Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 26.3 ° C

Hoaks dan Efek Kupu-kupu

Pikiran Pembaca Pikiran Rakyat
ILUSTRASI hoax.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI hoax.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

HOAX  itu memiliki potensi yang bisa menyebabkan kekacauan, runtuhnya suatu bentuk pemerintahan, bubarnya suatu ikatan kebangsaan, bahkan perang saudara hingga kemungkinan perang yang meluas. Keadaan seperti itulah yang kemudian dikenal di dalam teori politik kontemporer dengan sebutan chaos politik.

Di dalam teori chaos politik, yang pada dasarnya merujuk teori matematika dan ilmu alam, antara lain adalah istilah efek kupu-kupu (butterfly effect). Teori kekacauan ini antara lain mengemukakan bahwa perubahan kecil (tak linear) pada satu tempat dapat mengakibatkan perubahan atau pun kekacauan besar di tempat lain. Penggambaran Edward Norton Lorenz merujuk pada sebuah metafora yang elok sekaligus mengerikan, bunyinya: "kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil hari ini, dapat menghasilkan tornado di Texas dalam beberapa bulan kemudian." Padanan "kepakan sayap kupu-kupu" di dalam ilmu aslinya (matematika) dikenal dengan sebutan "penarik perhatian" (attractor), kondisi awal suatu sistem berupa susunan numerik yang bisa berkembang menjadi ragam sistem lain yang lebih lebar/ besar. 

 Saya bukan ahlinya dalam matematika apalagi matematika tingkat tinggi seperti itu, maka segera melompat pada kenyataan bahwa teori tersebut akhir-akhir ini kerap dirujuk dan diterapkan pada analisa sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan pada umumnya. Atraktor di dalam politik (maaf, saya cari penggambaran mudahnya saja), kita padankan dengan juru kampanye di dalam kontes pemilu dan semacamnya.

Sesungguhnya, dalam perilaku politik yang normal, keberadaan atraktor ini wajar dan biasa-biasa saja, umumnya digunakan untuk menggerakkan goyangan pendulum dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Contoh sederhananya semisal penggunaan artis atau pesohor di dalam kegiatan-kegiatan kampanye. Dengan catatan tambahan, juru kampanye atau atraktor di sini adalah sosok yang teridentifikasi atau dikenali secara umum.

Tapi, bukan tidak mungkin adanya pihak yang menghendaki politik menjadi tidak normal alias kacau, pelaku atau atraktornya dibikin samar bahkan beridentitas palsu, dan/ atau mereka yang relatif jelas identitasnya namun memainkan muatan atraksi yang disamarkan, dipelintir dari kebenaran sejatinya. Bisa pula berupa kebohongan hingga penggunaan kata-kata kasar yang tidak patut diterakan pada manusia. Bisa pula dasarnya adalah fakta namun diplesetkan demi menimbulkan ketidaksukaan/ kebencian kepada pihak tertentu. Inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah hoax.

Waspada terhadap agenda tersembunyi

Para pelaku hoax berada di dalam dua kemungkinan. Pertama, mereka yang semata-mata berlandas emosional yang melempar hoax begitu saja, tujuannya asal ramai dan menimbulkan kegemparan. Kedua, adalah mereka yang menyadari bahwa hoax itu adalah atraktor serupa kepak sayap kupu-kupu yang bisa menjadi badai. Baik golongan 1 ataupun 2, itu sama-sama menggunakan alat produksi industri 3.0, yaitu telefon cerdas sekaligus dengan sadar bahwa “gelombang”nya kelak bisa memengaruhi media konvensional, menjadi berita alias kian membesar. Artinya,  mereka pun menyadari bahwa gabungan dari itu semua bisa mengubah “kepak sayap kupu-kupu” untuk menjadi gelombang besar, kehebohan, hingga daya untuk mempengaruhi sejumlah orang di luar sana yang kemudian ikut serta memperbesar gelombang hingga menjadi badai.

Daya ini pula yang dimainkan di dalam hoax politik, seperti halnya yang kita rasakan berupa banjir hoax menjelang Pemilu 2019 saat ini.    

Hitung-hitungan awalnya relatif naif, hoax dibikin demi menggiring opini publik menjadi tidak suka itu dan berpihak ke ini, dan/atau dalam tujuan naif demi pemenangan ini alias mengalahkan itu.

Para pelaku hoax politik yang naif ini, entah, mungkin sadar atau tidak sadar bahwa lemparan hoax sekecil apapun, itu sesungguhnya memiliki potensi menimbulkan badai dan kekacauan. Entah, apakah mereka memikirkan atau tidak bahwa impak hoax itu bisa membesar lantas membentuk kekacuan pikir, terpelesetnya persepsi, kebingungan, dan kecemasan yang meluas di tengah kehidupan masyarakat.

Yang lebih mengerikan lagi manakala kepak sayap kupu-kupu itu sesungguhnya berada di tempat jauh, mungkin pula sejatinya tidak kita kenali, ia tersembunyi di “rimba raya,” tak tersentuh tapi di sebaliknya adalah agenda besar dalam bentuk desain bahwa kekacauan itu memang dikehendaki dan diciptakan demi robohnya gerbang, hancurnya tatanan suatu bangsa atau negara, kekacauan yang masif, hingga kemungkinan peperangan.

Itu artinya pedoman berbangsa dan bernegara dalam bentuk undang-undang, hukum dan segenap aturan lainnya menjadi hancur dan/ atau tidak berlaku lagi sehingga agenda besar yang tersembunyi tadi bisa melenggang masuk dan menggantikan keseluruhan sistem.

Agenda besar yang tersembunyi ini bisa saja menyelusup dengan berbagai cara ke dalam struktur bangunan bangsa/negara, dan/atau dengan cerdik memanfaatkan para pembuat hoax yang naif tadi.

Kita semua tentu tak menghendaki itu semua, melainkan tetap sebagai satu kesatuan bangsa dan negara (NKRI). Kita telah menjadi “sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat” seperti tersurat dalam butir pertama Trisakti yang dikemukakan oleh Proklamator Soekarno di awal kemerdekaan Indonesia. Kita tentu tak akan pernah rela jika bangsa dan negara ini menjadi hancur dan kemudian digantikan oleh bentuk lain yang berasal dari antah-berantah.

Ke arah tujuan untuk tetap menjaga dan mempertahankan NKRI dengan landasan Trisakti Bung Karno, kiranya tak ada jalan lain; kita mesti menyatakan perang terhadap hoax yang menebarkan kebencian dan berpotensi memecah belah atau membuat kita jadi saling membenci.

Kita mesti siaga untuk senantiasa mematikan setiap kepak sayap-sayap hoax sejak anginnya belum membadai, dan itu mesti dimulai dari diri kita masing-masing.

Sebagai penutup catatan, perlu disampaikan bahwa ada sisi lain yang bersifat positif dari teori chaos yang berlandas pada metafora “kepak sayap kupu-kupu” ini. Di atas, memang, cenderung mengemukakan kengeriannya jika teori ini diarahkan ke hal yang buruk agar kita paham dan siaga. Tapi di sisi lainnya dan lebih khususnya saat kita memasuki masa Revolusi Industri 4.0,  “teori kepak sayap kupu-kupu” sejatinya bisa diarahkan pada kebaikan, kreativitas, industri kreatif, pemuliaan manusia. Gelombang energi serta kemungkinan matematiknya tetaplah sama, jika ia digunakan untuk kebaikan maka akan menghasilkan gelombang kebaikan yang besar pula. ***

(Herry Dim, pekerja seni, pengamat kebudayaan, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)

Bagikan: