Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

1.200 Atlet Bersaing di UIN Sunan Gunung Djati Taekwondo Championship III

Arif Budi Kristanto
PESERTA bertarung pada kejuaraan nasional UIN Sunan Gunung Djati Taekwondo Championship III yang digelar di Kampus Universitas Islam Negeri Bandung, Jalan AH Nasution, Cibiru, Kota Bandung, mulai Jumat sampai Minggu 1-3 November 2019.*/ARIF BUDI KRISTANTO/PR
PESERTA bertarung pada kejuaraan nasional UIN Sunan Gunung Djati Taekwondo Championship III yang digelar di Kampus Universitas Islam Negeri Bandung, Jalan AH Nasution, Cibiru, Kota Bandung, mulai Jumat sampai Minggu 1-3 November 2019.*/ARIF BUDI KRISTANTO/PR

BANDUNG, (PR).- Sebanyak 1.200 atlet dari lima provinsi bersaing pada kejuaraan nasional UIN Sunan Gunung Djati Taekwondo Championship III yang digelar di Kampus Universitas Islam Negeri Bandung, Jalan A.H. Nasution, Cibiru, Kota Bandung, Jumat sampai Minggu, 1-3 November 2019. Hingga hari kedua kejuaraan, Sabtu, 2 November 2019, juara bertahan Tim Taekwondo Banyumas untuk sementara bersaing ketat dengan Tim Taekwondo Bandung Inten (TBI) dalam perebutan medali terbanyak.

Ketua Panitia Kejuaraan, M Ali Akbar mengatakan bahwa kejuaraan kali ini diikuti oleh para atlet asal Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Banten. Para atlet asal 83 unit latihan itu bertanding untuk 120 nomor pertandingan mulai dari kategori super cadet sampai senior.

"Kelas pertandingan ada untuk prestasi dan pemula. Nomor yang dipertandingkan seperti biasa kyorugi dan poomsae. Kejuaraan kali ini lebih kompetitif karena diikuti oleh lima provinsi dengan atlet-atlet potensialnya dan jumlah pesertanya juga jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya," ujar Ali.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Cabang Taekwondo Indonesia (TI) Kota Bandung Dedi Heryadi mengatakan, penggunaan perlengkapan elektronik protector scoring system (PSS) layaknya pada ajang PON dan Porda membuat kejuaraan ini dapat dijadikan parameter pengukuran prestasi hasil latihan dari setiap unit latihan, terutama di  Kota Bandung. 

"Seperti dua edisi sebelumnya, kejuaraan ini menjadi arena pencarian bibit atlet berprestasi yang bisa menjadi pelapis, bahkan tidak menutup kemungkinan menggantikan atlet senior. Penggunaan PSS pada kelas prestasi secara konsisten juga menunjang perkembangan kemampuan maupun prestasi atlet-atlet taekwondo Kota Bandung khususnya," kata Dedi.***

Bagikan: