Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 22.2 ° C

Kerusakan Katastropik Pesawat

Opini Pikiran Rakyat
ILUSTRASI pesawat Ethiopian Airlines.*/ AMR ABDALLAH DALSH/REUTERS
ILUSTRASI pesawat Ethiopian Airlines.*/ AMR ABDALLAH DALSH/REUTERS

PERISTIWA jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ET-302, menyebabkan pemerintah Indonesia memutuskan melarang terbang sementara untuk jenis pesawat Boeing 737-8 MAX.  Pengandangan atau grounded jenis pesawat itu  menjadi pelajaran pahit bagi segenap entitas industri penerbangan.

Maskapai penerbangan yang mengoperasikan jenis pesawat di atas tentunya sangat merugi dengan keputusan tersebut.

Oleh sebab itu, perlu mencari solusi terkait dengan sistem pembiayaan pesawat serta membenahi SDM dan tata kelola inspeksi. Perlu training kembali para pilot dan copilot dengan simulator pesawat jenis itu sesuai dengan petunjuk otoritas keselamatan penerbangan dan pihak pabrikan.

Semua produk teknologi canggih sudah barang tentu mengandung kendala disain (design obstacle) yang terkait dengan persoalan disain dan produksi. Celakanya, kendala tersebut bersifat tersembunyi sedemikian rupa, sehingga sulit diamati atau dideteksi secara dini oleh perencana atau pembuatnya.

Hingga produk itu dijual kepada pihak lain risiko tersebut masih menempel. Terganggunya atau penyimpangan fungsi kontrol pesawat bisa jadi menyebabkan kerusakan berantai (chain of damage) atau berupa kegagalan berantai (chain of failure) yang bisa bersifat fatal dan menyeluruh alias katastropik.

Jika salah satu komponen aktif pesawat rusak atau terjadi kesalahan oleh perangkat lunak yang berfungsi mengendalikan misi penerbangan, maka kerusakannya dengan segera akan menjalar ke seluruh sistem. Kerusakan mendadak dalam skala besar dan berlangsung dalam waktu yang sangat pendek itu lazim disebut kerusakan katastropik.

Untuk menghadapi masalah katastropik  dibutuhkan peran SDM teknologi yang benar-benar menguasai sistem teknologi dan aspek desain pesawat. Kerusakan katastropik sangat fatal karena saat ini fungsi pilot dan copilot sebagian besar telah diambil alih oleh perangkat lunak komputer.

Pengembang produk baru pesawat terbang selalu berusaha untuk melangkah lebih jauh dengan fitur automatisasi, padahal fitur konvensional yang relatif lebih sederhana ternyata lebih aman dan bila terjadi masalah katastropik bisa segera diatasi.

Peristiwa kecelakaan dua pesawat jenis  Boeing 737 MAX berturut turut dalam lima bulan terakhir tentunya bukan faktor kebetulan. Pasti ada problem katastropik yang diduga ada dalam perangkat lunak Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Kecelakaan pesawat jenis ini menimbulkan enigma atau teka-teki besar bagi dunia penerbangan. Pasalnya, kondisi pesawat itu masih baru dan jenisnya paling canggih di kelasnya.

Untuk menguak enigma itu perlu melibatkan pabrik pembuat pesawat terbang itu. Karena dikhawatirkan atau diduga terjadi cacat desain sejak fabrikasi yang selama ini tersembunyi, alias belum diketahui. Kasus seperti di atas bisa berakibat terjadinya kegagalan fungsi mesin, struktur dan sistem pesawat.

Pesawat paling canggih

Para operator industri penerbangan menyatakan bahwa jenis pesawat B737 MAX  8 sangat istimewa dan paling canggih di kelasnya. Boeing 737 MAX  8 didesain sebagai pesawat yang paling efisien bahan bakar di kelasnya. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya B373 NG kebutuhan bahan bakarnya lebih hemat 20 persen.

Selain hemat bahan bakar,  daya jelajah terbangnya juga lebih jauh hingga 340-570 mil laut dari pesawat generasi sebelumnya.

Hal itu bisa terwujud karena adanya penyempurnaan atau inovasi dalam hal aerodinamika sayap dan mesin pesawat. Sayapnya merupakan model baru dengan prinsip desain winglet, yang biasa disebut Scimitar Winglet. Ujung  kedua sayap bentuknya seperti membentangkan salam dua jari, satu menjulur ke atas dan satu ke bawah.

Dari aspek kinerja mesin pesawat, B737 MAX menggunakan mesin jenis terbaru, yakni jenis CFM LEAP 1B. Desain mesin ini lebih halus suaranya dibandingkan generasi mesin sebelumnya, yakni CFM56. Dari sisi konstruksi, diameter mesin CFM LEAP-1B juga lebih besar 20 cm, sehingga menurut Boeing, menghasilkan thrust lebih besar.

Konsumsi bahan bakar avtur mesin ini diklaim 12 persen lebih hemat. Operating cost-nya juga diklaim 7 persen lebih hemat dibanding mesin CFM56 yang dipakai generasi pesawat sebelumnya B 737 NG (Next Generation).

Hingga awal 2018 industri pesawat terbang Boeing menyatakan telah menerima 3.000 pesanan B737 MAX 8 dari berbagai eperator di seluruh dunia. Beberapa operator penerbangan di Indonesia sudah mengoperasikan berbagai jenis pesawat produksi Boeing dan tengah memesan beberapa pesawat generasi baru. Beberapa jenis pesawat Boeing juga sudah dipensiunkan alias sudah tidak diterbangkan lagi, seperti jenis  B737-300 dan B737-500 B737-800.

Laporan KNKT

Hasil kerja Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT) yang telah dirilis  terkait kecelakaan Lion Air JT610 jenis B737 MAX 8  harus terus ditindaklanjuti bersama pihak pabrikan.

Laporan KNKT itu juga menyertakan cuplikan grafik hasil pembacaan Flight Data Recorder (FDR)  dari black box pesawat naas yang ditemukan.  Terlihat pilot beberapa kali mengatasi sistem antistall yang terpasang dalam sistem kendali terbang pesawat. Pilot berupaya mendongakkan moncong hidung pesawat (nose up), sementara sistem antistall justru memerintahkan ekor horizontal pesawat untuk melakukan trim yang berakibat menurunkan hidung pesawat.

Akibatnya, pesawat bergerak dengan konflik perintah karena ada dua lini komando. Satu komando lahir dari gerakan pilot yang meminta arah hidung mendongak, sementara komando lain muncul dari sistem autopilot yang dikendalikan oleh komputer yang  ditrigger oleh sensor, yang  memerintahkan pesawat menurunkan sudut serang.

Kondisi  di atas mengakibatkan lintasan terbang pesawat naik turun seperti gelombang dan mengalami getaran yang luar biasa. Kemudian jatuh ke laut dengan kecepatan kurang lebih 500 km per jam dari ketinggian 5.000 kaki.

Mengambil hikmah dalam kasus kecelakaan JT610 dan ET-302 perlu pemahaman yang komprehensif dan mendalam terkait sistem antistall pesawat terbang yang dikenal sebagai Maneuvering Characteristics Augmentation System. Sistem ini merupakan tambahan perangkat lunak dan peralatan baru pada pesawat Boeing 737 Max 8 dan 9.

Laporan KNKT menjelaskan secara rinci masalah yang dialami pesawat JT610 menjelang kecelakaan. Hal ini sangat berguna untuk menyusun prosedur dalam menangani krisis jika terjadi gejala stall pada pesawat akibat kekeliruan informasi sensor yang salah baca data kecepatan dan ketinggian.

Masyarakat berharap agar KNKT mengusut tuntas penyebab berbagai kecelakaan transportasi. Dari hasil investigasi KNKT yang kredibel, maka kejadian kecelakaan bisa dihindari. Rekomendasi KNKT terhadap pesawat yang tidak laik terbang perlu diperhatikan. Untuk itu, perlu perbaikan total terhadap prosedur inspeksi yang terkait dengan licensed engineer dan mekanik dari pihak operator penerbangan.*** ( Totok Siswantara/ Anggota Indonesia Aeronautical Engineering Center (IAEC). Pengkaji transformasi teknologi dan industri.)

 

Bagikan: