Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 30.2 ° C

Pemimpin Ideal di Mata Milenial

Tim Pikiran Rakyat
null
null

PESTA demokrasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI 2019 yang akan bergulir kurang dari satu pekan lamanya semakin menarik dibicarakan. Bukan hanya di media online pertarungan pendukung petahana dan kubu oposisi semakin masif mendukung jagoannya. Berbagai kampanye politik telah dilakukan hingga saat ini melalui iklan, baliho, media online hingga kampanye akbar. Semua dilakukan untuk menarik banyaknya pemilih khususnya pemilih pemula yang memiliki peran besar dalam menentukan kemenangan. Pemilih pemula tersebut adalah generasi milenial.

Generasi milenial berasal dari istilah millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya yang berjudul Millennials Rising: The Next Great Generation (2000). Generasi Milenial merupakan generasi yang lahir pada rentang waktu tahun 1980 hingga tahun 1990 serta awal tahun 2000. Kedua pakar tersebut menciptakan istilah generasi milenial pada tahun 1982. Saat itu media mulai menyebut sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA pada tahun 2000. Oleh karena itu, hingga kini generasi milenial memiliki rentang usia sekitar 19 hingga 29 tahun yang di mana batas usia lulus SMA pada usia 19 tahun.

Dibandingkan generasi sebelumnya, generasi milenial memiliki karakter yang unik. Salah satu ciri utama generasi milenial ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Karena dibesarkan oleh kemajuan teknologi, generasi milenial memiliki ciri-ciri kreatif, informatif, mempunyai passion dan produktif. Menurut Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research dilansir dari Media Indonesia pada 28 Maret, generasi milenial memiliki tiga karakteristik utama yakni connected, creative, dan confidence.

Connected atau terhubung diibaratkan karena generasi milenial merupakan pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas. Selain itu generasi milenial juga aktif dalam berselancar di dunia maya baik media sosial maupun internet. Karakteristik kedua adalah creative. Karakter ini yakni generasi milenial berisi orang–orang yang berpikir out of the box. Kaya akan ide dan gagasan serta mampu mengomunikasikan ide dan gagasan dengan baik. Karakteristik terakhir adalah confidence atau kepercayaan diri. Generasi milenial merupakan orang–orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan berdebat melalui media sosial ataupun secara langsung.

Berdasarkan karakteristik tersebut milenial bisa diibaratkan generasi yang bebas namun tetap berjalan sesuai aturan. Generasi milenial memiliki banyak peran penting dalam pembangunan bangsa dan penentu masa depan Indonesia. Generasi milenial merupakan genersi penerus, yang akan membawa arah negeri ini.

Begitupula peran mereka dalam dunia politik khususnya dalam pesta demokrasi Pemilu 2019. Pada Suksesi politik 2019 menurut Sarah Nuraini Siregar, Koordinator Pusat Peneliti Politik LIPI, yang dilansir dari tirto.id pada bulan Maret lalu, 35 persen hingga 40 persen pemilih didominasi generasi milenial atau sekitar 80 juta dari 185 juta pemilih keseluruhan. Dengan jumlah yang tidak sedikit itu, partisipasi generasi milenial memiliki dampak besar dalam Pemilu 2019.

Dengan besarnya jumlah pemilih milenial dan dampak politik yang bisa mereka timbulkan, bagaimana tipikal atau karakter pemimpin ideal yang cocok dengan mereka? Generasi milenial merupakan generasi yang kritis. Beberapa faktor mempengaruhi pilihan bagi generasi milenial salah satunya terkait dengan kapabilitas dan track record. Track record yang dimaksudkan adalah  jejak prestasi serta tidak peduli berapapun usia calon pemimpin yang akan dipilih. Selain itu, generasi milenial memiliki kecenderungan ingin tahu lebih dalam, hingga mereka akan mengulik lebih jauh sisi kehidupan calon pemimpin yang akan mereka pilih untuk memimpin dirinya dan bangsanya.

