Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Umumnya cerah, 30 ° C

Tantangan dan Harapan Besar Tentang Sepak Bola Nasional untuk Menpora Baru

Wina Setyawatie
POLITISI Partai Golkar Zainudin Amali tiba di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019.*/ANTARA FOTO
POLITISI Partai Golkar Zainudin Amali tiba di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019.*/ANTARA FOTO

 

JAKARTA, (PR).- Ada tantangan dan harapan besar yang dipanggul oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Kabinet Kerja II Jokowi-Ma'ruf Amin, Zainudin Amali. Apalagi ada pesan khusus yang disematkan secara jelas oleh Presiden RI saat dirinya diperkenalkan ke Istana, Rabu, 23 Oktober 2019, yakni memperbaiki sepak bola nasional.

"Kemudian Bapak Zainuddin Amali, Menpora. Sepak bolanya Pak," kata Jokowi.

Mengomentari hal tersebut Zainudin yang ditemui media saat melengok ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengatakan, bahwa memang benar ada pesan khusus yang dititipkan kepadanya. Dengan menekankan pada bagaimana menata kembali pembinaan agar bisa berbuah prestasi hingga level senior.

"Pak presiden menyampaikan pesan bahwa olahraga yang jadi favorit tadi, sepakbola adalah olahraga internasional maupun masyarakat. Jadi beliau menekankan kepada saya bagaimana menata kembali pembinaan. Mengapa bisa bagus di usia dini, tapi begitu masuk senior selalu tak berprestasi. Apa yang salah?," tukasnya.

Terkait dengan percepatan pembangunan sepak bola nasional yang tertuang dalam Instruksi Presiden no.3 Tahun 2019, politisi Golkar ini mengaku telah berdiskusi lebih jauh dengan Presiden. Secara umum, menurutnya Presiden menaruh perhatian khusus bagaimana menghasilkan timnas yang bagus di regional dan internasional.

"Jadi sempat dibahas dan bahkan beliau (Presiden) sampai bilang, masa kita ada 260 juta jiwa menghasilkan Timnas yang bagus di regional dan internasional saja tidak bisa. Baru berbicara Asia Tenggara saja sudah susah, bisa kalah dengan negara yang baru tumbuh seperti Vietnam. Presiden minta untuk mencari masalahnya dimana. Beliau juga bicara soal teknologi olahraga bahwa dunia sudah andalankan itu, tak boleh lagi hanya andalkan bakat alam," ungkapnya.

Untuk mencari apa kendala yang dialami sepakbola Indonesia, dirinya mengaku akan berbicara dengan federasi olahraga cabang terkait (PSSI) guna mencari solusi bersamanya. Dia menilai induk cabor pasti lebih tahu kondisi yang terjadi.

"Posisi kami (pemerintah) tidak dalam kapasitas untuk mencampuri lebih jauh. Tapi lebih sebagai fasilitator dengan mengikuti regulasi yang ada. Jika ada regulasi yang tidak pas, akan kita bicarakan bersama dan revisi untuk membicarakan program untuk jangka panjang pendek dan menengahnya," ucap Zainudin.

Harapan untuk Zainudin bisa memperbaiki sepak bola Indonesia pun terlontar dari mulut pemain, pemain timnas, mantan pemain timnas, dan pelatih. Mereka menilai bahwa Zainudin harus bisa menerjemahkan Inpres terkait sepak bola dengan baik, membangun kerjasama yang baik sebagai mitra, hingga bisa bersama-sama menciptakan prestasi sepak bola Indonesia yang baik di level internasional.

Dari sisi pemain, dua punggawa Timnas U-22 Satria Tama dan Hanif Sjahbandi sangat berharap di kepemimpinan baru Menpora ini bisa memberikan banyak hal-hal positif untuk para pemain muda dalam bentuk apapun. Hingga dengan begitu bisa membawa sepak bola Indonesia lebih baik lagi.

"Harapannya yang terbaik untuk sepak bola nasional. Banyak hal-hal positif yang bisa dibagi agar pemain-pemain muda Indonesia punya masa depan lebih baik sebagai pemain. Masalah fasilitas lapangan sepakbola dan hal-hal teknis lainnya, saya tidak akan komentar. Karena mereka pasti sudah tahu tanggung jawabnya apa. Saya sebagai pemain bertanggungjawab dengan pekerjaan kita yakni memberikan kebanggaan dan prestasi untuk Indonesia," tutur Hanif.

Tama pun mengingatkan agar hal-hal yang tidak baik yang terjadi kemarin, bisa dijadikan pelajaran untuk membangun olahraga secara keseluruhan dan sepak bola khususnya agar lebih baik. "Saya harap tidak terulang lagi masalah yang terjadi kemarin-kemarin," imbuhnya.

Mantan pemain Timnas era 80-an, Bambang Nurdiansyah (Banur) mengatakan jika perlu kerjasama yang baik antara pemerintah dan PSSI sebagai federasi. Bukan dalam kapasitas ikut campur, tapi bersinergi tanpa adanya intervensi.

"Jadi harapannya, keduanya memiliki "road map" bagus terutama soal pembinaan. Agar lebih baik prestasinya tentu. Khususnya Timnas, suport dari pemerintah tanpa harus intervensi. Jadi partner yang baik dan saling suport. Ada kerjasama program-program yang sifatnya pembinaan. Sebab saat ini kalau PSSI masih kontrak kanan kiri, apalagi bicara soal ketesediaan lapangan latihan yang masih harus sewa artinya sinergitasnya belum berjalan mulus," pukasnya.

Senada dengan Banur, Pelatih PS Tira Kabo yang juga mantan pelatih Timnas U-23 Rahmad Darmawan kembali menegaskan jika Menpora baru harus benar-benar bisa menerjemahkan Inpres tentang percepatan prestasi sepak bola nasional. Dalam artian, harus ada sinergitas yang baik jika ingin bener-benar ada percepatan prestasi.

"Artinya sinergi antara Pemerintah dan Federasi sangat kita harapkan itu bisa terjadi dan kalau itu terjadi, saya rasa kita akan mempunyai kekuatan yang hebat di organisasi kita dan prestasi akan diraih. Dampaknya seperti itu. Selama ini kan kita lihatnya pemerintah punya program sendiri tentang sepakbola dan Federasi punya program sendiri. Sekarang harus sejalan, harus ada "good will" mengenai hal ini. Kemudian juga komunikasi harus lebih intens. Mungkin bisa dimediasi melalui KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), KOI (Komite Olimpiade Indonesia) yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah juga," tukasnya.

Harapan untuk bisa merealisasikan percepatan prestasi pun terlontar dari Pelatih Timnas U-19, Fakhri Husaini. Di periode kedua Jokowi, dirinya berharap Menpora baru bisa merealisasikan beberapa butir yang dibutuhkan secara urgensi oleh sepak bola Indonesia.

"Salah satu yang paling mendesak adalah soal sarana dan prasarana untuk Timnas. Sejauh ini Timnas belum punya training center. Kita tidak bisa berbicara usia muda saja. Mudah-mudahan Menpora baru bisa memberikan sinyal atau pesan kepada Pak Jokowi untuk bisa membangun satu kawasan, yang terintegrasi, di mana ada fasilitas yang bisa dipakai oleh Timnas dan PSSI untuk melakukan aktifitas. Kalau bicara kawasan ASEAN, kita mungkin yang paling miskin fasilitas sepak bolanya. Bahkan dibandingan Vietnam sekalipun," katanya.

Bila hal krusial itu belum bisa terpenuhi, maka menurutnya jangan bermimpi dahulu untuk bisa memenuhi visi dan misi tampil di Piala Dunia. Kalau alatnya untuk bisa mencapai kesana tidak ada, maka tidak akan bisa mencapai tujuan. "Analogi mau naik gunung tapi tidak persiapkan alatnya," ujarnya kemudian.***

Bagikan: