Darurat Kualitas Wasit Indonesia

- 2 Agustus 2017, 05:14 WIB
PEMAIN Persib Bandung Achmad Jufriyanto memprotes sejumlah putusan wasit Kusni pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Minggu 9 Juli 2017.*

”Jadi kami juga tidak menyalahkan PSSI, tapi kami mendorong PSSI untuk melakukan pembenahan secepatnya dan kami membantu di belakangnya,” ujar Gatot.

Sedikit berbeda dari kacamata pengamat. Erwin Fitri menilai jika kualitas wasit yang kurang jeli dan tegas sering kali menjadi pemicu protes pemain, ofisial, dan penonton yang bahkan bisa berlebihan.

Kualitas ini harus terus ditingkatkan dengan memberikan kursus/penyegaran wasit secara lebih intensif lagi. Hal itu karena selalu ada hal baru dalam peraturan sepak bola yang berkembang. Kendati demikian, sebelum kompetisi memang selalu ada pelatihan/penyegaran untuk wasit yang akan ditugaskan. 

Lalu, kedua, soal ketegasan dan regulasi. Perubahan regulasi yang masih terjadi di tengah jalan, seperti dicabutnya aturan pemakaian pemain U-23 dengan alasan untuk membantu Timnas di SEA Games, Erwin melihat seharusnya apa pun alasannya, perubahan regulasi tidak bisa serta-merta dilakukan dadakan tanpa sosialisasi terlebih dahulu di awal musim. Saat ini, menurut dia, apa yang dilakukan PSSI terkesan menguntungkan klub tertentu.

”Solusi sementara, sembari berusaha meningkatkan kualitas wasit, apa yang dilakukan oleh LIB dengan rencana menggunakan wasit asing di putaran kedua, tidak apa-apa. Yang penting bisa membawa kredibilitas kompetisi dan bahkan bisa sekaligus memberikan pelajaran untuk wasit lokal,” katanya.

Yang tidak kalah penting juga adalah sosialisasi law of the game FIFA kepada klub-klub, pemain, oficial, dan pelatih, hingga mereka mengerti benar aturan dalam pertandingan tanpa harus melakukan protes berlebihan dan asal protes.

Meskipun bukan masalah utama, suporter pun tetap dinilai kedua belah pihak tidak boleh luput dari evaluasi. Butuh sanksi yang benar-benar mengikat suporter bila terjadi pelanggaran yang melibatkan mereka, seperti halnya yang terjadi di kasus Persib Bandung.

Sudah berulang kali disanksi, tetapi tetap saja kejadian yang sama seakan tidak membuat para suporter Maung Bandung jera. Mulai dari sanksi denda Rp 10 juta hingga Rp 130 juta, lalu mulai dari larangan mendampingi Persib dalam satu kali pertandingan, hingga disanksi terberat lima pertandingan, sebenarnya belum benar-benar mengena untuk para pendukung. Pasalnya, sanksi yang dijatuhkan Komdis dinilai kurang berdampak langsung untuk suporter. Karena yang selalu dihukum adalah klub, hingga suporter tidak merasakan efek jera secara langsung.

”Ibarat mau didenda Rp 10 miliar sekalipun, kalau klub yang selalu dijatuhi sanksi ya penontonnya tidak akan jera. Selalu berulang saja. Seharusnya setelah keluar adanya hukuman tanpa penonton mereka bisa berpikir dan belajar. Tetapi kalau terulang lagi sepertinya butuh hukuman yang lebih ekstrem, misalnya kena tidak boleh main di Bandung semusim atau setengah musim. Mungkin baru bisa kapok,” kata Erwin.

PSSI lakukan evaluasi

Evaluasi dari pihak PSSI dan LIB sendiri saat ini sedang berjalan. Evaluasi bersama dengan para pelatih kepala untuk faktor teknis berlangsung selama dua hari, 1-2 Agustus ini. Sementara itu, untuk evaluasi kompetisi secara menyeluruh untuk paruh musim akan dilakukan pada Kamis 3 Agustus 2017 mendatang.

Halaman:

Editor: Wina Setyawatie


Tags

Komentar

Terkini

Novak Djokovic Juara Italia terbuka

22 September 2020, 12:30 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X