Kamis, 9 April 2020

Kenapa Maskot PON XIX 2016 Harus Surili Lili dan Lala?

- 11 September 2016, 09:00 WIB

JAWA Barat menjadi tempat berlangsungya perhelatan akbar PON XIX 2016. Sebagaimana umumnya tuan rumah, pelaksana harus memiliki maskot. Untuk itu, diadakan sayembara desain maskot PON XIX. Pada 8 Maret 2016 ditetapkanlah maskot beserta logo PON XIX di Aula Barat Gedung Sate, Bandung. Untuk maskot, pilihan jatuh pada surili yang merupakan hewan sejenis kera rancangan Tony Suhendar asal Kota Bandung. Maskot surili jantan dinamai Lili sedangkan betina bernama Lala. Namun, bagi sebagian orang, bahkan orang Sunda, banyak yang belum akrab dengan surili. Surili adalah hewan primata khas dari bagian barat pulau Jawa dan hampir punah. Dalam bahasa Inggris, hewan itu punya beberapa nama seperti Javan Surili,Grizzled Leaf Monkey, Java Leaf Monkey, dan Javan Grizzled Langur. Nama latin binatang itu adalah Presbytis comata. Surili Jawa terdiri atas dua sub spesies yakni Presbytis comata comata yang hidup di Jawa Barat dan Presbytis comata fredericae yang terdapat di Jawa Tengah. Umumnya warna tubuh surili dewasa mulai dari kepala sampai bagian punggung yaitu hitam atau cokelat dan keabuan. Warna rambut jambul dan kepala berwarna hitam. Rambut yang tumbuh dibawah dagu, dada dan perut, bagian dalam lengan dan kaki dan ekor, berwarna putih. Warna kulit muka dan telinga hitam pekat agak kemerahan. Bulu anak yang baru lahir berwarna putih dan memiliki garis hitam mulai dari kepala hingga ekor. Alasan dibalik penetapan Surili sebagai maskot PON kali ini, selain hampir punah, Surili juga merupakan satwa yang hanya terdapat di Jawa Barat dan Banten. Dengan demikan, satwa ini merupakan satwa yang khas dan tidak dapat dijumpai di daerah lain. Sebagai maskot PON, surili didandani dengan memakai iket atau ikat kepala khas Sunda. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sempat menyatakan, maskot itu mencerminkan karakter nilai luhur kejawabaratan, yaitu cageur, bageur, bener, jeung pinter (sehat, murah hati, benar, dan pandai). Nilai filosofi dari maskot PON ini diharapkan dapat diterapkan pada insan olahraga yang pada akhirnya akan melahirkan masyarakat Jawa Barat yang unggul dalam prestasi dan berkontribusi pada masyarakat luas. Pemilihan maskot itu juga bisa menjadi ajang kampanye guna melindungi keberadaan surili agar tetap lestari. (Qisthi Rabathi Solihat)***


Editor: Administrator

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X