Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sedikit awan, 25.5 ° C

Bencana Alam dan Pudarnya Empati di Media Sosial

Pikiran Pembaca Pikiran Rakyat
M. Fasha Rouf/Staf di Departemen Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia
M. Fasha Rouf/Staf di Departemen Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia

Di sebuah akun media sosial, istri Ifan Seventeen yang turut menjadi korban tsunami Selat Sunda dihujat. Dianggap perempuan yang mati tanpa sempat bertaubat. Bencana alam oleh netizen Indonesia di media sosial, seringkali dikaitkan dengan azab, kutukan atas buruknya rezim yang berkuasa, dikaitkan dengan hal yang sebetulnya salah sambung. Padahal sudah jelas, seharusnya kita turut berkabung. Bukan menghujat salah alamat.

Sebagian pengguna media sosial tak mampu menyentuh hati keluarga korban. Apa yang dibutuhkan para korban adalah informasi terbaik mengenai kebencanaan, data pasti keluarga yang hilang, bantuan pakaian dan makanan, selimut hangat, atau hanya sekadar ungkapan sungkawa dan doa.

Hal demikian terjadi pula di musibah sebelumnya. Warga Palu yang sedang berduka karena tsunami dikutuk. Padahal, mereka membutuhkan bantuan bukan cacian, membutuhkan kalimat penguat bukan kalimat penuh hujat, membutuhkan kalimat teduh bukan provokasi yang meperkeruh.

Melihat kondisi itu, kita mesti bertanya-tanya, di mana empati kita saat menggunakan media sosial? Apakah segalanya hilang menjadi banal?

Empati, dalam komunikasi antar-manusia menjadi hal penting. Ia berfungsi memberikan cermin bagaimana kita ingin diperlakuan, juga menjadi kompas bagaimana semestinya orang lain kita perlakukan. Dari sana, baru akan terjadi bentuk komunikasi yang emansipatoris, penuh kepedulian, tanpa mengedepankan ego dan hasrat sendiri.

Namun, bagaimana ketika empati yang abstrak dikonkritkan dalam wujud mesin? Adakah mesin empati ataukah empati sebuah mesin?

Grant Bollmer (2017) menulis terkait hal ini, judulnya “Emphaty Machines”. Ia meneliti bagaimana mesin Virtual Reality (VR) mampu menjadi sihir baru untuk memunculkan empati manusia. Segalanya menjadi nyata melalui bayangan virtual itu.

Bollmer mencoba mengembalikan pembahasan kepada terminologi empati itu sendiri, Einfühlung. Menurut bahasa Jerman itu, empati adalah pengalaman kita “feel ourselves into” atau merasakan diri kita terlibat dan masuk ke dalam sesuatu. Kata itu diambil dari pengalaman estetik dalam arsitektur, di mana kunci empati adalah saat kita berada dalam sebuah ruang kepekaan.

Artinya, empati membutuhkan sebuah terlibatan langsung antara wujud fisik manusia dengan wujud fisik lainnya. Tetapi, media sosial tak memungkinkan hal itu terjadi. Ia justru medium perantara dalam hubungan antar-manusia.

Milk (2015), menyebut empati akan semakin kuat jika lahir dari naratif yang baik, narasi yang menjadi jembatan pemisah manusia. Pemisah yang dapat berbentuk fisik karena jarak, atau karena pengetahuan yang subjektif. Karenanya, Bollmer (2016) menyebut bahwa apa yang terjadi di dalam dunia digital dan media sosial adalah sebuah “intimasi banal”, kedekatan yang ganjil. Karena pada nyatanya, semuanya menjadi lebih terpisah.

Dalam keterpisahan itu, media sosial sebetulnya menampilkan serpihan kehadiran fisik manusia. Kita bisa mendengar suara tangis dalam audio, raut muka sedih dalam foto dan video, atau narasi korban dalam bentuk teks. Kita tetap bisa mengambil sebagian fisik manusia untuk berempati pada mereka.

Selain itu, mudah sebetulnya mengukur bagaimana kita menggunakan empati di media sosial. Jika kita tidak suka, kita tinggal memilih ikon jempol yang menunjuk ke bawah, berlawanan dengan tanda suka di mana jempol mengarah ke atas. Atau, ekspresi wajah dapat divisualisasikan dalam bentuk grafis atau bahkan gif.

Pertanyaannya, bagaimana cara kita menentukan dan menunjukkan suka dan benci? Apakah itu sesuai dengan nilai kemanusiaan? Atau kita bertendesi untuk mengedepankan kepentingan dan ego pribadi?

Rumus-rumus algoritma yang kompleks tengah dan terus berusaha untuk mengembangkan bagaimana mesin menjadi lebih mampu menunjukkan ekspresi manusiawi. Sayangnya, kegelapan pengetahuan terkadang jadi lapis penghalang.

Kesatu, kita terlalu larut dalam pertempuran nilai yang kuat di media sosial.  Sebagian dari kita kehilangan kendali, permusuhan seolah wajar. Akhirnya, tercipta sistem nilai baru, siapa musuh dan kawan di media sosial harus benar-benar dipisah-posisikan. Karena itu, kadang kita menjadi tak peka dengan persoalan esensial manusia. Musibah, sakit, bencana alam, segalanya menjadi sebuah peluang untuk menjatuhkan lawan yang berbeda nilai.

Kedua, adanya bentuk eksistensi yang ganjil di media sosial.  Sebuah media asing, The Guardian, memberitakan dengan sinis tentang orang Indonesia yang selfie di lokasi bencana tsunami Selat Sunda. Foto headline di berita itu adalah emak-emak yang selfie dengan senyum manis sekali. Sementara di belakangnya, luluh lantak kebun dan rumah karena terjangan gelombang. Eksistensi diri kadang juga mengerutkan empati. Kita mengedepankan ego diri sendiri, bukan merasa bagaimana jika menjadi mereka.

Sebenarnya media sosial telah menyediakan sarana untuk lebih berempati dengan orang lain. Kini, semakin banyak korban bencana yang menceritakan pengalaman hidupnya di media sosial, kita bisa belajar dari berbagai suasana kebatinan orang, dan mulai peduli pada mereka. Kini, visualisasi berbagai kondisi bencana dapat menyentuh hati kita dengan lebih cepat. Bahkan kini, kita bisa peduli dan mewujudkannya di media sosial. Kita bisa menggalang bantuan, kita bisa mengumpulkan petisi atas suatu kondisi yang merugikan, dan kemungkinan perwujudan empati lain yang sebelumnya tak terbayangkan.

Barangkali, kita hanya harus lebih akrab dengan teknologi baru ini: media sosial. Hati kita tetap tak terganti oleh teknologi. Empati masih ada. Kita punya lebih banyak cara untuk lebih peduli pada sesama. Cobalah berbicara dengan diri sendiri sebelum kemudian memposting atau berbagi di media sosial. ***

M. Fasha Rouf

Staf di Departemen Ilmu Komunikasi FPIPS UPI           

Bagikan: