Rabu, 1 April 2020

Darurat Kualitas Wasit Indonesia

- 2 Agustus 2017, 05:14 WIB
PEMAIN Persib Bandung Achmad Jufriyanto memprotes sejumlah putusan wasit Kusni pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Minggu 9 Juli 2017.*

Akan tetapi, dari evaluasi singkat yang dilakukan LIB di pekan ke-16 lalu, dari beberapa hal yang jadi perhatian, yang terpenting jadi perhatian utama ya tetap soal perangkat pertandingan. Pasalnya, hingga akhir putaran pertama ini, ternyata kurang lebih ada 8-9 orang wasit dan asisten wasit yang perlu di evaluasi.

Ada faktor nonteknis yang dipandang memang memengaruhi kinerja wasit. Hal itu dinilai Direktur Operasional LIB, Tigor Shalomboboy sebagai masalah integritas. Hal itu yang sampai kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya dan PSSI. Karena bila berbicara integritas, pasti setiap wasit melakukan tugasnya karena ada alasan.

Untuk putaran kedua, beberapa improvisasi pun sudah disiapkan oleh LIB. Salah satunya adalah wasit asing. Penggunaan wasit asing ini diharapkan bisa jadi penyegaran bagi wasit lokal dan sebagai transfer pengetahuan.

Hal itu bukan berarti memandang rendah kualitas wasit Indonesia saat ini, tetapi ini merupakan salah satu langkah perbaikan. Bagaimana ke depannya perbaikan ini bisa meningkatkan mutu pertandingan.

Improvisasi lainnya adalah dengan menugaskan referee assessor yang selama ini tidak ada. Referee assessor ini akan bertugas menilai kinerja wasit, termasuk wasit asing yang turun memimpin Liga 1.

Penempatan referee assessor ini merupakan hasil tukar pikir dan mantan wasit FIFA George Cumming yang beberapa waktu lalu datang ke Indonesia untuk bertukar pikiran, dan salah satu bagian dari program pengembangan wasit.

loading...

Lalu bagaimana dengan menaikan mutu wasit? Menurut Tigor, pihaknya akan melakukan secara bertahap dengan menumbuhkan inovasi-inovasi program pengembangan baru yang kemudian akan diteruskan ke federasi untuk direalisasikan.

Setelah program wasit asing ini berjalan, akan keliatan apakah ada peningkatan signifikan untuk mutu wasit lokal. Memang hal ini dinilai tidak mudah, karena untuk program pengembangan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi menurut LIB jika tidak dicoba, maka Indonesia akan semakin ketinggalan.

Terlebih saat ini Indonesia hanya memiliki lima pengadil yang berlisensi FIFA. Untuk masalah meningkatan mutu wasit ini, pemerintah juga ikut membantu dengan ikut membiayai upgrading untuk pengadil. 

Kendati nanti mulai terlihat ada peningkatan mutu wasit, sayangnya LIB belum tahu apakah peningkatan itu juga akan diikuti dengan upgrading peralatan canggih pendukung kinerja wasit di lapangan pada saat putaran kedua nanti. Karena seperti yang diketahui, peralatan wasit dalam memimpin pertandi­ngan di Indonesia sudah ketinggalan zaman. Contoh kecil saja, kita belum menggunakan vanishing spray, busa untuk  penanda pelanggaran.

Halaman:

Editor: Wina Setyawatie

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X