Namun, berdasarkan survei Poltracking 2018 yang dilansir dari detik.com bulan Maret 2019, faktor rasionalitas berada di atas faktor sosiologis yang menjadi dasar penentu bagaimana pemilih milenial melabuhkan pilihannya. Faktor sosiologis, seperti agama dan etnis memberikan kontribusi signifikan pada perolehan suara dua kandidat. Namun, hal tersebut tidak menjadi suatu hal yang penting bagi generasi milenial dibandingkan dengan faktor pertimbangan rasional. Dalam faktor ini, pemilih milenial mengharapkan pemimpin yang benar-benar mampu menyeruakan kehendak mereka. Berbagai pencitraan politik yang dilakukan dapat dijadikan penentuan bagi para pemilih generasi milenial dan mampu menjaga nalar kritis dalam menentukan pilihan. Bukan menjadi pemilih apatis yang tidak mempunyai optimisme pada pemimpin.

Lalu, bagaimana dengan kedua kandidat calon presiden Pemilu 2019 bagi para generasi milenial? Pasangan kandidat mana yang paling unggul? Berbagai upaya telah dilakukan para pasangan calon untuk mendekati generasi yang memiliki suara penting dalam perang politik Pemilu 2019.

Sebagai contoh, pasangan calon presiden nomor 01 mendekati pemilihnya dengan berbagai hal yang dekat dengan ciri generasi milenial. Salah satunya adalah dengan merepresentasikan tampilannya dengan memakai pakaian yang santai, khas generasi milenial. Selain itu, pasangan ini aktif di berbagai platform media sosial yang sangat dekat dengan generasi milenial. Lain halnya dengan, pasangan calon nomor 02. Dengan menggaet pasangan muda yang dijadikan icon generasi milenial itu sendiri, pasangan calon presiden nomor urut 02 yakin generasi milenial akan berpihak pada mereka.

Namun, apakah hal tersebut berhasil? Berbagai lembaga survei mencoba mengukur kemana keberpihakan generasi milenial di antara kedua pasangan calon presiden Pemilu 2019. Salah satu lembaga survei Roy Morgan menunjukan calon presiden nomor urut 01 lebih disukai oleh kelompok milenial dengan persentase sebesar 61,5 persen. Hasil ini senada dengan survei yang di lakukan oleh Populi Center yang menyatakan bahwa pasangan calon presiden nomor urut 01 dipilih oleh 50 persen generasi milenial, dan nomor urut 02 mendapatkan 38,1 persen dari kelompok yang sama. Namun, ada yang berbeda dari hasil survei yang dilakukan oleh lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang menyatakan pada segmen usia atau kalangan milenial, lebih memilih pasangan nomor urut 02 dibanding pasangan nomor urut 01 dengan persentase 50,5 hingga 56,9 persen.

Berbagai kemungkinan bisa terjadi dalam kontes Pemilu 2019, perbedaan hasil survei merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Generasi milenial adalah generasi yang sangat terbuka, kritis,dan mencari kemungkinan tebaik. Pemimpin yang paling ideal bagi  milenial adalah pemimpin yang dapat memberikan dan menyeruakan pendapat serta keinginan mereka dalam berbagai aspek. Dengan 40 persen peran generasi milenial dalam pemilihan Pemilu 2019 merupakan peran besar dalam menentukan nasib bangsa hingga lima tahun ke depan.

Pesta demokrasi akan berlangsung kurang lebih sepekan kedepan. Pemilih generasi milenial masih dapat menilai dalam berbagai cara calon pasangan mana yang akan mereka pilih. Salah satunya melalui debat calon presiden yang tak lama akan berlangsung di putaran terakhirnya. Mau itu pilihan untuk sang petahana, ataupun oposisi. Generasi milenial bebas memilih sesuai keinginan. Kita doakan, semoga debat selanjutnya yang terjadi, bisa lebih baik dan bisa semakin meyakinkan pilihan dengan kualitas calon yang dapat dipertaruhkan. ***

Devita Savitri

Mahasiswa Jurnalistik Ilmu Komunikasi

Universitas Pendidikan Indonesia

 

 

 

 

 

Bagikan: