Istirahat di Cimahi, Aksi Jalan Kaki ke Jakarta Atlet Paralimpik Jabar Berlanjut

- 5 Agustus 2018, 10:41 WIB
PENDAMPING mendampingi atlet difabel Peparnas XV 2016 saat melakukan perjalanan menuju Jakarta di Jalan Amir Machmud, Kota Cimahi, Minggu 5 Agustus 2018. Rencananya para atlet yang berjumlah 6 orang tersebut akan mengembalikan medali yang pernah diraihnya karena tidak puas dengan kinerja National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) yang dianggap membunuh karir mereka untuk mengikuti Asian Para Games 2018.*

CIMAHI, (PR).- Enam atlet paralimpik Jabar yang melakukan aksi jalan kaki ke Jakarta sempat menginap di kantor DPRD Kota Cimahi Jalan Dra. Djulaeha Karmita. Minggu 5 Agustus 2018, keenam peraih medali emas Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 melanjutkan perjalanan ke Stadion Gelora Bung Karno.

Mereka berjalan kaki dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) di Gedebage, Kota  Bandung menuju Jakarta untuk mengembalikan medali emas. Sebagai bentuk protes terkatung-katungnya penyelesaian kasus yang dimulai dengan menolak memberikan setoran kepada National Paralimpic Committee of Indonesia (NPCI) Pusat dan NPCI Jabar.

Keenam atlet tersebut yaitu Farid Surdin, Ganjar Jatnika, Asri, Junaedi, Elda Fahmi, dan Sony Satrio. Mereka dilepas Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi dari GBLA pada Sabtu 4 Agustus 2018 pukul 10.00 WIB. Mereka diprediksi tiba di Stadion GBK Jakarta Selasa 7 Agustus 2018 mendatang.

Para atlet bersama pendamping tiba di gedung DPRD Kota Cimahi pukul 21.00 WIB dan diterima oleh Ketua DPRD Kota Cimahi Ahmad Gunawan. Mereka diperbolehkan menginap di mushola dan diberikan beserta fasilitasnya selama menginap. Setelah persiapan, mereka melanjutkan perjalanan dari lokasi sekitar pukul 10.00 WIB dan bergerak menuju Purwakarta. 

Salah satu atlet judo peraih emas, Junaedi (22), mengatakan, pihaknya berharap sistem setoran dari atlet untuk mengurus benar-benar diubah. "Harapan kami benar-benar sistemnya diubah dari NPCI dan rezim sekarang harus turun karena berkuasa sampai 20 tahun. Karena enggak setor bonus medali karier kami di blacklist, malah kami tidak bisa main pada laga tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Secara pasti, karir kami dibunuh," ujarnya.

Potongan dan setoran

Menurut Junaedi, saat Peparnas Pemprov Jabar menjanjikan bonus bagi para atlet disabilitas asal Jabar yang mampu memberikan medali emas, perak, dan perunggu.

Namun saat menerima bonus, nominal yang masuk ke rekening mereka berbeda dengan apa yang dijanjikan. Selain itu, kata dia, NPCI meminta kontribusi 25 persen dari bonus yang diberikan pemerintah.

"Bonus Peparnas yang dijanjikan Gubernur Jabar Pak Ahmad Heryawan saat penyelenggaraan senilai Rp 275 juta. Yang diterima Rp 230 juta. Dan dipotong NPCI langsung harus setor 25% sekitar Rp 55 juta," katanya.

Halaman:

Editor: Ririn Nur Febriani


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X