Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 28.5 ° C

Membangun Relasi dengan Sungai

Opini Pikiran Rakyat
SUNGAI Citarum.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
SUNGAI Citarum.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

FASILITATOR  pada Sidang Komisi Kongres Sungai (KSI) 4.0  pada 21 - 2 Maret 2019 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Didik Wahyudiono, mengungkapkan bahwa “salah kaprah (dalam mengatasi persoalan sungai) terjadi karena hubungan antara warga dan sungai telah lenyap. Tidak ada lagi relasi yang intim sebagaimana nenek moyang memperlakukan sungai ketika membangun peradaban.

Persoalan sungai saat ini dipandang sebagai persolan teknis yang konteksnya malah sulit dipahami para penggerak revitalisasi sungai, terutama pemerintah. Salah satu bentuk salah kaprah itu dicontohkannya, “Kadangkala malah muncul kesan bahwa upaya mengembalikan sungai pada fungsinya menjadi urusan proyek” (PR; 1/4/2019). Apa yang diungkapkan Didik Wahyudiono, tampaknya ada benarnya, terutama pada warga yang bermukim di kawasan perkotaan atau desa-kota desa yang telah atau sedang bertransformasi menjadi kota.

Ada survei  cukup menarik yang dilakukan oleh The Lodge Foundation (TLF) dan Konfederasi Anti Pemiskinan Indonesia (KAP-Indonesia) tentang persepsi warga yang berada di tiga desa hulu Sungai Cikapundung terhadap sungai. Dari 200 responden, sekitar 81% responden mengatakan limbah kotoran sapi dianggap paling berbahaya untuk Sungai Cikapundung. Sekitar 71%-nya mengatakan kotoran sapi dari sapi-sapi ternak masyarakat merupakan penyebab utama pencemaran  Cikapundung.

Ketika ditanyakan siapakah yang paling bertanggung  jawab untuk menjaga Cikapundung dari kerusakan, sekitar 62% responden mengatakan masyarakatlah yang paling bertanggung  jawab mengurus Cikapundung. Sekitar 82% responden bahkan berpendapat bahwa masyarakat yang seharusnya membersihkan sungai tersebut.

Sekitar 58% responden bahkan berpendapat pengolahan limbah adalah tindakan yang paling efektif menyelesaikan persoalan pencemaran Cikapundung. Namun, yang cukup kontradiktif adalah ketika sekitar 72% responden mengatakan merasa diuntungkan dengan keberadaan Cikapundung karena bisa dipergunakan sebagai saluran pembuangan limbah rumah tangga, peternakan, dan pertanian. 

Pernyataan yang cukup kontradiktif bahwa mereka merasa diuntungkan dengan keberadaan Cikapundung karena bisa dipergunakan sebagai saluran pembuangan limbah cukup menunjukkan, memang tidak ada relasi positif antara warga dengan sungai. Tentu, tidak terlalu tepat jika menggunakan pendekatan berpikir induksi --pengambilan kesimpulan secara umum berdasarkan pada fakta-fakta secara khusus-- bahwa persepsi masyarakat di tiga desa hulu Cikapundung merupakan representasi dari persepsi masyarakat tentang pencemaran dan fungsi sungai.

Namun dari survei tersebut barangkali bisa menunjukkan bahwa masyarakat pada dasarnya memiliki pemahaman tentang bahayanya membuang limbah ke sungai dan memiliki kesadaran (tanggung jawab) untuk menjaga lingkungan sungai, namun tidak memiliki relasi positif dengan sungai. Dengan demikian, bisa jadi melakukan advokasi tentang pentingnya menjaga lingkungan sungai dan membangun kesadaran dan pemahaman bahayanya membuang limbah ke sungai bukan merupakan program yang harus dikedepankan.

Tren berwisata

Kebijakan apa yang sekiranya bisa dilakukan agar perilaku kontradiktif tidak terus terjadi dan bisa mendekatkan masyarakat dengan sungai? Terjadi relasi yang positif. Membangun kembali relasi yang intim sebagaimana nenek moyang memperlakukan sungai ketika membangun peradaban tentu sudah tidak mungkin lagi dilakukan saat ini.

Peradaban manusia telah berkembang semakin modern dan persepsi terhadap sungai pun telah banyak mengalami pergeseran. Dalam riset yang dilakukan Herda Sabriyah Dara Kospa (Journal Tekno Global Vol.7 No.1/2018) tentang Kajian Persepsi dan Perilaku Masyarakat terhadap Sungai, dikemukakan bahwa “Persepsi masyarakat terhadap pelestarian sungai hanya membentuk perilaku individu yang positif, tetapi tidak membentuk perilaku yang baik tehadap lingkungan fisik dan sosial”. Dari apa yang dikemukakan dalam riset tersebut, tampaknya kebijakan dalam upaya menjaga dan melestarikan sungai harus  menyentuh atau mempengaruhi kepentingan dalam aspek fisik dan sosial.

 Salah satu kebijakan yang bisa dilakukan adalah menjadikan sungai-sungai sebagai tujuan/destinasi wisata dengan memanfatkan tren berwisata global yang sedang marak saat ini. Sedikitnya ada tujuh pemerintah daerah di Indonesia yang telah mengembangkan wisata sungainya dan telah menjadi pilihan wisatawan.

Sungai Kampar Riau dengan atraksi selancarnya, Sungai Musi  Sumatera Selatan dengan Bus Air, Sungai Kalisuci Jogyakarta dengan Cave Tubing, Spa Tepi Sungai Ayung Bali, Pasar Terapung Sungai Martapura Kalimantan Selatan, dan Arung jeram Sungai Nimanga Sulawesi Utara. Sementara Pemerintah Kota Bandung telah mencoba menjadikan Sungai Cikapundung sebagai destinasi wisata dengan Teras Cikapundungnya.

Yang harus dikaji kemudian adalah, apakah telah terjadi relasi positif antara warga lokal dengan sungainya pada saat destinasi wisata sungai sudah terbentuk? Mana yang harus didahulukan, mengkonstruksi fisik sebagai destinasi wisata atau membangun relasi positif terlebih dahulu?

Jawabannya tentu memerlukan kajian yang spesifik di tiap daerah. Yang barangkali harus dicermati adalah menyambut tahun 2019 muncul prediksi delapan tren wisata yang akan marak di tahun mendatang. Salah satunya di tahun-tahun mendatang wisatwan akan lebih sadar lingkungan.

Dalam catatan harian Kompas, sekitar 86% wisatawan mengatakan ingin menghabiskan aktivitas wisatanya yang berimbas pada lingkungan. Wisatawan milenial diperkirakan memiliki kesadaran akan lingkungan yang cukup tinggi dalam berwisata.

Pemerintah daerah yang memiliki sungai nampaknya harus bisa memanfaatan tren tersebut.  Banyak negara yang telah berhasil  untuk membangun  relasi positif warga dengan sungai dengan menjadikan sungainya sebagai destinasi wisata. Dan, pariwisata akan menciptakan peluang usaha lebih banyak bagi warga sekitar. *** (Lian Lubis, Kepala Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda)

Bagikan: