Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Berawan, 24.5 ° C

Koperasi Kreasi Baru

Rully Indrawan

KERAP  orang membandingkan perkembangan koperasi saat ini dengan masa lalu, khususnya di Era Orba, tidak sedikit pandangan yang bernada negatif yang mengisyaratkan bahwa koperasi kini mengalami kemunduran. Benarkah itu? Bila dilihat dari gebyarnya pemberitaan di mass media serta tumbuhnya jumlah unit koperasi, dan maraknya fasilitas yang disediakan pemerintah barangkali sinyalemen itu benar. Namun sebenarnya tidak demikian halnya bila dilihat dari sisi yang lebih substanstif. Antara lain, kini banyak tumbuh koperasi yang didasari oleh murni kebutuhan nyata anggotanya, dan mereka hadir bukan karena iming-iming fasilitas yang ditawarkan pemerintah. Dalam ukuran makro, kontribusi koperasi terhadap pembentukan PDB nasional pun meningkat menjadi 4,48% (kemenkop,2017) padahal di masa lalu untuk mencapai 3% saja sangat sulit. Demikian pula kontribusi anggota koperasi yang mencapai 30,84% dari total PDB nasional, maka total kontribusi nyata koperasi terhadap PDB mencapai 35,23%.

Memang jumlah koperasi sesuai data online data system (ODS) di Kemenkop dan UKM per Desember 2017 totalnya sebanyak 153.171 unit, dengan jumlah anggota aktif sebanyak 26.535.640 orang, jumlah itu dibandingkan tahun 2014 mengalami penurunan hampir sepertiganya. Hal ini, justru akibat adanya kebijakan untuk merehabilitasi. Sehingga di masa datang, koperasi yang ada benar-benar koperasi yang aktif dengan kinerja baik. Koperasi harus hadir atas dasar kesadaran menolong diri sendiri (self helf)  dan memiliki daya saing karena dikelola melalui prinsip-prinsip kepatutan sebagai unit bisnis yang sehat.

Harus diakui perkembangan positif ini tidak lepas dari berubahnya lingkungan strategis bisnis modern. Model bisnis "sharing economy" atau ekonomi berbagi sedang menjadi trend di era digital saat ini. Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan bersama; bagi sementara pihak dianggap sebagai lahirnya New Global Economic Ethic yang menuntut  sikap partisipasipatif dari para pelaku yang terlibat di ekosistem tersebut untuk berbagi peran sesuai kapasistanya. Dengan demikian benefit bisa dirasakan oleh para pihak yang terlibat sesuai dengan besaran share-nya.  Hidup dan berkembang karena telah terjaganya skala ekonomi yang lebih efisien. 

Dukungan penguasaan teknologi informasi bagi pelaku menjadi penting untuk menciptakan kreasi baru (create value) dalam proses bisnis koperasi. Di kalangan generasi milenial kini telah banyak lahir bisnis koperasi baru yang sangat “membingungkan” bagi para pelaku lama koperasi. Hal ini sering penulis temukan dalam berbagai kegiatan pelatihan yang dijalankan oleh gerakan koperasi. Maka dapat dipastikan, bila ada pendapat yang mengatakan koperasi saat ini mengalami kemunduran, bisa dipastikan yang dimaksud adalah koperasi yang masih mengandalkan kreasi lama, yang belakangan ini jumlah dan aktivitas usahanya semakin menyurut.

 

Kelahiran Kedua

Bila kongres koperasi di tahun 1947 telah melahirkan inovasi baru pada zamannya, antara lain lahirnya organisasi tunggal di lingkungan koperasi serta pentingnya pendidikan perkoperasin -dan kini telah hadir Dekopin dan Ikopin- maka saat ini menjadi waktu yang tepat bila Jabar kembali menggagas kreasi baru koperasi nasional. Yakni koperasi yang dilola secara profesional, efisien, partisipatif, dan menuju manfaat bersama. Jabar bisa mengisiasi koperasi dengan model baru ini dan kembali menciptakan sejarah baru perkoperasian secara nasional. Setidak-tidaknya, ada tiga alasan untuk menggantungka harapan tersebut, yakni:

Pertama, telah hadirnya sosok pimpinan Jabar, khususnya Ridwan Kamil, yang mewakili kelompok melek teknologi yang bisa memberi angin disrupsi bagi aktivitas perkoperasian. Saya belum kenal benar dengan beliau, tetapi pembicaraan singkat saat hari koperasi nasional 2016 di Jambi, saat itu beliau menerima penghargaan Bakti Koperasi dari presiden; dari perbincangan singkat, menunjukan ia sebagai sosok yang mengenal secara baik perkoperasian. Semoga penghargaan yang beliau terima kala itu, bisa memberi inspirasi untuk pembangunan koperasi dengan model baru ini dengan metode yang bisa lebih pahami oleh generasi milenial.

Kedua, pengalaman perjalanan ke peloksok tanah air menemukan fakta bahwa hampir seluruh penggiat koperasi nasional, merupakan alumnus pendidikan perkoperasian yang dihelat di Jabar. Dan beberapa provinsi tersebut kini kemajuan koperasinya sudah meninggalkan Jabar. Maka dapat dipastikan Jabar berpotensi untuk lebih mengkreasi tata kelola perkoperasian melalui penguatan jaringan teknologi dalam pengembangan usaha dan organisasi koperasi; karena memiliki sumber daya manusia yang lebih siap dan riset dari lembaga pendidikan yang bermutu.

Ketiga, keberadaan jabar pada posisi strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional memberikan aksesibilitas untuk lahirnya inovasi dan kreasi baru, serta lahirnya peluang-peluang baru bagi seluruh anggota masyarakat. Harapan munculnya koperasi besar di Jabar adalah sebuah kewajaran, namun tidak boleh sekali-kali menihilkan koperasi dengan skala kecil. Ada sebuah koperasi kecil di Batam yang sempat penulis kunjungi, anggotanya baru 20 orang yang bergerak pada usaha rumahan panganan kecil.  Mereka meng-koperasikan dirinya melalui kegiatan usaha pengemasan dan pembungkusan, sehingga produk anggotanya bisa masuk ke pasar ekspor  Tiongkok, Singapura, Malaysia, Taiwan, bahkan Dubai. Penulis menemukan banyak kegiatan ibu-ibu di peloksok desa di jabar yang bergerak pada usaha rumahan yang sama, namun terkendala pada persoalan pengemasan dan pemasaran. Kesimpulan, usaha rakyat berskala kecil juga dapat memberikan kontribusi besar, bila mereka bergerak dalam jumlah yang besar. Maka jangan sekali-kali fobia dengan koperasi kecil untuk kesejahteraan rakyat.

Semoga Jabar dengan kempimpinan yang baru bisa memberikan kehidupan yang lebih sejahtera merasa usaha bersama melalui koperasi. Selamat hari koperasi ke 71.***

Bagikan: