Sabtu, 29 Februari 2020

Islah Suporter Sepak Bola Indonesia tak Dihadiri Bobotoh, Jakmania, dan Bonek

- 3 Agustus 2017, 15:37 WIB

JAKARTA, (PR).- Tidak pernah berakhirnya rivalitas suporter selama ini diakui PSSI sebagai pekerjaan rumah mereka yang harus segera diselesaikan. Diperlukan edukasi dengan cara yang berbeda, mengingat permasalahan suporter ini kompleks.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi dalam acara islah suporter sepak bola nasional yang bertajuk jumpa suporter sepak bola Indonesia yang digelar oleh Kemenpora, di Wisma Menpora, Kemenpora, Senayan, Jakarta, Kamis, 3 Agustus 2017.

Menurutnya, pembinaan suporter juga merupakan kewajiban dari PSSI. Edy mengakui jika tidak pernah berakhirnya rivalitas yang kerap kali berujung pada kekerasan ini merupakan kelemahan dan kesalahan PSSI.

"Karena ini merupakan sinisme untuk PSSI, karena begini terus urusannya (kisruh suporter). Jadi ini artinya PSSI yang kurang becus, bukan suporternya. Kami akui merupakan kelemahan dan kesalahan ini ada di PSSI," katanya. 

Karena itu pihaknya sangat mengapresiasi islah yang digelar oleh Kemenpora tersebut, mengingat selama ini memang diakuinya di kepengurusan sebelumnya, masalah suporter ini tidak ditanggapi sebagai salah satu fokus utama permasalahan sepak bola nasional. 

Pihaknya mengatakan setelah ini pihaknya akan menindak lanjuti hal tersebut secara teknis. Dimana para suporter akan saling dipertemukan dengan pihak-pihak yang berkompeten. 

Wakil Ketua PSSI Joko Driyono menambahkan, jika masalah suporter ini jadi pekerjaan rumah besar bagi PSSI sebagai federasi. Pihaknya sadar jika masalah suporter ini tidak selesai hanya di forum seminar dan diskusi saja, karena hal ini harus melibatkan banyak stakeholder sepakbola Indonesia, PSSI, klub, aparat keamanan, dan fans itu sendiri. 

"Kita tidak boleh menganggap ini hal yang sederhana. Sebab rivalitas masing-masing suporter itu harta karun sepak bola yang sebenarnya, tinggal yang berbeda adalah cara rivalitas diekspresikan itu yang jadi pembeda.  Kami memilih optimis bahwa ekspresi rivalitas tadi ditingkatkan lewat modus-modus yang lebih baik dan lebih elegan untuk peningkatan sepakbola kedepannya," imbuhnya. 

Pihaknya ingin melakukan edukasi suporter dengan modus yang berbeda. Agar edukasi tersebut bisa dirasakan langsung tanpa merasa di gurui. 

Halaman:

Editor: Wina Setyawatie

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X