Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Teknologi VAR Belum Bisa Diterapkan di Liga Indonesia

Wina Setyawatie
FOTO ilustrasi penggunaan VAR.*/THEGUARDIAN
FOTO ilustrasi penggunaan VAR.*/THEGUARDIAN

JAKARTA, (PR).- Penggunaan teknologi video assistant referee (VAR) yang sempat menjadi wacana akan digunakan di putaran kedua Shopee Liga 1 2019, masih terus dikaji oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi. Hingga besar kemungkinan belum akan diuji coba di paruh waktu kedua nanti.

"Dari pihak PSSI dan LIB sudah memantau beberapa negara yang menggunakan teknologi VAR ini. Ternyata banyak hal yang harus dipersiapkan. Kalau hanya peralatan tinggal beli, tapi sumber daya manusia yang mengelolanya ini masalahnya. Bukan tidak bisa, tapi ternyata semua harus terlisensi terlebih dahulu. Proses itu yang harus dibangun. Kemudian, apakah penggunaannya nanti serentak di seluruh pertandingan atau di beberapa pertandingan dulu, masih butuh kajian mendalam," ungkap Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (interm) Dirk Soplanit usai rapat evaluasi pertengahan musim dengan klub-klub Liga 1 di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis 5 September 2019.

Menurutnya untuk bisa mendapatkan lisensi untuk wasit pun, Indonesia harus punya minimal 20 wasit yang memiliki lisensi FIFA. Baru bisa menjalankan proses tersebut.

Hal tersebut diperkuat oleh Manajer Kompetisi LIB Asep Saputra yang mengatakan bahwa ternyata untuk bisa menerapkan teknologi VAR, butuh delapan tahapan terlebih dahulu sebelum bisa mendapatkan lisensi tersebut. Itu pun sepenuhnya di kontrol IFA.

"PSSI sudah berkomunikasi dengan mereka (IFA) dan bulan depan akan bertemu untuk membicarakan timelinenya. Karena ini berbicara di luar teknologi. Teknologi sudah banyak vendornya, tapi sebelumnya harus bicara SDM-nya dulu. Dari 8 tahapan itu, setelah tahapan kelima baru kita bisa melakukan uji coba. Di Thailand belum sampai kesana, makanya penggunaan VAR di stop dulu di kompetisinya. Itu ranahnya tapi di Komite Wasit PSSI," tukasnya.

Sebelumnya Liga 1 sebagai kompetisi profesional dibandingkan-bandingkan dengan Bandung Premier League. Menurut Asep, untuk pertandingan amatir tidak masalah mau menggunakan VAR-VARan, dengan alat yang dimiliki saat ini bisa.

"Hanya saja, dalam pertandingan profesional sudah jelas tertulis dalam "law of the game"-nya. Bahwa untuk top league tidak boleh asal-asalan, harus "full implemented". Itu tantangannya," pukasnya.

Berbicara biaya, pihaknya mengaku belum bisa mendapatkan angka pasti. Tapi dari obrolan pihaknya dengan federasi Uni Emirate Arab, untuk atu pertandingan saja biayanya sekitar 3500 US dolar atau sekitar Rp 45 juta. Itu baru operasionalnya, dan belum termasuk yang lain-lain.***

Bagikan: