Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Ironi dan Optimisme Pemilu 2019

Opini Pikiran Rakyat
Pemilu 2019/ANTARA
Pemilu 2019/ANTARA

PEMILU 2019, yang puncaknya 17 April 2019 untuk memilih presiden dan anggota legislatif adalah pemilu yang paling rumit sekaligus penuh ironi. Berjalan penuh emosi diselingi kekerasan verbal bahkan fisik, gaduh, terkadang minim rasionalitas dan etika berpolitik,  serta berpotensi merusak keutuhan bangsa.

Namun kita sebagai bangsa pejuang yang sedang menapaki era baru yang penuh tantangan  harus tetap memiliki optimisme bahwa pemilu akan berjalan lancar sekaligus proses pembelajaran bangsa membangun kearifan dalam berpolitik. Dari pengalaman panjang berdemokrasi, semestinya kita sudah mampu membangun peradaban politik yang baik. 

Kegaduhan dan kekerasan verbal di ruang publik yang diekspresikan oleh para elite politik harus kita tolak secara tegas,  karena sesungguhnya melawan akal sehat. Elite politik harus menyadari dampak besar yang ditimbulkan, bahkan efek yang ditimbulkannya di kalangan akar rumput.

Elite politik harus menjadi pribadi panutan, sejatinya segala tindak tanduk akan dicontoh, ibarat guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Dampaknya akan semakin berbahaya jika diserap begitu saja oleh pengikutnya dan  para generasi muda. Nilai-nilai kesantunan berpolitik akan luntur, terganti dengan budaya caci-maki yang melahirkan pesimisme akan masa depan.

Ada beberapa contoh ironi pemilu, politik yang semestinya sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri. Bahkan ada yang berdampak kepada orang yang sudah meninggal. Seperti menimpa dua kuburan di Gorontalo yang harus dipindahkan karena keluarga jenazah berbeda pilihan calon anggota legislatif dengan pemilik tanah, meski masih ada  hubungan keluarga diantara mereka.

Pemilu juga menelan korban nyawa anggota Panitia Pemungutan Suara di Sampang Madura, bernama Subaidi (40), yang menjadi korban tewas perkelahian yang dipicu komentar di status Facebook mengenai perbedaan pilihan calon presiden. Contoh bagaimana media sosial kita saat ini dipenuhi hoaks, fitnah,  dan ujaran kebencian. Bahkan juga menimpa kepada penyelenggara pemilu.

Merawat optimisme

Pemilu 2019 memiliki dua sisi antara pesimisme dan optimisme. Pesimisme berangkat dari rasa kecemasan yang berlebihan akan dampak yang akan ditimbulkannya, sedangkan optimisme adalah  bagian dari keyakinan akan kemampuan bangsa untuk keluar dari beragam kesulitan dan krisis.

Dahulu ada anggapan kalau Presiden Soeharto jatuh, bangsa ini akan bubar. Kekhawatiran serupa juga terjadi pada Pemilu 1999 dan saat peralihan kekuasaan nasional. Alhamdulilah ketakutan akan terjadinya perpecahan tidak terjadi

Dinamika politik yang keras, diselingi berbagai pelanggaran diharapkan menjadi bagian proses pendewasaan bangsa Indonesia dalam berpolitik. Di balik beragam masalah sesungguhnya masih banyak alasan yang mendasari kita untuk  optimistis.

Dasar hukum penyelenggaraan pemilu yang damai dan berintegritas sesungguhnya sudah kokoh untuk menjadi dasar bagi penyelenggara pemilu. KPU, Bawaslu dan DKPP  sudah memiliki pengalaman dan kesiapan untuk pelaksanaannya.

Kita semua harus mendukung dan mengawasi  penyelenggaraan pemilu. Sesungguhnya terbuka ruang partisipasi yang luas untuk mendukung dan mengawasi secara konstruktif agar penyelenggara pemilu benar-benar menjaga kemandirian, imparsialitas, profesionalitas, dan integritas,  sehingga tidak ada celah yang dapat dikapitalisasi untuk mendelegitimasi Pemilu 2019.

Kita mendorong dan berharap pemerintah, TNI, dan Polri berperan menjadi pihak yang netral terhadap pihak yang sedang berkontestasi. Agar agenda politik rutin setiap lima tahun ini tidak mengorbankan kesatuan, persatuan,  dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

Ke depan, segenap komponen strategis bangsa, utamanya politisi wajib menghindarkan  pemilu dari politik yang saling menjatuhkan, saling menghina, dan saling menjelek-jelekan. Dan tentu kalau masyarakat sudah tidak lagi menerima politik uang, maka sesungguhnya akan mempersempit motivasi terjadinya politik uang .

Mari kita bangun politik optimisme, bukan politik pesimisme, politik untuk membangun kebajikan bersama dan politik yang mampu membangun harapan. Dan, tentu setiap agenda politik lima tahunan adalah momentum yang strategis untuk mengevalusi secara kritis dan komprehensif agenda kebijakan nasional sesuai harapan aspirasi terbaik rakyat.

Kita berharap semua komponen bangsa menjadikan pesta demokrasi rutin lima tahunan dilaksanakan dengan rasa suka cita dan semangat optimisme. Dan, mampu menumbuhkan keyakinan setelah pemilu usai kita akan menjadi bangsa yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera.

Pemilu harus terselenggara dengan baik dan berkualitas. Agar, pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang berkualitas.  Sesungguhnya bukan hal sulit, sekiranya kita memiliki semangat bela negara yang  memahami bahwa pemilu juga mengandung potensi destruktif yang dapat merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Dan, tentu kesiapan kita berkorban untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

Di sisi lain, kekerasan verbal juga tidak boleh dilawan dengan kekasaran lainnya. Jika itu yang terjadi, hanya akan terus-menerus mereproduksi kekerasan verbal. Kita bangsa yang memiliki selaksa kearifan dan kesantunan sebagai bangsa yang beradab untuk dapat melawan kekerasan verbal.

Merawat optimisme sesungguhnya menjaga nyawa demokrasi dari ancaman bahaya laten pendangkalan nalar dan kekerasan ekspresi. Kita berharap  dalam kontestasi menjadi pemimpin bangsa dan calon wakil rakyat di semua tingkatan berlomba-lomba menjaga adab lisan dan menarasikan harapan dan tawaran ideal bagi kesejahteraan bangsa.

Pemilu 2019, diharapkan melahirkan pemimpin bangsa dan politisi yang negarawan. Pemimpin dan politisi yang memberikan jiwa raganya untuk negara, dan mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, bahkan kepentingan partai politiknya.

Di tangan pemilih yang cerdas diharapkan akan menghasilkan kepala pemerintahan dan anggota parlemen yang terbaik sesuai harapan rakyat dan takdir terbaik bagi bangsa Indonesia ke depan. Semoga! ***  (Eki Baihaki, Dosen Pascasarjana Universitas Pasundan)

Bagikan: