Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

Delapan Nama Ditetapkan sebagai Calon Sementara Ketua Umum PSSI

Wina Setyawatie
KETUA Komite Pemilihan Syarif Bastaman (kanan) didampingi Anggota Komite Pemilihan Irawadi Hanafie (kiri) saat menyampaikan keterangan pers di kantor PSSI, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019.*/ANTARA
KETUA Komite Pemilihan Syarif Bastaman (kanan) didampingi Anggota Komite Pemilihan Irawadi Hanafie (kiri) saat menyampaikan keterangan pers di kantor PSSI, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Delapan bakal calon Ketua Umum PSSI periode 2019-2023 melaju ke bursa pemilihan sebagai calon sementara. Kedelapannya dinilai Komite Pemilihan (KP) memenuhi persyaratan administrasi sebagai tahap pertama verifikasi.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Komite Pemilihan No.3/X/2019 tentang calon sementara. Sesuai yang diterangkan oleh Ketua KP Syarif Bastaman bersama tiga anggota KP lainnya dalam jumpa pers di Kantor PSSI, FX Sudirman, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019, dari hasil verifikasi yang dilakukan pihaknya terhadap 11 bakal calon Ketua Umum, ada delapan nama yang lolos sebagai calon sementara dan tiga nama dinyatakan tidak lolos verifikasi, namun boleh melakukan banding.

Kedelapan nama tersebut yakni Avent Hinelo, Benhard Limbong, Benny Erwin, Fary Djemy Francis, La Nyalla Mattalitti, Muhammad Iriawan, Rahim Soekasah. dan Vijaya Fitriyasa. Sementara tiga nama yang tidak diloloskan adalah Arief Putra Wicaksono, Sarman, dan Yesayas Oktavianus.

"Jadi Kami sudah bekerja sebulan penuh untuk menerima dan memverifikasi. Ini kami lakukan secara sungguh-sungguh, sebab bukan tugas yang mudah. Mengingat berkas yang kami terima tidak sedikit, awalnya 120 berkas. Kami bekerja seobjektif dan sesistematis mungkin untuk membawa PSSI ke jenjang berkelanjutan dan meningkat. Kami tidak ingin setiap kepengurusan PSSI kembali ke awal," kata Syarif.

Pihaknya menafsirkan bahwa kerja mereka merupakan aspek objektif, sementara untuk aspek subjektifnya ada di voter nanti dalam Kongres Pemilihan, 2 November 2019 di Jakarta. Syarat objektif melihat dari pemenuhan persyaratan yang berdasarkan statuta PSSI.

"Dari segala persyaratan yang ditetapkan, kami telah melakukan integrity cek ke Komisi Disiplin. Apakah para bakal calon tersebut telah melakukan sesuatu yang melanggar hukum di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Komisi Disiplin PSSI pun telah mengecek kepihak pengadilan negeri dan melihat apakah ada pelanggaran hukum yang pernah dilakukan. Hasilnya ada 5-6 calon sementara yang mendapatkan catatan terkait hal itu, tapi mereka tetap dianggap memenuhi persyaratan administrasi dan tidak menggugurkan pencalonannya," tuturnya.

Kebanyakan yang memiliki catatan adalah mereka yang pernah sidang atau sedang menjalani kasus hukum di pengadilan. Kebanyakan tercatat sebagai saksi pengadilan. Catatan tersebut akan KP umumkan kepada voter pada saat Kongres nanti.

Kemudian, mengingat ada banyak calon yang berasal dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dan legislatif, maka pihaknya akan meminta surat pernyataaan kepada para calon tersebut. Menyangkut masalah netralitas dan independensi yang merujuk pada Pasal 7 dalam statuta PSSI.

"Guna memenuhi unsur netralitas dan independensi, kami akan minta mereka buat surat yang isinya tidak akan buat atau menyatakan sikap politik selama di PSSI. Kami mengikuti standar FIFA. Karena mengingat banyak calon dari kalangan politik," ujar Syarif menambahkan.

Calon sementara lainnya

Selain kedelapan nama calon sementara Ketua Umum PSSI, KP juga mengumumkan daftar nama calon Wakil Ketua Umum (Waketum) yang lolos sementara. Dari 21 bakal calon Waketum, ada 13 nama yang lolos sebagai calon sementara. Mereka yakni Avent Hinelo, Benny Erwin, Cucu Soemantri, Djamal Azis, Doly Sinomba Siregar, Esti Puji Lestari, Hasnuryadi Sulaiman, Hinca Pandjaitan, Iwan Budianto, Jackson Kumaat, M. Kusnaeni, Tri Goestoro, Vijaya Fitriyasa.

Lalu, sisanya, enam nama dinyatakan KP tidak lolos dan tidak boleh banding. Mereka yakni Ahmad Riyadh, Augie Bunyamin, Budi Setiawan, Gusti Randa, Sali Akya, dan Wadi Ashari Siagian. Sementara dua nama lain yang tidak lolos, dinyatakan KP boleh mengajukan banding, yakni Doni Setiabudi dan Yesayas Oktavianus.

"Mereka yang tidak lolos dan tidak boleh banding karena dukungannya tidak terkonfirmasi. Dalam artian orang yang didukung tidak menyerahkan surat pernyataan kesediaannya dicalonkan. Jadi kami nilai pencalonannya tidak serius, buat apa dibanding lagi. Kemudian alasan kedua, karena ada surat keterangan dari pengadilan negeri bahwa orang tersebut pernah berstatus terpidana. Ketika, soal faktor usia. Karena ada bakal calon yang ternyata usianya masih dibawah batas minimum pencalonan yakni 30 tahun," kata Syarif menjelaskan.

Sementara untuk yang tidak lolos, tapi diperbolehkan banding, pada umumnya, menurut Syarif karena soal masa keaktifannya di PSSI. Dimana minimal harus 5 tahun berturut-turut atau tidak sebagai pengurus dari lembaga yang merupakan anggota PSSI.

"Mereka yang tidak lolos, tapi bisa banding ini biasanya hanya aktif di kegiatan PSSI yang bersifat insidential. Misalnya seperti panpel pertandingan internasional atau aktif di sepakbola tapi bukan bekerja pada lembaga di bawah PSSI/bukan anggota PSSI," tuturnya.

Untuk calon sementara Komite Eksekutif, tercatat dari 91 nama yang masuk sebagai bakal calon. Ada 70 nama yang telah lolos verifikasi KP. Sebanyak 20 nama dinyatakan tidak lolos dan tidak diizinkan banding. Hanya satu nama yang dinyatakan tidak lolos, tapi diperbolehkan banding.

Setelah menetapkan calon sementara untuk Ketua Umum, Waketum, dan Komite Eksekutif, menurut Syarif, tahan selanjutnya mereka yang tidak lolos dan diperbolehkan banding dipersilakan untuk mendaftarkan proses banding ke Komite Banding sebelum 16 Oktober 2019.

"Nanti setelah proses banding pada 16 Oktober, di 19 Oktober kami akan mengumumkan para calon tetap yang akan maju dalam Kongres Pemilihan. Mereka yang nanti ditetapkan sebagai calon tetap akan menjalani kampanye. Di masa kampanye nanti ada debat Ketua Umum untuk sementara. Sedangkan untuk debat Waketum, kami masih mencari bentuk formatnya," katanya.***

Bagikan: