Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 28.4 ° C

Mengapa Bunuh Diri?

Opini Pikiran Rakyat
ILUSTRASI bunuh diri.*/ DOK PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI bunuh diri.*/ DOK PIKIRAN RAKYAT

DI penghujung tahun 2018 dan awal tahun 2019 ini, masyarakat dikejutkan dengan berita  memprihatinkan. Ditemukan ada beberapa mahasiswa yang melakukan perilaku bunuh diri. Muncul pertanyaan, mengapa mereka sampai melakukan bunuh diri? Timbul spekulasi mengenai penyebab perilaku tersebut, mulai dari adanya masalah-masalah pribadi, masalah keluarga, perisakan dari sebaya, tekanan atas batas waktu studi, tidak sanggup menyelesaikan skripsi, terancam drop out (putus studi), dan lain-lain.

Bagaimana bila hal ini dialami oleh teman, keluarga, atau bahkan kita sendiri?  Pastinya tidak ada yang berharap demikian, dan semoga tidak terjadi! Sebenarnya, apakah perilaku bunuh diri itu? Bagaimana itu bisa terjadi?  Tulisan ini akan mengupas tentang fenomena bunuh diri, faktor penyebab, serta usaha pencegahannya. Dengan dibuatnya tulisan ini, diharapkan perilaku ini bisa dicegah dan tidak akan terjadi lagi di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa.

Perilaku bunuh diri menurut Keliat (1994) adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri, dapat mengakhiri kehidupan, merupakan kondisi darurat psikologis karena individu berada dalam kondisi stres tinggi dan tidak memiliki coping (koping) atau penanggulangan stres yang adaptif. Biasanya diawali dengan adanya respons maladaptif atau rasa putus asa dalam mengambil keputusan. Keputusan bunuh diri dianggap sebagai jalan keluar  terbaik oleh mereka yang memiliki kecenderungan bunuh diri.

Mahasiswa bunuh diri

Sumber stres di dunia perguruan tinggi, terlalu naif jika hanya mengambinghitamkan masalah-masalah akademik. Kurang bijak jika hanya berasumsi bahwa sumber stres berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar semata. Permasalahan pribadi juga bisa menjadi variabel penentu yang menghasilkan stres. Tidak bisa dimungkiri, masalah-masalah mulai dari tugas kuliah yang terlalu banyak dan tidak ada habisnya, pertanyaan sensitif tentang nilai IPK mahasiswa, dan pertanyaan standar, kapan lulusnya?

Meskipun terlihat sepele, bisa terakumulasi menjadi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap masalah-masalah mahasiswa.  Masalah-masalah lain adalah proses bimbingan yang sulit diatasi, seperti perbedaan pendapat dengan pembimbing, salah dalam membuat rencana studi, adaptasi terhadap cara belajar, dan sebagainya. Jangan lupakan juga faktor stres nonakademik, seperti masalah adaptasi terhadap tempat tinggal dan teman baru, masalah pacaran, organisasi kemahasiswaan, biaya studi yang mahal, kerja sama dengan sesama mahasiswa, minat studi yang tidak sesuai atau salah jurusan, relasi dosen-mahasiswa-petugas administrasi, perisakan, dsb.

Pertanyaan pertama adalah mengapa ada mahasiswa yang sukses, bisa bertahan menghadapi kegagalan maupun kekecewaan dalam studi, dan ada mahasiswa yang  terpuruk dan tidak berdaya menghadapi berbagai kesulitan dalam studi? Kata kuncinya  menurut Duranczyk, I.M., Highee, J.l., Lundell, D.B. (2004) adalah bergantung dari persepsi mereka dalam memandang studi. Mereka yang memandang studi sebagai beban, maka akan muncul keyakinan bahwa studi adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, memberatkan dan sulit untuk ditaklukkan. Jadi, persepsi yang negatif membuat mahasiswa pesimis dalam studi, tidak ada komitmen mencari solusi, bahkan tidak sanggup mengontrol dirinya terus mencari cara untuk fokus pada target studi yang ia buat dari semester ke semester berikutnya. Selain itu  ia pun tidak menggunakan peluang dari setiap mata kuliah sebagai  tantangan untuk mengembangkan dirinya.

Pertanyaan kedua mengapa hal ini bisa terjadi? Dalam kehidupan bersosialisasi termasuk dalam studi, suatu keniscayaan apabila tidak ada kegagalan atau hambatan. Persoalannya adalah ketika kita gagal dan terpuruk, punyakah kita rasa keberdayaan yang kuat untuk bangkit?

Miliki kekuatan mental

Dalam psikologi, kekuatan mental untuk bangkit disebut resilience. Demikian disampaikan oleh Steven Southwick, dkk. (2013),  yaitu siap untuk berpikir positif agar muncul aura optimistis  dalam mencari solusi, membuat rencana pencapaian target, mengevaluasi pencapaian target dan selalu mencari tantangan agar selalu siap untuk berkembang baik dalam membentuk gagasan yang kreatif dan applicable, maupun dalam membangun  soft skill  yaitu keterampilan hidup yang mumpuni.

Bagaimana caranya? Pertama kenalilah diri sendiri  (who am I) yakinlah bahwa seseorang individu pasti memiliki kekuatan di samping tentunya ada kelemahan yang harus kita akui. Pelajari mana yang masih bisa dikembangkan dan fokus untuk meningkatkan keunggulan kita. Optimislah pasti ada jalan keluar.

 Kedua ketika terpuruk, jangan terjebak dengan ketidakberdayaan yang membuat kita menjadi pesimistis, carilah bantuan dengan prinsip  I have, yaitu yakinlah bahwa lingkungan di sekitar kita banyak yang bisa dan akan membantu kita.  Carilah dukungan sosial, bisa keluarga, pacar, dosen wali, teman sejawat atau lembaga yang tersedia dan siap membantu mahasiswa bermasalah. Fungsinya adalah sebagai tempat curhat untuk berbagi tentang kesulitan yang dihadapi, diharapkan dari mereka akan muncul gagasan-gagasan yang tidak terpikirkan oleh kita.

Setelah kita paham tentang kekuatan dan kelemahan diri, dan sudah menemukan cara-cara yang rasional untuk menyelesaikan persoalan, terakhir buatlah rencara pemecahan masalah berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi. Gunakanlah prinsip  I can, yaitu menyusun langkah-langkah penyelesaian persoalan akademik maupun nonakademik secara obyektif. Tentukan target jangka pendek dan jangka panjang, lakukan rencana penyelesaiannya beserta cara evaluasinya.

Dengan resilensi yang kuat, maka di masa datang sebagai mahasiswa diharapkan akan siap memasuki dunia kerja, serta siap pula membangun rumah tangga sebagai tugas perkembangan berikutnya sebagai individu dewasa.  Berpikirlah positif, agar selalu optimistis dalam kehidupan. Dengan demikian  akan muncul 3 C yaitu  commitment  terhadap persoalan studi maupun kehidupan, yakinlah bahwa setiap persoalan ada jalan keluarnya. Controlled,  mengendalikan diri untuk tetap fokus dan tidak terlena dengan pikiran yang pesimis dan  tidak berdaya.  Challenge, yaitu memandang setiap persoalan bukan sebagai beban, melainkan sebagai tantangan, karena di sekitar kita tersedia banyak sekali peluang yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan diri. Dengan demikian akan terbentuk  pribadi yang memiliki  resillence, sebagai bentuk keberdayaan kita dalam menghadapi berbagai rintangan hidup.  *** (Rismiyati E. Koesma, Dosen Luar Biasa dan Psikolog BPIP Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran)

 

 

 

Bagikan: