Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Afridza Syach Munanandar, Pembalap Berprestasi Asal Tasikmalaya yang Hidup di Sirkuit Sejak Remaja

Bambang Arifianto
DERETAN karangan bunga duka cita di sekitar tempat tinggal Afridza Syach Munandar di Perumahan Tamansari Indah D9, Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Minggu 3 November 2019. Afridza meninggal dalam kecelakaan saat mengikuti kejuaraan balap sepeda motor di Sirkuit Sepang, Malaysia.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
DERETAN karangan bunga duka cita di sekitar tempat tinggal Afridza Syach Munandar di Perumahan Tamansari Indah D9, Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Minggu 3 November 2019. Afridza meninggal dalam kecelakaan saat mengikuti kejuaraan balap sepeda motor di Sirkuit Sepang, Malaysia.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Sejumlah pelayat terus berdatangan ke ‎kediaman keluarga Afridza Syach Munanandar, pembalap asal Tasikmalaya yang meninggal saat mengikut kejuaraan balap sepeda motor di Sirkuit Sepang, Malaysia, Sabtu 2 November 2019.

Sejumlah karangan bunga duka cita berderet di sekitar rumah pembalap 20 tahun itu di Perumahan Tamansari Indah D9, Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Minggu 3 November 2019.

Rally, 30 tahun, paman Afridza Syach Munanandar menuturkan, keponakannya meninggal selepas kecelakaan pada start awal perlombaan.

"Belum genap satu lap, baru start, terlibat insiden crash (kecelakaan)," ucap Rally di rumah duka, Minggu siang.

Rally mengenang keponakannya sebagai sosok yang punya disiplin tinggi sebagai pembalap profesional. "Setelah salat Subuh, (dia) langsung (berolah raga) lari," kata Rally mengenang kebiasaan Afridza Syach Munanandar.

Hingga menjelang sore, pelayat terus berdatangan ke rumah Afridza Syach Munanandar. Beberapa karangan bungan duka cita seperti dari Wali Kota Budi Budiman, Kapolres Tasikmalaya AKBP Anom Karibianto, Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi, Wakapolda Brigjen Akhmad Wiyagus, hingga institusi lain berderet di sekitar rumah Afridza Syach Munanandar.

AFRIDZA Syach Munandar.*/DOK INSTAGRAM AFRIDZA

Di balik kemampuannya memacu kendaraan, Afridza Syach Munanandar merupakan sosok pendiam. Dia memutuskan terjun ke dunia balap profesional sejak duduk di kelas satu SMP.

Kemampuannya ditempa dengan berlatih di Sirkuit Bukit Peusar Tasikmalaya di bawah bimbingan Bayu Aditya, kerabatnya.

Hingga akhirnya, Afridza Syach Munanandar masuk tim balap Kuya Nyuruntul dari Bandung. Hidupnya memang tak bisa dilepaskan dari dunia balap.

Terlahir dari keluarga pembalap, Afridza Syach Munanandar kecil sudah mendapat hadiah selepas berupa sepeda  motor mini GP selepas disunat.

Saat itu, usianya enam tahun. Duduk di kelas satu SD, dia mulai belajar motor cross dari kakeknya, Andi Suryana, pembalap senior Tasikmalaya.

Olah raga lain seperti renang, badminton, hingga sepak bola juga dilakoninya. Tetapi, dunia balap sepeda motor menjadi jalan hidupnya.

Berbagai prestasi disabetnya seperti Juara Umum MP 5 dan MP 6 Kejurda Jabar.

Perjalanan berlanjut setelah Afridza Syach Munanandar dikontrakk tiga tahun oleh Sandi Agung Racing Tim Bandung, kemudian Astra Honda Racing Tim (ART) di Yogyakarta.

Bahkan, Afridza sempat meraih medali perak dalam PON Jabar 2016. Prestasi itu membawanya menapak di kejuaraan yang lebih tinggi tingkat Asia dalam Idemitsu Asia Talent Cup (ATC) 2018 dan 2019.

Berlaga dalam kejuaraa tersebut tak sembarangan lantaran mesti lolos terlebih dahulu dalam seleksi.‎ "Dari 120 pembalap diseleksi di Sepang dan Bali," ujar Irwan Munandar, ayah Afridza Syach Munanandar.

Sang pembalap masuk urutan 5 Besar pembalap terbaik se-Indonesia dan mewakili Indoensia dalam ajang ajang ATC.

Bakatnya yang besar membuatnya diproyeksikan berlaga di di Moto 3 Eropa. Kini, sang pembalap tersebut telah berpulang.

Akan tetapi, semangatnya tetap abadi dan menginspirasi generasi-generasi muda lainnya untuk mengharuskan nama bangsa.

"jenazah akan dimakamkan di makam keluarga di samping kakeknya di Sambongbencoy," ucapnya.***

Bagikan: