Senin, 9 Desember 2019

Satgas Pemberantasan Pengaturan Skor Periksa Sesmenpora, BS Terima Sanksi Seumur Hidup

- 26 Desember 2018, 21:02 WIB
SESMENPORA Gatot S Dewo Broto (kiri) saat meluncurkan buku

JAKARTA, (PR).- Pertanyaan seputar kompetisi sepak bola Indonesia dan pengawasannya ditanyakan kepada Sekretaris Kemenpora (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto oleh Satgas Pemberantasan Pengaturan Skor bentukan Bareskrim Polri pada pemeriksaan yang dilakukan di Gd. Ombudsman, Jakarta, Rabu 26 Desember 2018. Ada 25 pertanyaan yang diajukan oleh penyidik selama tiga jam pemeriksaan. 

"Siang ini saya baru saja memenuhi panggilan Bareskrim untuk pemeriksaan oleh Satgas yang baru saja dibentuk dalam rangka menuntaskan pengaturan skor. Tadi pemeriksaan berjalan baik dari pukul 10.00 wib hingga 14.00 wib yang terbagi dalam dua sesi. Praktis pemeriksaan berjalan tiga jam," ucapnya usai pemeriksaan.

Dalam pemeriksaan, menurut Gatot, ada 25 pertanyaan yang diajukan. Materinya mulai dari yang bersifat umum. Seperti sekitar tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dirinya selaku Sesmenpora, hingga bergulirnya kompetisi dan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), serta terakhir soal komitmen Kemenpora menyelesaikan masalah pengaturan skor ini. 

"Saya diminta untuk menjelaskan hal-hal tersebut dan pastikan bagaimana komitmen Kemenpora untuk masalah pengaturan skor ini. Saya sampaikan bahwa pihak kami berkomitmen bersama-sama dengan Satgas Bareskrim sepenuhnya mendukung agar masalah ini cepat tuntas," tuturnya. 

Gatot pada saat pemeriksaan kemarin didampingi dengan dua staf Kemenpora dari Biro Hukum. Dalam pemeriksaan tersebut, Gatot juga membawa dua dokumen terkait. Pertama dokumen tentang referensi umum 'Esensi Penuntasan Skor' serta satu lagi dokumen laporan lengkap Tim 9 Kemenpora yang merupakan tim ad hoc pencari fakta terkait indikasi "sepak bola gajah" yang terjadi pada kompetisi sepak bola nasional musim 2015 lalu. 

"Ada dua pertanyaan terkait (masalah pengaturan skor) yang ditanyakan oleh pemeriksa. Pertama soal apakah saya mengetahui adanya suatu pertandingan yang berlangsung pada tanggal X antara kesebalahan ini melawan kesebelasan ini. Lalu, pertandingan lainnya tanggal Y antara tim ini dengan tim itu. Saya sampaikan bahwa kami tidak memonitor secara khusus, mengingat sifatnya itu sudah masuk teknis dan itu di luar kewenangan kami. Saya juga sampaikan selama Liga 1 bergulir, saya pun hanya menonton partai puncak saja, saat Persija Jakarta melawan Mitra Kukar, itu pun karena undangan saja," kata Gatot menambahkan. 

Pertanyaan seputar masalah bandar pengaturan skor pun, menurut Gatot sempat ditanyakan juga. Hanya saja hal itu ternyata tidak tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang pada akhir pemeriksaan ditandatanganinya. 

"Meskipun pertanyaan soal bandar judi tidak masuk dalam BAP, tadi kami sampaikan bahwa pada tanggal tertentu pada awal 2015 lalu saat Tim 9 masuk bekerja, kami sudah memanggil seorang "runner" (penghubung antara bandar dan pemain/klub). Asumsi kami, ketika itu, dia bisa menjadi seorang whistle blowing (pelapor pelanggaran). Tetapi faktanya, yang bersangkutan tidak menjadi apa yang kami minta. Hal itu juga kami serahkan kepada penyidik," imbuhnya. 

Setelah pemeriksaan pertama ini, apakah dirinya akan kembali dipanggil lagi, Gatot mengaku tidak tahu. Namun, pihaknya berjanji koorperatif sepenuhnya seandainya dirinya atau pihak lain di Kemenpora kembali dipanggil. 


Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Tags

Komentar

Terkini

X