Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.2 ° C

Djarum Hentikan Audisi, Pencarian Bibit Bulutangkis Terganggu

Eviyanti
SUASANA audisi beasiswa bulutangkis di di GOR Satria Purwokerto, Selasa 10 September 2019.*/EVIYANTI/PR
SUASANA audisi beasiswa bulutangkis di di GOR Satria Purwokerto, Selasa 10 September 2019.*/EVIYANTI/PR

PURWOKERTO, (PR).- Mustahil pembinaan altet bulutangkis  tanpa campur tangan swasta. Selama ini kemampuan anggaran pemerintah untuk pembinaan atlet  hanya 15 persen dari total anggaran per tahun, sisanya ditanggung swasta.

Hal tersebut disampaikan  Sekretaris Jendral (Sekjen) Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), Achmad Budharto. Dia menambahkan, kebutuhan PBSI untuk pembinaan  altet  mencapai Rp 100 miliar per tahun, 

"Sementara  pemerintah hanya mampu menyokong 15 persen dari kebutuhan per tahun. Tahun ini PBSI memang mendapat tambahan Rp 14 miliar untuk kegiatan pelatnas karena ada SEA Game," kata  Budharto usai penutupan Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 di GOR Satria Purwokerto, Selasa 10 September 2019.

Dia mencontohkan  untuk harga shuttlecock merek Yonex  mencapai Rp 430 ribu padahal kebutuhan seorang pemain utama untuk latihan minimal 8 buah shuttlecock per hari. Selain itu, kebutuhan biaya satu kompetisi di luar negeri  berkisar antara  Rp 1,5 hingga Rp 2 miliar.

"Anggaran tersebut hanya untuk kebutuhan akomodasi, tiket pesawat hotel makan,   karena biaya hidup di luar negeri mahal. Jadi tanpa campur tangan swasta pembinaan bulutangkis di Indonesia sangat mustahil.  Mungkin pemerintah mampu tapi 10 atau 20 tahun mendatang." tandasnya.

Sehingga dia sangat khawatir terhadap pembinaan atlet bulutangkis pascamundurnya PB Djarum dari penyelanggaraan pencarian bakat  bulutangkis yang membawa emas pada kejuaran bergengsi di Olimpiade. Adalah sejarah kurang baik  jika PB Dharum menyatakan 2020 menghentikan audisi umum. 

Gangguan

Djarum Foundation untuk audisi dan pembinaan atlet bulutangkis di Indonesia sangat besar. Pasalnya untuk pembinaan hingga sejauh ini tidak ada peran dari pemerintah.

"Swasta yang begitu konsen terhadap pengembangan bulutangkis, sekarang  kelihatannya mendapatkan gangguan seperti itu. Kami PBSI sangat menyayangkan sampai sekarang kita belum ada rencana ke depan," tambahnya.

Diakui dukungan dari masyarakat terhadap persoalan ini sangat tinggi, diharapkan hal tersebut mampu mengubah keputusan dari pihak menejemen PB Djarum.

Sebenarnya pihak  Djarum terbuka dalam persoalan ini. Akan tetapi jika pihak KPAI  masih berpendapat bahwa audisi adalah untuk tujuan eksploatasi anak, maka akan mengganggu pembinaan atlet bulutangkis ke depan,

"Karena kami yakin PB Djarum  tidak mau kehilangan namanya. Selama 50 tahun Djarum sudah jelas memberikan kontribusi kepada nedara dan bangsa," tambahnya.

Murni rekrutmen

Perbedaan  persepsi antara Djarum dengan KPAI dan beberapa departeman lainnya menganggap bahwa audisi merupakan  promosi   rokok, padahal dari kacamata PBSI audisi adalah murni rekrutmen pemain.

"Di Purwokerto ada 900 lebih anak-anak yang ikut audisi. Karerna mereka menilai bahwa  Djarum punya nama besar, punya raputasi dan history sebagai tempat acuan mereka akan bernaung," tambahnya

Audisi memberikan multy efek player yang lain tidak hanya sekadar pencarian bibit unggul  secara nasional. Dengan dihentikannya pencarian bakat kehidupan perputaran bulu tangkis di daerah ini akan hilang jika tidak dilakukan secara terbuka seperti ini. Jika pencarian bakat melalui audisi dihentikan maka regenerasi tidak berjalan  efektif.

Dalam kesempatan tersebut PBSI sangat menghargai sikap Pemda Banyumas yang berani memberikan izin untuk penyelenggaraan audisi di tengah  polemik yang ada.  Sikap Pemda Banyumas patut menjadi contoh daerah lain yang  tidak perlu ada keraguan atau ketakutan karena  misi olah raga.***
 

Bagikan: