Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

GF Team Indonesia Dominasi Submission Grappler Challenge 2019

Arif Budi Kristanto
Grappling Fight (GF) Team Indonesia mendominasi ajang Super Grappler Challenge (SGC) 2019 Sumbission Challenge yang rampung digelar di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Sabtu, 24 Agustus 2019 malam. Dari tujuh divisi pertandingan ajang gulat bebas itu, GF Team Indonesia berhasil menyabet empat gelar juara.*/ARIF BUDI KRISTANTO/PR
Grappling Fight (GF) Team Indonesia mendominasi ajang Super Grappler Challenge (SGC) 2019 Sumbission Challenge yang rampung digelar di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Sabtu, 24 Agustus 2019 malam. Dari tujuh divisi pertandingan ajang gulat bebas itu, GF Team Indonesia berhasil menyabet empat gelar juara.*/ARIF BUDI KRISTANTO/PR

BANDUNG, (PR).- Grappling Fight (GF) Team Indonesia mendominasi ajang Super Grappler Challenge (SGC) 2019 Sumbission Challenge yang rampung digelar di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Sabtu, 24 Agustus 2019 malam. Dari tujuh divisi pertandingan ajang gulat bebas itu, GF Team Indonesia berhasil menyabet empat gelar juara berkat ketangguhan para pegulatnya.

Pegulat asal Liberia Jerome S. Paye meraih medali emas untuk GF Team Indonesia pada divisi 55-65 kg. Jerome memastkan gelar setelah gerakan-gerakan kunciannya tidak bisa dibendung oleh lawan di final, Agus Triadi dari klub Core MMA Purwokerto.

Peringkat ketiga divisi ini ditempati oleh Dimas Wiradinata yang merupakan kompatriot Jeroma di GF Team Indonesia.

Medali emas GF Team Indonesia juga diraih dari kelas 66-76 kg, melalui Verontino FG. Verontino mengalahkan Leonard Thajeb (posisi dua), sementara Suga Basrin yang juga memperkuat GF Team Indonesia meraih posisi ketiga. Pada kelas lebih 88 kg, GF Team Indonesia  memborong ketiga medali melalui,  Stephanus Iwan Winarto (emas), Albert Lin (perak), dan Jeffry Aldilla (perunggu).

Verontino juga menyabet medali emas pamungkas dari divisi absolut setelah menundukkan Stephanus Ivan pada pertandingan babak final. 

Sementara itu, tiga gelar juara lainnya terdistribusi merata pada klub berbeda. Alfonsus Michael asal tim GF Bandung mengunci medali emas divisi 77-87 kg setelah mengalahkan Edward C. dari Synergy Warrior HQ. 

Pada divisi under 54 kg, Refian Fajarsayah asal klub Synergi Han menjadi yang terbaik setelah mengalahkan utusan Jogja Jujitsu Academy Dwi Priyanto.

Untuk divisi putri, gelar juara diraih oleh perwakilan De Been 100% Jiujitsu Desyana Gemina Maharani yang mengalahkan utusan Rebel Gym, Angela Surya pada babak final. Peringkat ketiga putri diraih Jessica A. Girlani dari GF Team Indonesia.

Senior Brand Activation Blibli.com Ade Chandra mengatakan, Super Grappler Challenge di Bandung adalah edisi ketiga pada 2019 ini. Sebelumnya SGC sudah digelar di Yogyakarta dan Surabaya. "Nanti terakhir di Jakarta sekaligus ada Super Grapller Champion," ujarnya.

Grappling atau lebih populer dengan submission wrestling atau combat grappling merupakan aspek bela diri atau jenis olah raga gulat yang secara garis besar lebih menekankan pada pertarungan dan pergumulan di tanah (ground work & ground fighting) dengan tujuan menundukkan lawan duel melalui teknik-teknik submission holds (gulat pelumpuhan) berupa kuncian maupun cekikan. Olah raga ini tidak mengandalkan pukulan, tendangan, atau sikutan.

Ade mengatakan, animo masyarakat terhadap ajang yang digelar sejak 2006 ini terus meningkat setiap tahunnya. "Di Bandung ini diikuti 90-an peserta dari 15 dojo. Kalau total peserta, ditambah kota-kota lain, bisa sampai 500-an, namun belum internasional, masih untuk dojo-dojo. Turnamen ini digelar di empat kota, nanti semua yang terbaik berkompetisi di Jakarta," kata Ade.

Menurut dia, edisi di Bandung digelar berbeda melalui pertandingan di luar ruangan. Ratusan pengunjung Ciwalk pun antusias menonton pertarungan gulat Super Grappler Challenge 2019 itu.

"Sebelumnya digelar indoor, nah di Bandung outdoor. Jadi lebih seru, apalagi digelar di mal, banyak orang bisa menonton. Orang jadi tahu kalau olah raga ini meningkatkan sportivitas, lebih mengutamakan kuncian, bukan kekerasan. kami menggelar even ini, salah satu tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai olah raga grappler yang saat ini sudah semakin populer," ujarnya.***

Bagikan: