Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 19.8 ° C

Tanggapan Pegiat Bulutangkis Jawa Barat Terhadap Penghentian Audisi PB Djarum

Arif Budi Kristanto
JUARA All England 2019, ganda putra Hendra Setiawan-Mohamad Ahsan, menerima penghargaan berupa bonus uang dari klubnya masing-masing PB Djarum dan PB Jaya Raya, plus voucher dari tiket.com dengan total senilai Rp 450 juta. Penghargaan ini diberikan oleh kedua klub di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Rabu, 20 Maret 2019.*/DOK HUMAS PBSI
JUARA All England 2019, ganda putra Hendra Setiawan-Mohamad Ahsan, menerima penghargaan berupa bonus uang dari klubnya masing-masing PB Djarum dan PB Jaya Raya, plus voucher dari tiket.com dengan total senilai Rp 450 juta. Penghargaan ini diberikan oleh kedua klub di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Rabu, 20 Maret 2019.*/DOK HUMAS PBSI

BANDUNG, (PR).- Polemik penghentian audisi beasiswa bulu tangkis PB Djarum setelah Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) menilai ajang tersebut memanfaatkan anak-anak untuk mempromosikan merek Djarum yang identik dengan produk rokok, menuai keprihatinan dunia kalangan bulu tangkis Jawa Barat. Diskusi dengan melibatkan pemerintah perlu dilakukan agar berujung solusi, tanpa perlu menghentikan audisi beasiswa bulu tangkis yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut.

"PBSI Jawa Barat merasa prihatin dengan adanya polemik Audisi PB Djarum dengan KPAI. Sebaiknya KPAI jangan asal menuduh tanpa melihat efeknya," kata Sekretaris Umum Pengurus Provinsi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia Jawa Barat Herman Subarjah di Bandung, Selasa, 10 September 2019.

Menurut Herman, alangkah baiknya apabila polemik ini dipecahkan dengan kembali duduk bersama antara para pihak terkait dan ditengahi oleh pemerintah.

"Sebaiknya duduk bersama, barangkali difasilitasi Menpora sehingga bisa mendapatkan solusi yang baik untuk kepentingan pertumbuhan dan perkembangan pencapaian prrestasi bulu tangkis Indonesia," kata Herman.

Keprihatinan juga diungkapkan oleh PB Mutiara Cardinal Bandung, salah satu klub elite Jawa Barat yang juga konsisten melakukan pembinaan atlet bulu tangkis sejak usia dini melalui gerbang audisi perekrutan atlet.

"Pertama tentunya saya sangat prihatin dengan polemik ini. Saat ini, jujur Djarum adalah klub yang sangat diminati oleh para pemain usia muda, kalau audisi ini sampai terhenti, mimpi  mereka untuk bisa tergabung ke klub besar seperti PB Djarum seolah-olah terampas," kata Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PB Mutiara Cardinal Bandung Umar Djaidi.

Menurut Umar, mekanisme audisi yang dilakukan PB Djarum dari tahun ke tahun sudah baik untuk menyeleksi bibit pemain muda. Apabila sistem pencarian bakat melalui audisi tersebut terputus, pembinaan bulu tangkis nasional berpotensi terhambat.

"Dalam pembinaan itu  itu ada prinsip, input ditambah proses sama dengan output. Kalau output-nya adalah prestasi, maka input-nya adalah perekrutan atlet. Sehebat apapun proses kalau input-nya tidak bagus maka sulit untuk jadi prestasi. Kalau Djarum sampai menghentikan audisi, benar-benar memprihatinkan, karena terasa efeknya untuk dunia bulu tangkis kita itu nanti, bukan sekarang," ujar Umar.

Win win solution

Tidak bisa dimungkiri, PB Djarum memang masih berafiliasi dengan perusahaan rokok Djarum. Ituu yang bikin KPAI menilai audisi Djarum sebagai ajang eksploitasi anak utnuk mempromosikan merek Djarum.

Namun terlepas dari polemik yang belakangan bergulir menuai pro kontra, kata Umar, eksistensi PB Djarum selama 50 tahun ini sudah sangat mewarnai dunia perbulutangkisan Indonesia, bahkan dunia. Apalagi, sangat banyak atlet berprestasi jebolan hasil audisi dan pembinaan PB Djarum yang mengharumkan nama Indonesia di level nasional bahkan dunia.

"Saya prihatin, bukannya diapresiasi, PB Djarum saat ini malah sedang menghadapi polemik seperti ini. Sebagai PB yang sama-sama membina pemain muda, saya berharap polemik ini bisa cepat berakhir dengan adanya win win solution," kata Umar.

Menurut Umar, KPAI juga perlu menghormati nilai-nilai histori nama PB Djarum dengan segala sumbangsihnya terhadap prestasi bulu tangkis Indonesia.   

"Nilai-nilai histori PB Djarum itu kan sudah sejak 1969. Di sisi lain mungkin KPAI punya cara tersendiri untuk mengkampanyekan antimerokok khususnya di kalangan anak-anak," ujar Umar.***

Bagikan: