Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Debit Air Anak Sungai Citarum Berkurang, Atlet Kesulitan Berlatih

Miradin Syahbana Rizky
TIM arung jeram Jabar tengah bertanding diKejurnas Arung Jeram R6 2018 di Sungai Ciwulan, Tasikmalaya, Sabtu, 15 Desember 2018 lalu.*/MIRADIN SYAHBANA RIZKY/PR
TIM arung jeram Jabar tengah bertanding diKejurnas Arung Jeram R6 2018 di Sungai Ciwulan, Tasikmalaya, Sabtu, 15 Desember 2018 lalu.*/MIRADIN SYAHBANA RIZKY/PR

BANDUNG, (PR).- Musim kemarau berkepanjangan, serta rusaknya pegunungan di sekitar Bandung Raya membuat atlet arung jeram kesulitan berlatih akibat turunnya debit air di beberapa anak Sungai Citarum. Ketua Harian Pengcab Federasi Arung Jeram Indonesia  (FAJI) Kabupaten Bandung  Boyke Maruli Simatupang mengatakan bahwa hampir dua bulan terakhir ini atlet arung jeram Kabupaten Bandung kesulitan berlatih di beberapa anak Sungai Citarum.

"Sekarang sungai gampang surut. Mungkin karena kerusakan alamnya yang sudah parah. Debit air sekarang sangat turun drastis. Kita bahkan sampai bisa jalan di tengah sungai. Sudah dua bulan kita kesulitan untuk berlatih di sungai," ucap Boyke yang ditemui di KONI Jabar, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu, 9 Oktober 2019.

Boyke mencontohkan beberapa Sungai di Kabupaten Bandung seperti Sungai Ciwidey, Sungai Cisangkuy dan Sungai Palayangan di Pangalengan. Bahkan, Sungai Cisangkuy yang memiliki arus jeram hingga grade 3 sudah tidak deras lagi.

"Grade 3 itu sudah masuk sebagai sungai dengan kategori yang bisa dipertandingkan hingga tingkat Nasional seperti Kejurnas. Tapi sekarang bukan arung jeram tapi arung batu," tuturnya.

Dia menambahkan, saat ini banyak program pemerintah yang kurang tepat dalam hal pelestarian lingkungan. Menurut dia, program Citarum Harum hanya memfokuskan pada hulu Sungai Citarum di Situ Cisanti. Padahal, banyak titik anak sungai Citarum yang kondisinya juga mengalami kerusakan.

"Seperti misalnya Gunung Patuha dan Gunung Puntang, Gunung Tilu yang kondisinya sudah rusak. Sungai dari gunung-gunung tersebut juga bermuara ke Sungai Citarum, tapi kurang mendapatkan perhatian," tuturnya.

Oleh karena itu, Boyke mengajak semua pihak untuk melakukan reboisasi pada gunung-gunung tersebut. Selain itu, diperlukan juga pembuatan bendungan atau dam.

"Dam atau bendungan tidak hanya di hilir Sungai Citarum, tapi bisa ke daerah tengah sungai, supaya air dari atas tidak hanya lewat saja dan kemudian surut," katanya.

Hal senada dikatakan Ketua Umum FAJI Jabar M Syaiful Bima. Menurut Bima, pihaknya sangat prihatin dengan kerusakan alam yang semakin berdampak kepada olahraga alam seperti arung jeram.

"Arung jeram ini sangat ditentukan oleh faktor alam. Jadi kita tentunya tak hanya berbicara soal olahraga saja tapi FAJI akan menyentuh soal konservasi alam serta dunia pariwisata," ujarnya.

Untuk meningkatkan kembali debit air, Bima sepakat pemerintah harus segera melakukan reboisasi di sekitar bantaran sungai. Bahkan, FAJI siap membantu dinas terkait seperti dinas kehutanan untuk menyukseskan program konservasi hutan.

"Kami siap membantu pemerintah dengan melakukan pendataan kerusakan di anak-anak sungai se-Jabar Barat. Selain itu kita juga akan bantu untuk memonitor nya, " tuturnya.***

Bagikan: