Pikiran Rakyat
USD Jual 14.616,00 Beli 14.316,00 | Cerah berawan, 29 ° C

Pendidikan Literasi Digital Kunci Hadapi Revolusi 4.0

Pikiran Pembaca Pikiran Rakyat
null
null

DALAM berbagai kesempatan, pemerintah Republik Indonesia menyampaikan tentang progres pembangunan infrastruktur teknologi komunikasi di Indonesia. Termasuk pemerataan akses internet hingga manfaat bagi masyarakat di seluruh penjuru negeri. Sejumlah istilah ini belakangan mulai sering kita dengar, mulai dari palapa ring, infrastruktur langit, hingga unicorn.

Dalam debat capres beberapa waktu lalu, Jokowi menyampaikan jika saat ini proyek Palapa Ring sudah 100% untuk wilayah barat dan tengah. Sementara untuk wilayah timur kurang 10% dan dijanjikan selesai pada Juni 2019 ini. Palapa Ring adalah proyek infrastruktur telekomunikasi yang menggunakan teknologi serat optik yang akan dibentangkan hampir ke seluruh wilayah Indonesia

Nampak menjanjikan. Itu artinya dalam waktu dekat akses informasi akan merata di seluruh wilayah Indonesia. Tidak hanya masyarakat di kota-kota besar yang bisa akses media sosial, berselancar di internet untuk akses sumber-sumber informasi seperti jurnal maupun portal berita, hingga memanfaatkan video call tanpa putus-putus. Tapi, masyarakat di pelosok Indonesia pun akan mendapatkannya. Ketimpangan akses internet ini pernah disingung oleh stand up comedian Ernest Prakasa dalam film “Susah Sinyal”.

Pemerataan Akses Informasi

Sebuah studi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 mengenai '’Most Literate Nations in The World" menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari total 61 negara, atau dengan kata lain minat baca masyarakat Indonesia disebut-sebut hanya sebesar 0,01 persen atau satu berbanding sepuluh ribu. Bisa jadi, ini juga disebabkan permasalahan akses sumber bacaan yang terbatas.

Kita sepakat, bahwa akses terhadap informasi (pendidikan) itu penting. Pendidikan adalah pemutus rantai kemiskinan yang paling efektif. Namun hari ini, betapa sulitnya mengahadirkan pendidikan di daerah-daerah pelosok tanah air. Mulai SDM yang terbatas atau bahkan tidak ada, hingga sarana dan prasarana yang jauh tertinggal. Dengan internet kita berharap bakal meningkatnya tingkat literasi masyarakat Indonesia melalui sumber-sumber informasi online yang komprehensif.

Permasalahan-permasalahan yang selama ini muncul dalam pendekatan manual semoga dapat diselesaikan. Seperti masalah distribusi buku (tercetak) ke pelosok negeri, selain butuh waktu, juga butuh biaya yang tidak sedikit. Keterbatasan jumlah buku yang dikirim, tempat untuk memajang (sejenis perpustakaan) hingga kemampuan mengelola perpustakaannya. Jika akses internet sudah merata, buku digital (e-book), audio book, atau video pembelajaran, bisa menjadi jawaban akan permasalahan tersebut.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) oleh PBB pada tahun 1948, pasal 19, menyatakan bahwa mengetahui informasi adalah hak asasi (right to know) setiap manusia. Maka tersedianya akses untuk dapat mengetahui informasi harus dijamin oleh penyelenggara negara. Sehingga upaya untuk membangun “tol langit” atau “Palapa Ring” harus terus kita dorong, demi terwujudnya pemerataan akses informasi.

Pasar Bisnis Semakin Luas

Tersedianya akses internet yang baik juga memungkinkan bergeraknya roda ekonomi di daerah. Bagaimana tidak, masyarakat daerah yang selama ini jauh dari pusat perdagangan, akan dapat terhubung langsung dengan pasar yang lebih luas, bahkan global. Kondisi tersebut, saat ini sudah berjalan di kota-kota besar. Seseorang pedagang baju  yang tinggal di pinggiran, jauh dari pusat industri, dapat menjadi pebisnis dengan omset ratusan juta hingga milyaran. Kita mengenalnya dengan sebutan online shop. Sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya.

Bahkan Presiden jokowi pernah menyebut, jika bisnis digital di Indonesia sebagain sudah masuk kategori unicorn, yaitu start-up yang memiliki valuasi senilai USD 1 miliar (sekitar Rp 13,1 triliun) atau lebih. Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak meraihnya kurang dari 10 tahun sejak didirikan. Pekembangan yang sangat cepat, sulit diwujutkan oleh perusahaan lain yang tidak berbasis digital.

Di Jawa Barat, Gubernur Ridwan Kamil menyampaikan akan menyiapkan aplikasi dagang online bagi para petani, peternak, dan nelayan di Jawa Barat. Melalui aplikasi tersebut, petani, peternak, dan nelayan bisa langsung terhubung dengan pembeli. Sehingga rantai distribusi semakin pendek dan mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Awas Jadi Korban Perkembangan Teknologi

Pembangunan infrstruktur komunikasi dan segala manfaatnya memang patut kita sambut baik. Meski bukan berarti kita tidak memikirkan resiko-resikonya. Karena perkembangan teknologi yang tidak diikuti dengan kesiapan manusianya adalah bencana!

Tentu kita sudah sering  mendengar berita mengenai seorang anak yang diculik oleh temannya di media sosial, kan? Penipuan saat jual beli melalui online, atau bahkan jerat UU ITE kepada mereka yang tak mampu menggunakan media sosialnya dengan bijak. Media sosial sesungguhnya adalah dunia yang seolah bebas, tapi penuh dengan aturan.

Hal tersebut tentu tidak kita harapkan terjadi di beberapa daerah yang mulai mendapatkan akses internet setelah Palapa Ring selesai 100 persen. Mereka harus dipastikan sudah siap menggunakan segala fasilitas dari perkembangan teknologi. Pun dalam bisnis, jangan sampai mereka hanya menjadi masyarakat yang dijejali berbagai produk, sehingga menjadi konsumtif dan bukan sebagai pelaku bisnisnya.

Pentingnya Pendidikan Literasi Digital

Menyiapkan masyarakat yang siap menghadapi perkembangan teknologi menjadi sangat penting. Pendidikan literasi digital sudah harus dimulai di berbagai tingkat pendidikan. Baik formal maupun non formal. Jika memungkinkan, masuk kurikulum pendidikan dari tingkat SD sampai dengan SMA. Baik sebagai mata pelajaran khusus, atau hanya sebagai sisipan di mata pelajaran tertentu.

Mengutip Novi Kurnia dan Santi Indra Astuti dalam sebuah jurnal berjudul “Peta Gerakan Literasi Digital Di Indonesia: Studi Tentang Pelaku, Ragam Kegiatan, Kelompok Sasaran Dan Mitra“; Konsep literasi digital dilontarkan oleh Paul Gilster pertama kali pada tahun 1997 dalam buku berjudul Digital Literacy. Gilster mendefinisikannya secara sederhana sebagai ‘literacy in the digital age’, atau kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi melalui beragam sumber digital (Bowden dalam Lankshear & Knobel, 2008:18). Dalam perkembangannya, digital literacy atau tepatnya digital literacies didefinisikan sebagai ‘practices of communicating, relating, thinking and ‘being’ associated with digital media’ (Jones & Hafner, 2012:13).

Untuk itu, masyarakat harus segera disiapkan agar mampu memilih dan memilah konten yang mereka dapatkan di media berbasis internet. Mereka juga harus mampu menggunakan media sosial dengan bijak. Pentingnya memberi penyadaran jika internet bisa jadi sumber informasi bermanfaat, tapi juga mungkin menjadi peluang kejahatan.

Orang tua juga perlu dibekali cara untuk memilih dan memilah konten bagi anaknya di internet. Jangan hanya memberikan perangkatnya, tapi tidak berperan serta mengawasi penggunaannya. Karena konten pornografi, radikalisasi,  kekerasan terpapar luas di internet. Antisipasi sebelum terjadi melalui pendidikan literasi! ***

Achmad Abdul Basith

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad

 

 

 

Bagikan: