Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Keputusan PON 2020 Papua di Tangan Jokowi

Wina Setyawatie
PRESIDEN Joko Widodo.*/ANTARA
PRESIDEN Joko Widodo.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Pertemuan antara Gubernur Papua sebagai Ketua Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) XX/2020 dengan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas di Istana, Senin, 26 Agustus 2019 mendatang akan jadi penentu jalannya pelaksanaan multieven olahraga nasional tersebut. PB PON akan menyerahkan seluruhnya kepada pemerintah pusat terkait keputusan PON tetap berjalan dengan jadwal semua 20 Oktober hingga 2 November 2020, atau ditunda.

"Tentu ini dinamika di lapangan. Berkaitan dengan kesiapan, dari sisi pemerintah (daerah) dan masyarakat. Jangan sampai di tingkat pemerintah siap, tapi di masyarakatnya belum siap. Ini yang harus kita tata semua. Sehingga pilihan-pilihan itu selalu ada. Apakah pilihannya nanti bersifat  realistis, ideal atau yang bersifat moderat. Untuk hal ini, tentu Bapak Gubernur akan selalu komunikasi dengan pemerintah pusat dalam hal ini Presiden," kata Plt Kadisorda Papua Alexander K.Y Kapisa usai rapat persiapan pelaksanaan PON dengan cabor-cabor di Kemenpora, Kamis, 22 Agustus 2019.

Sebelum pihaknya menerima kepastian pelaksanaan PON, dari sisi PB PON, Alex mengaku akan tetap menjalankan PON ini sesuai dengan jadwal awal. Pihaknya mengaku akan mematangkan segala halnya dalam Rapat Koordinasi setingkat menteri yang akan dipimpin Menko PMK (Pembangunan Manuasia dan Kebudayaan), sebelum nantinya dibawa ke Rapat Terbatas di Istana.

Waktu saat ini menjadi tantangan untuk Papua, karena hingga setahun jelang pelaksanaan dari 56 venue baru 8 venue yang baru selesai. Khusus untuk PON, pihaknya mengaku jika melakukan pendekatan dengan berbasis pembangunan. Ada lima kluster Jayapura, Mimika, Biak, Jayawijaya, Marauke dan tiga Kabupaten penyanggah Yapen, Supiori, serta Keerom.

"Saat ini yang jadi konsentrasi pembiayaan kami fokus pada penyiapan venue. Waktu dan geografis jadi tantangan utama kami. Kita tahu kondisi Papua tak sama dengan daerah lain seperti Jawa atau Sulawesi. Karena semuanya harus kita datangkan dari luar pulau Jawa. Misalnya untuk pembangunan Stadion Papua Bangkit, hampir semua material terutama dalam konteks "finishing" semua kita datangkan dari luar bahkan luar negeri," ujarnya.***

Bagikan: