Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Menuju SEA Games 2019, Indonesia Terkendala Masalah Akomodasi

Wina Setyawatie
SEJUMLAH pemain Timnas U-23 dan pemain Timnas senior Evan Dimas (tengah) mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019. Pada latihan untuk persiapan ajang SEA Games 2019 di Filipina itu pemain timnas senior Evan Dimas dan Hansamu Yama bergabung mengikuti latihan.*/ANTARA
SEJUMLAH pemain Timnas U-23 dan pemain Timnas senior Evan Dimas (tengah) mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019. Pada latihan untuk persiapan ajang SEA Games 2019 di Filipina itu pemain timnas senior Evan Dimas dan Hansamu Yama bergabung mengikuti latihan.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Jelang pelaksanaan SEA Games XXX pada 30 November-11 Desember 2019 ini, komandan kontingen terus memantau perkembangan pemusatan pelatas cabor yang akan diberangkatkan ke Filipina. Tidak ada kendala teknis terkait pelatnas, kendala hanya ada di faktor non teknis terkait akomodasi.

Mengingat pelaksanaan SEA Games kali ini tidak tersentral di satu tempat, namun tersebar di empat kluster yakni Clark, Metro Manila, Subic, dan Bulacan. Hal tersebut diungkapkan Komandan Kontingen (CdM) Indonesia Harry Warganegara di STC Senayan, saat menengok pelatnas basket 3X3 putra, Kamis, 31 Oktober 2019.

"Sebenarnya secara persiapan cabor sudah tidak ada kendala. Cabor sudah menerima bantuan pelatnas langsung dari Kemenpora 2-3 bulan lalu. Kalau melihat hampir setiap cabor yang masuk dalam anggaran SEA Games ini bisa melakukan "tryout" ke luar negeri, artinya dana pelatnas ini cukup atau bisa dibilang lebih dari cukup. Apalagi ada cabor yang tidak mengambil uang pelatnas, seperti PSSI. Mereka cukup mandiri dengan anggaran dari FIFA," katanya.

Tantangannya, justru dari faktor persiapan disana nanti, yakni masalah transportasi. Terutama untuk atlet dan kontingen yang bertanding di Clark dan Subic.

"Sebab di dua daerah itu tidak ada penerbangan langsung kesana, jadi harus tetap dari Manila. Saya lagi lihat opsi, kita sewa pesawat dari Manila atau pake jalur darat. Kendalanya, pada saat SEA Games menuju kedua daerah itu kalau lewat jalur darat bisa mencapai 8 jam. Kalau lewat udara hanya setengah jam. Jadi kami lagi membandingkan secara keuangan dan secara efektifitasnya. Kita pasti akan pilih yang paling efisien dan yang nyaman untuk atlet," ujarnya.

Bila naik pesawat memang lebih mahal, namun Harry menilai jika dari sisi waktu akan lebih menghemat banyak. Apalagi, menurut dia, jika esoknya langsung akan ada cabor yang bertanding. 
Untuk anggarannya, menurut dia, sudah diajukan dalam tambahan yang ajukan kepada Kemenpora. Tambahan yang diajukan oleh pihaknya adalah Rp 17 miliar, sementara anggaran yang disediakan oleh negara dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) hanya Rp 47 miliar.

"Jadi kami menunggu. Karena ini tinggal dari sisi persiapan. Kalau Kemenpora bisa menyebutkan angka yang mereka tambahkan berapa, saya akan langsung bisa membagi kepada oficial yang utama. Berapa pun anggaran yang ditambahkan pasti akan kami maksimalkan. Kami sudah berbicara kepada cabor, bahwa yang kami utamakan adalah atlet. Jadi untuk keberangkatan oficial tim kita akan tanggung bersama-sama dari sponsor, PB atau KOI," ujarnya.

Sekretaris Menpora Gatot S Dewa Broto mengatakan jika pihaknya terus ngebut untuk bisa menyelesaikan penggeseran dana dari pos-pos deputi. Hal itu dilakukan agar pada akhir bulan November ini, sudah keliatan berapa jumlah tambahan yang bisa diberikan untuk SEA Games 2019.

"Kami sedang melakukan revisi anggaran internal guna mencari dana-dana yang bisa digeser. Nanti revisi tersebut akan langsung dilaporkan kepada Kementerian Keuangan. Tenggat memang 31 Oktober ini, jumlah angkanya berapa yang akan diberikan," ucapnya menambahkan.***

Bagikan: