuk acara ini harusnya “Adu Kampanye Pilpres” daripada “Debat Pilpres”.

Sesungguhnya, debat Pilpres adalah acara dimana para calon presiden dapat menunjukkan seberapa besar ide-ide yang mereka miliki. Acara ini bertujuan agar masyarakat lebih tepat memilih calon presiden mana yang lebih siap untuk memimpin bangsa ini. Namun tujuan ini bahkan masih rancu bagi masyarakat. Hal ini dapat menjadi salah satu alasan mengapa strategi debat Pilpres di Indonesia perlu dibenahi.

Pertajam Strategi Townhall

Strategi townhall adalah salah satu strategi yang telah dipakai pada acara debat Pilpres di berbagai negara lain. Strategi ini adalah strategi di mana peserta debat akan menyampaikan gagasan kepada masyarakat dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mereka. Di Indonesia sendiri, gagasan dan pertanyaan telah diatur oleh para pihak KPU dengan melalui beberapa pengamatan.

Namun, bukan di situ letak permasalahan yang sesungguhnya. Selain para Paslon, tidak ada lagi yang boleh menanggapi atau mengkritik jawaban yang para Paslon utarakan. Inilah titik permasalahan dan perbedaan strategi Townhall negara Indonesia dengan negara lain. Kurangnya penggalian akan ide-ide para Paslon di acara debat.

Dalam strategi Townhall, moderator juga dapat mengomentari dan lebih “menggali” lagi jawaban yang dilontarkan oleh para Paslon. Hal ini telah dilakukan di berbagai negara demokrasi. Salah satunya terjadi di acara debat capres Amerika Serikat periode kemarin. Namun, sebelum hal ini direalisasikan, pemerintah harus membenahi terlebih dahulu UU No. 7 tahun 2017 alias UU Pemilu, di mana pada pasal 277 ayat 4 tertulis "Selama dan sesudah berlangsung debat Pasangan Calon, moderator dilarang memberikan komentar, penilaian, dan simpulan apa pun terhadap penyampaian dan materi dari setiap Pasangan Calon."

Terlebih lagi, moderator yang dipilih haruslah seseorang yang berpengalaman, memiliki penguasaan di bidang tema yang dibahas, dan juga dapat bersikap netral. Pandangan yang kritis dan gaya komunikasi andal juga harus dimiliki oleh moderator tersebut.

Pandangan yang kritis diperlukan agar moderator bisa menanggapi jawaban para paslon dengan baik. Sedangkan gaya komunikasi andal diperlukan agar tanggapan dari moderator tersebut tidak menimbulkan kontroversi di masyarakat.

Jika ide dan program yang mereka utarakan tidak punya kesempatan untuk diobrak-abrik, maka apa alasan bagi para Paslon mempersiapkan ide yang matang untuk acara debat? Lantas alih-alih bersiap untuk menunjukan kematangan programnya, para Paslon hanya dapat bersiap-siap untuk berpidato.

Peran Masyarakat Lebih Diperluas

Selain pertanyaan yang dibuat oleh KPU, seharusnya masyarakat juga dapat berpartisipasi secara langsung. Bedanya, pertanyaan yang diajukan oleh perwakilan masyarakat tersebut dibuat pada saat acara itu berlangsung. Lebih tepatnya pada saat menanggapi jawaban awal para Paslon. Tentu saja pertanyaan yang diajukan harus berkaitan dengan tema yang diambil oleh KPU di awal.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengundang beberapa perwakilan masyarakat untuk menghadiri debat Pilpres. Tentu masyarakat yang dipilih bukan dari pihak para Paslon. Perwakilan masyarakat dapat dipilih oleh pihak KPU. Untuk menghindari kampanye yang terselubung, perwakilan tersebut harus dirahasiakan dari media massa. Disarankan pula perwakilan yang diambil berasal dari beberapa mahasiswa netral dan kritis akan permasalahan Indonesia.

Alasan mengapa mahasiswa lebih baik dipilih adalah karena berdasarkan teori Masa Dewasa Awal oleh Santrock (2004) dan Gisella (1986) bahwa mahasiswa yang sedang memasuki masa ini berada dalam fase berfikir yang sangat kritis dan lebih kreatif dari biasanya. Mengedepankan keadilan dan juga keinginan untuk memberikan perubahan. Ditambah, beberapa mahasiswa berinteraksi langsung dengan kehidupan nyata dilapangan. Sehingga peluang untuk menghasilkan pertanyaan yang "merakyat" akan sangat tinggi.

Strategi ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendorong para calon presiden agar lebih berpikir kritis terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa tersebut secara langsung. Hal ini juga bisa membuat para Paslon lebih mempersiapkan diri untuk memberikan jawaban yang dapat memuaskan masyarakat.

Untuk melihat berapa nilai dari jawaban para calon, wakil masyarakat tersebut bisa langsung memberi penilaian. Apakah memuaskan atau tidak jawaban para paslon itu.Cara ini dilakukan dengan memencet tombol “puas” atau “tidak”. Sementara persentase hasil, akan keluar di akhir acara.

Meskipun jika dilihat secara sepintas, strategi-strategi tersebut tampak tidak cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia. Namun jika strategi ini dikemas dalam cara yang benar, maka bukan hanya para paslon yang akan terdorong untuk memberikan jawaban yang layak, tapi masyarakat juga akan merasa puas dengan acara debat Pilpres tersebut. Masyarakat akan melihat bahwa mereka pun mempunyai peran penting dalam adu strategi membuat Indonesia menjadi lebih baik. Kritik untuk debat Pilpres yang kurang berbobot pun akan minim.

Jika masalah kurangnya kualitas debat Pilpres ini terus dibiarkan, maka hanya tinggal menghitung waktu permasalahan ini hilang termakan oleh budaya. Masyarakat Indonesia akan terus dilanda keraguan dan keliru dalam memilih Paslon yang tepat. Acara debat akan menjadi acara kampanye. Lebih buruk lagi, masyarakat yang lebih memilih Golput pun akan terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Ketika semua itu terjadi, lantas apa guna debat pilpres di Indonesia ini?***

Ghina Fikriani

Mahasiswa Jurnalistik

Prodi Ilmu Komunikasi

FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan: