Jumat, 21 Februari 2020

Darurat Kualitas Wasit Indonesia

- 2 Agustus 2017, 05:14 WIB
PEMAIN Persib Bandung Achmad Jufriyanto memprotes sejumlah putusan wasit Kusni pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Minggu 9 Juli 2017.*

AWAL pekan ini menjadi akhir dari putaran pertama penyelenggaraan Liga 1. Berjalan selama 17 pekan, hasil putaran pertama ternyata kurang memuaskan. Masih jauh dari kata sempurna. Pengubahan regulasi di tengah jalan masih ditemui, lalu protes klub terhadap hal-hal teknis seperti jadwal pertandingan, lapangan, TV pemegang hak siar, hingga yang terutama kinerja wasit. Namun, dua hal yang kemudian jadi perhatian utama yang perlu segera dievaluasi untuk putaran kedua nanti, yakni kualitas wasit dan ketegasan soal regulasi. 

Dikhawatirkan, jika tidak diatasi segera, masalah tersebut bisa menggerogoti kredibilitas kompetisi. Padahal seperti yang diketahui, PSSI saat ini sedang berusaha untuk mengembalikan masa jaya sepak bola Indonesia seperti dulu.

Bahkan ada ketakutan, jika kondisi ini tetap tidak juga bisa diatasi, bisa kedengeran hingga kuping FIFA, maka bisa saja Indonesia dinilai tidak serius melakukan pembenahan persepakbolaan nasional setelah jatuhnya sanksi mereka selama setahun lalu. Padahal FIFA, paska sanksi memiliki banyak proyek untuk membangun pengembangan dan atau pemulihan sepak bola di Indonesia.

Dari mata pengamat dan pemerintah, masalah utama kompetisi adalah kinerja wasit. Banyaknya wasit yang dinilai kurang maksimal di dalam memimpin pertandingan terlihat dari banyaknya komplain yang muncul dari tim-tim peserta. Salah satu bukti nyata masih kurangnya kinerja wasit adalah adanya sebelas keputusan kontroversial wasit di Liga 1 pada periode awal kompetisi, April-Mei 2017 lalu.

Memang secara menyeluruh pemerintah mengakui belum bisa mengevaluasi secara menyeluruh mengingat PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi belum memberikan data secara tertulis dari hasil putaran pertama kemarin.

Akan tetapi, jika melihat dalam konteks banyaknya keluhan yang masuk, hingga ke pihak Kemenpora sekalipun‚Äądan kekecewaan publik, jelas jika masih ada kekurangan.  Apalagi Sekretaris Menteri (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto menilai jika di era media sosial ini publik beraksi cepat sekali.

Meski begitu, pihaknya masih memaklumi keterbatasaan yang saat ini masih dialami PSSI untuk menggelar kompetisi. Pasalnya, pemerintah PSSI menggelar Liga 1 dan Liga 2 ini dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Setelah sanksi FIFA, seharusnya mulai tumbuh lagi iklim sepak bola yang sehat.

Akan tetapi, selama masa sanksi berjalan, rasanya belum ada perbaikan yang dilakukan secara signifikan. 

Halaman:

Editor: Wina Setyawatie

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X