Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 19.9 ° C

Banjir dan Mitigasi Bangunan Publik

Opini Pikiran Rakyat
KONDISI Komplek Jati Endah Regency usai terdampak banjir bandang di Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Minggu, 10 Februari 2019. Banjir Bandang yang diakibatkan jebolnya dinding kali komplek tersebut memakan 3 korban meninggal dunia dan 3 lainnya mengalami luka dan merusak 12 rumah di mana 2 ambruk dan 10 lainnya rusak sedang.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
KONDISI Komplek Jati Endah Regency usai terdampak banjir bandang di Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Minggu, 10 Februari 2019. Banjir Bandang yang diakibatkan jebolnya dinding kali komplek tersebut memakan 3 korban meninggal dunia dan 3 lainnya mengalami luka dan merusak 12 rumah di mana 2 ambruk dan 10 lainnya rusak sedang.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANJIR bandang yang baru saja menerjang sebagian kawasan Kota Bandung bisa terulang kembali dengan daya terjangan yang lebih kuat. Perlu solusi mendasar yang mengendepankan usaha mitigasi dengan cara menerapkan teknik hidrologi.

Kasus banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua yang menelan ratusan korban jiwa bisa juga menimpa kawasan Bandung Raya. Apalagi beberapa bangunan publik seperti sekolah, pasar dan perumahan letaknya sangat rawan terkena banjir bandang.

Banjir bandang itu sebenarnya bisa diprediksi sebelumnya, serta dikurangi daya rusaknya dengan teknik hidrologi agar tidak banyak memakan banyak korban jiwa dan menerjang infrastruktur publik.

Sudah ada teknologi mitigasi banjir bandang yang bisa melindungi warga dan bangunan. Perpaduan antara monitoring curah hujan dan teknologi flexible ring net bisa mengatasi banjir bandang agar daya rusaknya berkurang. Dari peta geospasial bisa diketahui beberapa tempat yang kontur tanahnya rendah dan berpotensi menjadi area yang bisa diterjang banjir bandang. Untuk itu perlu dipasang flexible ring net di beberapa lokasi. Titik lokasi yang dipasang sebaiknya ditentukan setelah melakukan analisis dan simulasi beberapa kasus kejadian banjir. Analisis dan simulasi melibatkan lintas lembaga pemerintah dan masyarakat.

Aliran banjir bandang biasanya melewati cekungan lereng dan aliran sungai yang sudah terbentuk sebelumnya, namun karena debit airnya sangat banyak dan disertai debris (batu, tanah dan kayu) yang dibawa, maka aliran ini akan memiliki momentum yang besar dan merusak apa saja yang ada di depannya.

Kawasan Bandung Utara yang kondisi tutupan lahan dan hutan telah rusak berat perlu melakukan usaha mitigasi dengan konstruksi flexible ring net di beberapa titik.  Konstruksi tersebut terdiri dari serangkaian gelang baja yang berdiameter  antara 20 hingga 30 cm yang digabung menjadi sebuah jaring. Rangkaian gelang tersebut tersebut akan membentuk suatu jaring yang fleksibel dan akan sanggup menahan material sedang hingga besar yang terbawa aliran banjir bandang.

Konstruksi flexible ring net perlu dipasang secara bertingkat di sepanjang aliran sungai dan celah-celah yang menjadi dugaan aliran banjir bandang. Pemasangan konstruksi flexible ring net memerlukan analisa gaya impact dan pemilihan konstruksinya. Untuk masalah tempat pemasangan yang tepat membutuhkan data spasial dan aspek geologi.

Banyak bangunan dan infrastruktur publik yang berdampingan dengan aliran sungai, sehingga rawan bocor dan kondisi destruktif lainnya. Kondisinya semakin rawan karena banyak tanggul sungai di sekitar gedung yang dalam kondisi rusak. Untuk mengatasi kerawanan bangunan publik yang dekat dengan aliran sungai dibutuhkan metode dan teknologi pengamanan sungai yang cepat jika terjadi kondisi darurat yang mengarah kepada jebolnya tanggul dalam skala besar.

Kasus jebolnya tanggul yang sering terjadi memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya waktu yang cepat untuk mengatasi dengan peralatan khusus dan material siap pakai dan mudah dirakit. Semua itu sebaiknya dibakukan dalam manajemen mitigasi yang mampu mempersingkat durasi penanganan sehingga bisa cepat mengurangi risiko bencana.

Mekanisme cepat di atas ditandai dengan kemampuan untuk membuat kontruksi gabion atau bronjong yang bersifat tepat guna dan siap guna. Dalam kondisi darurat dibutuhkan metode atau teknologi yang bisa membuat bantalan gabion yang mudah diikatkan ke dalam dasar sungai untuk mencegah penggerowongan konstruksi gedung dalam tempo cepat.

Selain itu dalam kasus sergapan banjir bandang di perkotaan akibat tanggul jebol adalah teknologi turap atau bulkhead yang bisa dirakit dan dipasang secara fleksibel. Perlu inovasi teknologi tepat guna dan tepat material dalam pembuatan turap yang mengedepankan penggunaan material lokal yang mampu membentuk dinding kokoh untuk sungai di sekitar bangunan publik.

 Daerah langganan banjir membutuhkan infrastruktur yang memiliki tingkat kehandalan untuk menghadapi banjir. Untuk itu dibutuhkan perancanaan, kriteria teknis, dan analisis terhadap banjir. Dampak komulatif dan frekuensi terjadinya banjir yang diukur secara akurat dalam jangka waktu tertentu sangat berguna untuk menentukan spesifikasi pembangunan infrastruktur. Sehingga kerusakan infrastruktur yang parah yang menimpa jalan, bangunan, tanggul dan pintu air bisa direduksi.

Idealnya, pembangunan infrastruktur di daerah rawan banjir memiliki ketahanan konstruksi dan fungsi dalam jangka waktu yang panjang. Kebutuhan investasi infrastruktur yang penuh dengan risiko dan ketidakpastian itulah memerlukan sebuah Project Risk Management guna mereduksi kerugian.

Butuh sistem pompanisasi

Banjir yang terjadi di berbagai wilayah tidak bisa lagi diatasi secara konvensional. Dibutuhkan sistem pompanisasi yang andal untuk mengatasi banjir dan genangan air hujan di jalan dan permukiman. Sistem pompanisasi memerlukan kolam retensi atau kolam penampungan dengan luas yang memadai.

 Untuk kasus banjir yang sering menyergap Kota Bandung, pompanisasi dan kolam retensi perlu dibangun di beberapa tempat. Terutama yang terkait dengan aktivitas publik yang padat.

Kondisi jalan dan permukiman yang mengalami penurunan permukaan tanah mengakibatkan volume genangan semakin besar. Kondisinya semakin parah akibat laju pembangunan kota yang mengabaikan sistem drainase dan menjadikan badan jalan sebagai saluran pembuangan air hujan.

Untuk mengatasi banjir dan genangan air hujan di jalan perkotan dan lokasi permukiman dibutuhkan pompa mobile dengan jumlah yang cukup. Solusi mekanisasi untuk atasi banjir tersebut antara lain meliputi komponen permesinan seperti pompa air, sistem perpipaan dan berbagai jenis tanggul darurat hingga pintu air. Pemerintah Kota perlu menyiapkan beberapa unit pompa mobile untuk mengatasi genangan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan pompa banjir antara lain faktor intensitas hujan dan luas daerah yang terlayani atau daerah pematusan. Kinerja pompa banjir bisa tidak efektif jika posisinya tidak tepat. Begitu juga dengan kompetensi operator pompa banjir harus mampu mengukur dan menganalisa  elevasi dan fakta hidrologi yang sedang terjadi. ***( Totok Siswantara/ Pengkaji Transformasi Teknologi dan Infrastruktur)

 

 

 

Bagikan: